The Big Boss

The Big Boss
Lima



5


Anastasia kini kembali ke mansion nya untuk bertemu dengan Dave. Dia menunggu di mansion nya. Sedang menikmati beer. Mungkin Anastasia balas dendam karena tadi dia tak sempat minum. Tentu itu mengesalkan karena hampir setiap hari dia meneguk minuman tak berfaedah itu.


Setelah cukup lama menunggu, Dave datang dengan langkah cepat. Tak sabar mendengar berita terbaru tentang Zico, musuh bebuyutannya.


"Selamat malam Anastasia." Dave menyapa dengan maksud lain.


"Tak perlu basa-basi, bodoh. Aku perlu tahu informasi yang lebih lengkap tentang Zico. Kau bisa cerita kan semuanya sekarang juga." Ambisius Anastasia.


"Tentu. Zico adalah baj*ngan. Dia merebut pacarku dan mempermainkannya. Kami juga bersaing di pasar, perusahaan kami bersaing. Aku ingin menjatuhkannya sebagai balas dendam ku. Buat dia lebih menderita. Zico yang aku tahu dia tinggal sendiri di mansion nya. Keluarganya berada di mansion yang berbeda. Dia punya kakak laki-laki. Kakaknya juga mengelola perusahaan keluarga.


Kakaknya sudah menikah dengan seorang wanita karir. Mereka menikah atas bisnis saja. Aku kenal perusahaan nya. Orang tua Zico sekarang berada di Eropa. Zico memiliki tangan kanan. Hanya saja aku tak pasti mengenai hal itu." Dave menjelaskan dengan pasti dan lantang.


"Ah tentu saja, sasaran empuk adalah kakak iparnya. Berikan alamat mengenai perusahaan mereka. Anak buah ku akan mencari tahu tentang mereka." Anastasia begitu percaya diri. Dia meminum lagi beer dengan gelas kecil.


"Tentu, kau bisa menyingkirkan secara perlahan. Terserah kau ingin siapa. Yang terpenting kau bisa melakukan apa yang aku inginkan." Dave berdiri dari duduknya hendak pulang.


"Tak perlu khawatir kawan."


...


Anastasia pulang di apartemennya lagi. Dia akan mengerjakan file yang membuatnya terkena sial ini.


"Ah pria sialan itu berani sekali denganku." Anastasia bergumam karena mengingat kejadian di ruang kerja Zico tadi. First kiss nya di curi oleh target nya sendiri. Walaupun Anastasia sering nekad melakukan apapun dia selalu berhati-hati.


Tujuannya hanyalah tidak gagal. Selama menjalankan tugas, Anastasia tidak pernah bersikap murahan. Apalagi bersikap seperti ****** murahan.


"Uh aku harus selesai juga malam ini." Anastasia menyelesaikannya dengan terlalu sering mengeluh kecapekan dan marah pada Zico.


Dia tidak tidur semalaman karena harus mengerjakan file yang harus di laporkan besok siang. Anastasia memang profesional. Dia melakukannya tanpa celah.


Anastasia hanya tidur 2 jam malam itu. Pagi tiba dengan begitu cepat. Dia bangun dengan wajah yang khas. Rambut berantakan.


Pagi itu Anastasia bangun karena ada seseorang yang menekan tombol bell. Kalau tamu itu tidak membangunkan Anastasia, mungkin Anastasia masih tidur. Anastasia langsung membuka pintu tanpa peduli tentang penampilan nya.


"Yah siapa di sana?"


"Selamat Pagi Anastasia."


"Bos? Kenapa Anda bisa ke sini?" Ternyata yang datang adalah Zico.


"Astaga ada apa denganmu? Kau tidak mau minta maaf tentang kejadian semalam? Dan apa apaan penampilan mu itu?"


Anastasia sadar dan langsung menutup pintu. Namun kaki Zico menahannya. Zico mendorong pintu itu dan terbuka lebar.


"Apa mau mu? Aku akan berangkat sebentar lagi. Kau bisa menunggu di kantor."


"Aku akan menunggu mu disini. Dan kau harus minta maaf tentang kejadian semalam."


"Apa? Kau yang seharusnya minta maaf. Kau yang mulai lebih dulu."


Selesai bicara, bibir Zico mengecup singkat bibir Anastasia.


"Apa yang kau lakukan ini? Kau pikir kau siapa?" Anastasia mulai marah. Amarahnya tidak bisa di bendung lagi.


"Aku bos mu. Dan suatu hari nanti, kau akan menjadi milik ku." Zico mendekatkan wajahnya lagi ke Anastasia.


"Aku adalah bos!" Oh astaga Anastasia hampir ketahuan. Zico hanya tersenyum melihat perilaku Anastasia walau bisa saja Zico menganggap ini serius karena wajah Anastasia begitu marah.


"Ah maksudku. Aku bukan milik siapapun dan kau jangan berani macam-macam denganku." Anastasia sedikit gugup. Tidak biasanya Anastasia gugup seperti ini karena dia adalah wanita yang sangat percaya diri.


Semakin lama Zico hanya menatap Anastasia dengan senyumnya. Lalu, Anastasia berlalu untuk bersiap diri pergi bekerja.


Anastasia masuk ke ruangan CEO dengan membawa beberapa folder yang berisi file yang dia kerjakan semalam itu. Cukup kejam juga Zico memberikan tugas langsung banyak begini kepada sekertaris barunya.


"Ini file yang sudah saya kerjakan, Pak. Saya akan menyiapkan meeting untuk siang ini. Permisi." Hendak Anastasia berlalu, Zico memanggilnya.


"Anastasia tunggu dulu. Meeting di undur nanti sore. Dan kau, kau siakan restoran untuk makan siang." Sebenarnya, meeting itu memang sore.


"Baik Pak." Anastasia menurut dan segera pergi dari sana.


Jam makan siang tiba. Anastasia selalu di samping Zico. Tentu karena dia adalah sekertaris nya. Zico diantar dengan mobil ditemani Anastasia tetapi seorang supir yang menyetir.


Mereka sampai dia sebuah restoran. Restoran cukup mewah. Anastasia sudah memesan meja untuk Zico. Zico duduk.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Anastasia hendak berlalu.


"Tunggu dulu." Cegah Zico.


"Ada perlu yang lain, Pak?"


"Temani aku makan siang."


"Tidak perlu, Pak. Maaf saya masih ada urusan sebentar. Saya akan kembali setelah Anda selesai makan."


"Jaga kesehatan mu Anastasia. Kau butuh makan. Memangnya kau mau kemana?"


"Tentu saya akan jaga kesehatan. Tapi, maaf saya harus segera pergi. Ada urusan pribadi yang harus saya tangani." Anastasia berlalu walaupun Zico berusaha mencegahnya.


Namun, karena Anastasia yang tampak mencurigakan baginya, akhirnya Zico bersama supirnya mengikuti kemana perginya Anastasia.


Anastasia awalnya naik taksi. Lalu turun tak jauh dari tempat berangkatnya tadi. Di Sana sudah ada satu mobil yang sepertinya memang menunggu Anastasia. Zico masih membuntuti Anastasia.


Anastasia masuk ke dalam mobil itu dan mobil itu segera berlalu. Zico masih membuntuti. Setelah perjalanan tak lama, mobil Anastasia berhenti di sebuah gedung perusahaan.


"Mark, mobil Zico dari tadi mengikuti kita. Tetap dalam mobil, kita cancel rencana ini. Tapi, tetap pantau perusahaan ini dan terutama pemiliknya." Ucap Anastasia memimpin.


Anastasia kemudian keluar dari mobil. Zico masih bisa melihat Anastasia yang ternyata berjalan ke arah mobilnya.


"Kenapa Anda mengikuti saya?" Tanya Anastasia dari luar jendela. Anastasia lalu masuk ke dalam mobil itu bersama Zico. Mereka kembali lagi ke restoran yang tadi.


"Jadi, kenapa kau tiba-tiba pergi ke sana? Kau ada perlu apa?" Zico menginterogasi Anastasia.


"Saya sedang ada urusan pribadi dengan teman saya yang berkerja di sana. Lalu kenapa anda mengikuti saya?"


"Karena itu perusahaan milik kakak ipar ku dan mungkin aku masih ada kaitannya. Dan siapa laki-laki yang menjemputmu tadi?"


"Anda tidak perlu tahu. Silahkan makan makanan Anda dan segera kita kembali ke kantor." Anastasia masih berusaha untuk menutupi dan bersikap seolah pegawai profesional.


"Ah tidak. Itu urusanku juga. Apa dia pacarmu?" Pertanyaan konyol yang pernah diterima oleh Anastasia.


Pertanyaan itu mendapat penghargaan karena menjadi pertanyaan paling konyol seumur hidup Anastasia. Mungkin supaya Zico diam, Anastasia terus menambah kebohongan walau kebohongan lainnya masuk dalam rencana.


"Iya, dia pacar saya. Jadi, bisakah Anda tidak terus bertanya?" Jawab Anastasia dengan nada menahan marah.


Akhirnya pun, Zico diam tidak bertanya tentang utusan pribadi Anastasia.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!