
37
Warning! 18 adult! Harap bijak!
Billy sudah tepat di depanku. Aku begitu gugup dan takut. Aku takut hal yang tidak aku inginkan terjadi. Terlebih kami hanya berdua disini.
Tiba-tiba Billy tanpa peduli apapun, dia mengecup bibirku. Melumatnya dengan susah payah karena aku tidak membiarkan mulutku terbuka begitu saja.
"Leemmppashhkan!"
Aku berusaha melawannya. Aku selalu ingat bahwa aku sudah memiliki seorang kekasih disana. Aku tidak ingin melakukan ini selain dengannya.
Namun, tangan Billy tidak tinggal diam. Dia menekan tekukku dan memperdalam ciumannya. Dia memaksa untuk membuka mulutku juga. Alhasil mulutku terbuka dan membiarkan dia melumatnya.
Tidak tinggal diam disana, tangan Billy masuk ke dalam baju yang aku kenakan. Dia meremas payudaraku yang masih terbungkus bra.
Aku mengerang karena ciumannya. Ciuman itu berpindah ke leherku. Dia menggigitnya hingga membuatku kesakitan dan mendesah keras.
"Agh! Hentikan, kumohon."
"Tidak akan, aku menginginkan tubuhmu malam ini."
Dia membuka bajuku dengan paksa. Begitu juga dengan bra milikku. Memperlihatkan dengan jelas dadaku kepadanya. Aku malu dengan diriku sendiri yang tidak bisa menjadi diri.
Aku menangis dalam diam. Air mata keluar seketika. Aku teriak dalam hati dengan menyebut kakakku dan Samuel. Sungguh aku membutuhkan kalian saat ini. Sangat.
Saat Billy masih menguasai tubuhku, aku mendengar dering telpon dari ponselku. Aku lihat dari sini itu dari Samuel. Aku merasa sangat bersalah padanya.
Aku masih menangis. Aku benar-benar takut. Aku bukan perempuan yang sekuat seperti Kak Anastasia dalam menghadapi lawan dengan bela diri. Aku hanya wanita biasa yang lemah.
Aku menutup mataku. Terlalu takut aku untuk melihat kenyataan yang mengerikan ini. Namun, tiba-tiba aku merasakan bahwa Billy berhenti melakukannya dan aku dengar ada suara pukulan keras.
Aku membuka mataku. Aku lihat asal suara itu. Aku lihat Billy tersungkur di lantai. Dan orang yang tengah memukuli dia adalah Samuel. Benar, aku tidak salah lihat bukan. Atau aku sedang berhalusinasi?
"Samuel? Hiks... hentikan.. aku takut!"
Aku berteriak padanya. Billy sudah tidak berdaya jika ingin membela. Dia terjatuh dan tidak bergerak. Aku harap dia hanya pingsan, bukan mati.
Samuel mendatangiku. Dia membawa selimut dari kamar dan menutupiku dengan selimut itu. Dia menggendongku ke kamar. Membaringkan tubuhku di ranjang.
Aku masih takut. Tubuhku gemetar hebat. Air mataku sudah membasahi seluruh wajahku. Samuel menatapku tidak tega. Lalu dia memelukku. Dengan erat.
"Jangan takut. Aku disini, semua akan baik-baik saja."
Aku berharap seperti itu. Tapi hal itu membuatku semakin takut dan menangis lebih keras. Aku lega bahwa Samuel yang datang padaku.
Dia melepas pelukan dan menatapku. Dia melihat keadaanku yang begitu kacau. Bibirku yang berdarah karena gigitan yang terlalu keras. Bekas ciuman di leher dan di dadaku.
"Akan aku hapus apa yang dia lakukan padamu."
Dia ******* bibirku yang berdarah. Aku meringis kesakitan karenanya. Lalu, berpindah di bekas ciuman dengan mengecupnya singkat. Aku mulai merasa membaik. Lalu, aku memeluknya lagi.
Rasa nyaman terus terasa jika aku memeluknya. Benar, hatiku tidak gundah lagi ketika aku berada di dekatnya. Samuel telah membuatku gila karena cinta. Hingga semua hal menjadi tidak logis.
....
Pagi menjelang. Setelah semalam yang begitu panjang terjadi. Billy sudah di bawa keluar oleh anak buah Samuel. Entah akan dibawa kemana dia. Sisca dan Briant juga langsung pulang dan meminta maaf semalam.
Pagi ini aku melihat seseorang yang berada di sampingku. Samuel, pria yang aku cintai. Lihat bagaimana pangeran ini tidur. Begitu mempesona.
Aku tersenyum seperti orang gila ketika memandangnya. Namun, matanya sudah mulai bergerak. Matanya lama kelamaan terbuka hingga menatapku. Aku gugup ditatapnya seperti itu.
Mungkin juga karena dia tampan. Ah lebih tepatnya, sangat tampan. Kami saling bertukar pandangan. Dia mengecup singkat bibirku. Bibirku masih sedikit sakit karena semalam terluka.
"Kau baik-baik saja, sayang?"
"Tentu, asal kau di sampingku," ucapku sedikit malu.
"Dengar Selena, aku benar-benar merindukanmu. Aku mencintaimu, jadi jangan pernah lagi membawa seseorang pria atau datang ke rumah seorang pria."
"Maaf Selena, tidak untum hari ini," ujarnya membuatku kecewa.
Dia bangun dari tidurnya. Dia kembali serius. Aku rasa, Samuel tampak beda atau memang dia.
"Kenapa? Kau marah karena semalam?"
"Bukan. Dengar, kondisimu sedang tidak baik. Mari lakukan besok saja, dan aku ingin bertemu dengan kakakmu."
"Kak Mark? Memangnya kenapa? Apa ada masalah?"
"Akan aku beritahu setelah aku bertemu dengannya."
Hari ini Samuel dan aku menghabiskan waktu bersama di apartemen. Kami bahagia walau hanya dalam satu ruangan.
....//....
Hari ini Anastasia sudah kembali dari rumah sakit. Semalaman Anastasia ditunggu dengan setia oleh Zico. Semua baik-baik saja dan mereka bahagia.
Anastasia tidak langsung pulang. Zico dan Anastasia akan menginap di hotel untuk malam ini. Mengingat Zico sangat merindukan Anastasia.
Hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama. Dan sore ini mereka akan pergi ke pantai. Ini waktu yang tepat untuk melihat matahari yang terbenam bersama pasangan.
Diatas pasir putih mereka duduk bersama. Cahaya dari matahari yang berwarna oranye menghiasi keromantisan mereka.
Zico menatap Anastasia dari samping yang masih tersenyum bahagia melihat ke depan. Zico benar-benar bahagia bisa berada di dekat Anastasia. Sungguh bahagia. Dia juga begitu merindukan Anastasia.
Dengan singkat, Zico mengecup pipi rona Anastasia. Membuat Anastasia menatap Zico.
"Kenapa tiba-tiba? Apa yang kau inginkan?"
Anastasia merubah posisi menjadi menghadap Zico sepenuhnya.
"Aku ingin kau malam ini, dan malam selanjutnya.
....
Anastasia POV
"Aku ingin kau malam ini, dan malam selanjutnya," ucapnya dengan yakin.
Aku sedikit merasa bersalah. Karena aku menipunya. Karena semua ini hanyalah skenario yang aku buat bersama Nicholas.
Kala itu, aku dan Nicholas sudah tahu kalau Zico akan membantu Marco, kakaknya untuk mencari tahu tentang pembunuhan Eliza. Aku hampir tidak bisa berpikir, namun ide gila Nicholas muncul.
Dia menyarankan untuk melakukan strategi ini. Ini akan berjalan lancar jika aku bisa melakukannya. Yaitu menahan Zico. Berpura-pura berbaikan dengannya.
Aku harus mengorbankan diriku demi keselamatan Mark dan organisasiku. Karena kuncinya ada pada Zico. Zico bisa dengan segera menemukan asal muasalnya.
Oleh karena itu, dengan skenario menahan Zico dengan kembali menjadi wanita yang dia cintai lagi. Sedangkan, Nicholas akan membantu Mark untuk menggantikanku disana.
Aku tidak ingin lebih karena aku takut. Aku takut jika muncul perasaan yang sama lagi. Aku takut untuk jatuh cinta padanya. Aku membodohinya dan aku merasa sangat bersalah.
Aku telah menjadi wanita murahan. Aku tidak jauh beda dengan ******-****** itu. Aku meratapi nasibku, tapi siapa sangka kalau perasaan yang aku takuti justru muncul?
Benar, aku merasakan sesuatu yang membuatku tidak ingin jauh darinya, tidak ingin meninggalkannya.
"Kenapa kau menangis?" Ucapnya ketika aku sadar dari lamunanku dan menyadari air mata sudah keluar.
Tanpa aba-aba, Zico ******* bibirku. Tangannya di tekukku untuk memperdalam ciuman. Aku tidak membalasnya, hanya membiarkan mulutku terbuka untuknya.
Terimakasih telah membaca!
Dukung author terus ya!
Ditunggu episode selanjutnya ya!
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!