
26
Anastasia menaruh segelas minuman di meja. Lalu, dia duduk di samping Mark, di depan Zico.
"Ada apa mencari ku?"
"Memastikan kau baik-baik saja. Apa kau masih sakit?" Zico masih ragu dengan apa yang dia lihat.
"Iya, dia baik-baik saja. Sudah cukup? Sekarang pulang," Mark menjawab.
"Aku bertanya dengan Anastasia, bukan denganmu."
Ditengah pertengkaran Zico dan Mark, Anastasia menahan rasa sakit di pinggang hingga perutnya. Rasa sakit yang begitu kuat. Anastasia menahannya, dia tak ingin diketahui oleh mereka berdua.
Tangan Anastasia menggenggam kaus yang dia pakai. Menahan sekuat-kuatnya. Sedangkan, pertengkaran Mark dan Zico masih berlanjut tanpa mengetahui keadaan Anastasia sebenarnya.
Anastasia berdiri, dia ingin pergi ke kamarnya mengambil obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun, tanpa pengetahuan Zico dan Mark.
"Aku ingin ke kamar dulu."
Anastasia berdiri dengan perlahan. Saat badannya digerakkan, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Di suhu yang dingin itu, Anastasia mengeluarkan keringat.
Zico dan Mark hanya melihat Anastasia yang berjalan itu. Tiba-tiba,
BRUK!
Anastasia terjatuh pingsan. Keduanya hendak menggendong Anastasia. Disaat seperti ini, mereka tidak bisa egois.
Mark menggendong tubuh Anastasia, sedangkan Zico menyiapkan mobilnya untuk membawa Anastasia ke rumah sakit.
Segera setelah sampai di rumah sakit, Anastasia dibawa disebuah ruangan. Mark dan Zico menunggu dengan cemas di depan ruangan sepi itu.
Koridoor rumah sakit itu tampak sangat sepi. Pemeriksaan Anastasia cukup lama. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Mark khawatir dengan keadaan Anastasia, karena dia tahu persis penyakit yang diderita Anastasia.
Dokter akhirnya menampakan diri dari ruangan itu. Wajahnya tampak serius.
"Saya perlu bicara dengan wali dari pasien."
"Saya." Mark menunjukan diri.
Dokter mempersilahkan Mark masuk ke dalam ruangan tadi untuk bicara tentang kondisi Anastasia.
Sedangkan, Zico hanya menunggu diluar dengan keadaan lebih cemas daripada Mark sebelumnya.
"Kondisi pasien semakin memburuk. Ginjalnya sudah tidak kuat menahan zat yang pasien konsumsi. Pastikan pasien mengatur pola makan terutama minum. Dan juga, tolong segera hubungi rumah sakit jika pasien mengalami sakit lagi.
Ginjal pasien hampir rusak, bila perlu carikan donor ginjal dan lakukan operasi. Sekarang ini pasien tengah dalam pengaruh obat bius karena tidak terlalu kuat menahan rasa sakit. Kalau begitu, saya permisi. "
Dokter kemudian berlalu. Meninggalkan Mark. Mark mendatangi Anastasia yang masih terbaring. Menatap seorang wanita yang begitu ia cintai.
Ditengah momen itu, Zico datang. Ikut menghampiri Anastasia yang masih terbaring. Menatap Anastasia penuh sayang dan cinta.
"Apa kata dokter?" Tanya Zico penuh penasaran.
"Kau tidak perlu tahu. Ini bukan urusanmu, dan sebaiknya kau segera pulang."
"Aku akan tetap menunggu hingga Anastasia pulih."
Hari itu Zico menunggu Anastasia. Bahkan kantornya masih diurus oleh Samuel. Samuel terus kewalahan menangani dua perusahaan sekaligus.
*skip (mohon pengertiannya, plot terlalu lambat jadi bagian ini saya skip)
Anastasia sudah pulang ke apartemennya yang di Washington. Dia masih mendapat jatah cuti. Selena sedang kuliah dan Mark tengah bertugas di mansion milik Anastasia.
Anastasia melamun kan sesuatu. Benar, penyakitnya. Sekuat apapun Anastasia, penyakitnya ini membuatnya begitu lemah.
Anastasia tak ingin terlihat lemah. Anastasia yang semua orang tahu adalah wanita yang sangat tangguh dan kuat. Anastasia tak pernah memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain.
Lamunan Anastasia pudar ketika bel berbunyi. Seseorang datang. Anastasia pikir itu Selena atau Mark. Anastasia langsung saja membukanya.
Lalu, berdiri seorang pria dengan jas yang membalut tubuh jantannya. Wajah tampan pria itu tentu membuat para wanita terpesona, tapi tidak untuk Anastasia karena pria itu adalah Zico.
"Kenapa kau kesini?"
"Aku merindukanmu dan memastikan kau baik-baik saja."
"Oh. Kita sudah bertemu dan lihat aku baik-baik saja. Dan silahkan pulang."
Anastasia mempersilahkan Zico pergi. Tidak dengan Zico, rasa rindunya lebih kuat daripada perintah tuan rumah. Rasa rindu pada Anastasia.
Dia lampiaskan dengan mencium bibir Anastasia. Melumatnya. Tubuh Anastasia didorong masuk dan Zico menutup pintu yang otomatis terkunci.
Anastasia mencoba memberontak. Tapi, Zico tidak akan membiarkannya. Zico ******* bibir Anastasia lebih kasar dari sebelumnya. Anastasia tidak membalas.
Zico mendorong Anastasia lagi hingga tubuh Anastasia terjatuh di sofa panjang. Tubuh Zico di atas tubuh Anastasia.
Anastasia mencoba mendorong Zico lebih kuat lagi. Dengan ilmu bela dirinya, Anastasia mampu membuat Zico menjauh.
"Apa yang kau pikirkan? Kau pikir ini lucu?" Anastasia begitu marah.
"Lalu ada apa denganmu? Kau terus melarikan diri dariku. Aku berusaha agar kau bisa mencintaiku, Anastasia. Aku ingin kau bahagia denganku. Aku tidak ingin kau dekat dengan pria manapun," ujar Zico dengan nada membentak.
"Kau tidak perlu membuatku jatuh cinta padamu, karena itu tidak akan terjadi. Aku muak dengan perlakuan mu padaku. Kau memperlakukanku seakan aku adalah ****** mu. Ah aku lupa, kau memperlakukan semua wanita seperti ******, bukan?"
Anastasia melipat tangannya di dada. Wajah kesal dan marahnya tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Kau salah Anastasia. Kau tidak mengenalku. Kau tidak pernah tahu siapa diriku. Aku mendekatimu terus karena aku ingin kita saling mengenal."
"Cukup, Zico. Aku sudah mengenalmu. Kau adalah pria brengsek yang terus mempermainkan semua wanita. Kau mengambil keuntungan dari wanita dengan melakukan hubungan **** dengannya. Kau seperti itu jika kau ingin kenal dirimu."
"Hentikan Anastasia! Sudah cukup kau memakiku. Jika kau muak denganku, kau bisa pergi. Silahkan ajukan pengunduran diri dan kau bisa bebas dari pria ******** sepertiku."
"Tentu saja. Aku harap ini akan menjadi akhir dari pertemuan kita."
Zico pergi dari apartemen Anastasia. Dengan amarah yang meluap dia mengendarai mobilnya. Jalan yang mulai ramai dengan mobil membuat Zico kesulitan untuk mempercepat jalannya.
Zico terus menyelip satu persatu mobil di depannya. Dia begitu marah dengan wanita yang dulu pernah dia cintai. Rasa cinta Zico terkalahkan dengan rasa marahnya.
Zico sampai di mansion nya. Dia tinggal sendiri di sana. Terkadang dan hampir sering pula, Samuel berada di sana. Kala ini, Samuel masih sibuk dengan urusan perusahaannya.
Lagipula, Samuel juga tengah menjemput Selena pulang kuliah. Memastikan kekasihnya itu dalam kondisi yang ia inginkan.
Beberapa jam berlalu, Samuel datang di mansion Zico. Zico tengah berada di sofa. Di meja depannya, banyak botol yang tengah kosong. Belasan botol alkohol telah Zico habiskan seorang diri.
Dirinya begitu kacau. Keadaannya tidak memungkinkan untuk berpikir jernih. Ditambah dia mendapat kabar tentang masalah kantor yang tengah terjadi waktu lalu. Kebocoran data pribadi perusahaan telah terjadi lagi.
Kali ini, anak buah Anastasia yang melakukannya. Anastasia bisa saja diam di apartemennya dan menikmati kehancuran Zico.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!