
10
Warning! Adegan 18 tahun ke atas.
Harap jadi pembaca bijak!
Suasana makin membingungkan. Gadis menangis. Daisy bersama gadis itu. Anastasia menuduh Zico yang membuat gadis itu menangis.
Lumayan masuk akal sih. Tapi justru itu yang membuat Zico kebingungan.
"Hei, kenapa kau menuduhku lagi? Tanyakan saja pada gadis itu, siapa yang membuatnya menangis," begitu kata Zico.
Anastasia masih tidak percaya pada Zico. Tapi dia mengikuti saran Zico. Kemudian dia menegur gadis itu.
"Hei, apa yang membuatmu menangis?" Begitu Anastasia bertanya, gadis itu berbalik badan menghadap Anastasia dan membuka tangan yang menutupi wajahnya.
Gadis itu masih terisak. Air matanya membasahi wajah serta tangannya. Matanya sembab.
"Astaga Selena? Itu kau? Kenapa kau menangis?" Anastasia sontak memeluk Selena.
"Kakak, hiks... hiks..." Selena tak mampu bicara.
"Sudah. Ayo kita pulang. Tak perlu menangis lagi. Nanti kau bisa cerita dengan ku." Anastasia mencoba menenangkan Selena.
Yeah disisi lain, Zico dan Daisy juga kebingungan dengan situasi ini.
"Zico, maaf mengganggu liburan mu dengan Daisy. Tapi aku harus pulang dulu." Anastasia menggandeng tangan Selena.
"Biar aku antar."
"Tidak bisa. Bagaimana dengan Daisy? Aku tak ingin membuat dia sedih lagi." Mereka menatap gadis kecil manis yang tak tahu apapun.
"Daisy, mau antar kakak itu tidak? Uumm besok lain kali kita kesini lagi sebagai gantinya." Zico membujuk Daisy.
"Baiklah. Lagipula Daisy sudah mengantuk." Mereka semua setuju dan segera pulang.
Mereka masih canggung untuk bicara. Zico sedang menyetir, disampingnya Anastasia duduk sembari menonton jalanan di depan nya. Lalu, Selena dan Daisy duduk dibelakang. Tampak Daisy sudah tertidur di mobil.
Beberapa waktu berlalu di jalanan. Sampailah mereka di apartemen Anastasia.
"Turunlah. Dan setelah ini sebaiknya kau tidur. Aku akan segera mengantar Daisy pulang." Perhatian Zico.
"Iya. Tapi Daisy bisa sakit. Biarkan dia tidur di apartemen ku." Saran Anastasia menatap Daisy yang tertidur pulas.
"Tapi, bagaimana jika mengganggu kalian?"
"Sudahlah tak ada penolakan. Bawa Daisy masuk. Jangan biarkan dia sakit." Anastasia turun dari mobil begitu juga dengan yang lainnya.
...
Anastasia sedang berada di kamarnya bersama Selena dan Daisy yang tertidur di kasur.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan." Anastasia mendekat pada Selena.
"Kak, tolong jangan beritahu kak Mark kalau aku ada disini dan tentang kejadian di taman tadi." Selena memohon.
"Baiklah. Sekarang kau tidurlah. Jangan sampai kau sakit juga. Dan maaf kau harus berbagi dengan Daisy."
"Tidak apa. Selamat malam Kak Anastasia."
Anastasia kemudian keluar dari kamar. Dia menuju dapur untuk membuat secangkir kopi yang akan dia nikmati di ruang tengah. Di sana ada Zico yang duduk sambil menonton televisi. Dengan lampu padam agar suasana pas.
Anastasia datang dengan secangkir kopi.
"Kau tidak membuatkan ku juga?" Zico sedikit kesal.
"Kau mau? Minumlah itu," Zico mengambil dan langsung meminumnya, "tapi aku tidak punya gula, jadi kopi itu sangat pahit." Sambung Anastasia yang membuat Zico tersedak.
"Kenapa kau berani usil denganku? Kau sengaja?"
"Tidak. Aku memang tidak punya gula, lagipula aku sudah biasa minum kopi tanpa gula."
"Astaga kau ini. Baiklah sekarang kau jelaskan saja, apa yang sebenarnya terjadi di taman tadi." Zico kembali menonton televisi.
"Dia adikku. Lebih tepatnya adik dari pacar ku, Mark. Namanya Selena. Aku tak tau kenapa dia menangis. Yeah malam ini dia akan tinggal disini. Begitu juga dengan Daisy. Dan kau, kau bisa pulang jika kau mau." Anastasia seperti sedang mengusirnya lagi.
"Terserah kau saja. Tapi kau tidak punya tempat untuk tidur."
"Kita akan tidur bersama. Dan malam ini kita akan menyelesaikannya."
Zico mencium mulut Anastasia. ******* kecil pada benda kenyal itu. Anastasia tak merespon. Dia tetap diam, tak menunjukan reaksi apapun.
Makin lama, Zico makin terangsang. Dan Anastasia juga ketika lehernya terus di gigit dan dicium oleh Zico.
Anastasia tumbang, Zico di atasnya. Mereka bermesraan di depan televisi, di sofa panjang.
Anastasia mendesah kecil. Dia menahannya, berusaha agar Selena dan Daisy tidak mendengarnya.
"Hentikan Zico, mereka bisa mendengarnya." Ucap Anastasia ketika lehernya di cium oleh Zico.
"Tidak, biarkan saja. Harus aku katakan padamu, kau terlalu cantik dan menggoda malam ini." Zico sambil membuka kancing baju Anastasia.
Perlahan Zico membuka kancing sambil menciumi Anastasia. Anastasia terangsang dan merasa nikmat dengan perlakuan Zico. Dia membalasnya tak kalah panas.
Anastasia mencium bibir Zico. Anastasia juga membuka kancing baju Zico perlahan. Sedangkan, baju Anastasia sudah terbuka. Memperlihatkan payudara yang besar masih ditutupi dengan bra.
Zico mencium setiap bagian tubuh Anastasia tanpa terkecuali. Seakan Anastasia telah menjadi miliknya.
Anastasia membuka baju Zico yang memperlihatkan dada bidangnya. Tubuh Zico yang sexy sempat membuat Anastasia semakin membuas. Tapi, dia terus menahannya juga.
"Ah sakit. Ugh... ah..." Anastasia mendesah karena Zico menggigit perutnya hingga terdapat bercak merah keunguan di sana.
Lalu, perlahan Zico membuka bra milik Anastasia. Memperlihatkan pemandangan indah yang pernah Zico lihat. Lalu, dia menciumi benda menggoda di dada Anastasia itu.
"Ah sakit... ah.. ugh.. ah.." Anastasia masih belum terbiasa dengan permainan Zico.
Anastasia mendesah terus. Lalu, tangan nakal Anastasia membuka celana Zico. Mereka semakin memanas. Hingga mereka terjatuh dari sofa. Dan mereka melanjutkan lagi di lantai yang hanya beralaskan karpet.
Selesai Anastasia membuka celana Zico, dia memasukan tangannya ke dalamnya. Milik Zico berdiri di dalam dan sesak.
Di Sana ****** Anastasia juga sudah basah. Tangan Anastasia kembali nakal. Dia memegang milik Zico yang membuat pemiliknya mendesah kenikmatan.
"Shake it, Anastasia" ucap lirih Zico.
Zico melepaskan celananya sendiri. Lalu, sesuai perintah nya, Anastasia mengocok ***** Zico. Zico mendesah kenikmatan.
Melanjutkan permainan lagi, Zico membuka celana Anastasia. Juga membuang celana dalam Anastasia. Aksi Anastasia berhenti ketika vaginanya terasa aneh. Yeah, Zico memasukan jarinya ke dalan ****** Anastasia.
"Kau masih perawan ya" goda Zico. Memang benar, Anastasia masih perawan. Terasa ****** Anastasia sempit walau hanya di masukan jari Zico. Bagaimana dengan ***** besar milik Zico nantinya.
Anastasia mendesah tak kuat.
"Ah.. Zico, hentikan... ah.. ugh.." Anastasia berkeringat banyak.
Lalu, Zico menggerakkan jarinya di dalam ****** Anastasia. Anastasia terus mendesah. Cairan sudah keluar ketika jari Zico keluar juga.
Namun, tiba-tiba lampu yang tadinya padam, kembali menyala. Artinya ada orang yang menyalakannya.
Zico dan Anastasia melihat orang yang menyalakan lampu. Yeah orang itu juga menatap mereka berdua.
"Tak apa lanjutkan saja." Ucap Selena santai, seperti tak melihat hal aneh.
Selena kemudian masuk ke dalam kamar lagi. Sedangkan, Zico dan Anastasia saling menatap.
Lalu mereka melanjutkan aktifitas mereka.
"Tunggu, kita tidak bisa melanjutkan ini disini." Cegah Anastasia.
"Lalu, kita harus kemana?" Mereka bangun. Anastasia sudah memakai pakaiannya.
"Anastasia, katakan padaku." Zico ******* bibir Anastasia kasar.
"Hentikan... ummpptt... ah" Anastasia tak bisa bernafas.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!