
14
Anastasia masih kebingungan dengan ucapan Zico.
"Maaf tuan, apa maksud Anda? Apa saya melakukan kesalahan dalam bekerja?"
"Kau tak perlu berpura-pura. Baiklah aku akan mengakui satu hal. Anastasia," Zico menatap dalam-dalam wajah Anastasia, sedangkan Anastasia seperti bisa membaca pikiran Zico saat itu karena wajah mereka yang dekat.
"Anastasia, aku mencintaimu. Aku mencintaimu Anastasia. Aku tak suka saat pacar palsu mu itu berbuat macam-macam padamu. Kau sudah melukaiku Anastasia. Aku melukaiku."
Wajah sedih dan kecewa sudah tak bisa di tahan oleh Zico. Serta air matanya yang telah lama sudah tak keluar. Air mata itu jatuh di pipi Anastasia.
Lalu, Anastasia mengecup bibir Zico. Dan di lanjut dengan lumatan kecil. Zico membalas juga.
"Maaf Zico tapi kita hanya sebatas bos dan karyawan. Aku tak bisa melakukan ini. Dan kita tak saling mengenal. Maaf, aku harus pergi." Anastasia berlalu setelah dia mencium Zico terlebih dulu tadi.
Anastasia pergi dari kantor. Dia meninggalkan kantor dan berjalan cepat menjauh dari bangunan itu. Dan berakhir di taman kota.
Anastasia POV
Aku tak mengerti. Kenapa dia mempermainkan aku. Aku tahu dia hanya akan memanfaatkan aku. Iya walau ekspresi wajahnya tadi sebenarnya berbeda jauh dengan yang aku pikirkan.
Dia seperti tulus padaku. Tapi, aku tak boleh suka atau jatuh cinta padanya. Dia adalah targetku. Dia bukan siapa-siapa. Aku harus menahan perasaan ini. Benar, aku tidak boleh ceroboh. Aku Anastasia yang kuat.
"Kak! Kak Anastasia." Aku mendengar panggilan namaku. Suara ini begitu familiar. Benar dia Selena.
"Ah Selena. Apa yang kau lakukan disini?"
Selena duduk di sebelahku.
"Aku baru pulang kuliah. Tapi seharusnya aku bertanya pada kakak. Kenapa disini? Bukankah kakak harus bekerja?"
Bekerja ya. Yang terpikir olehku hanyalah Zico dan ucapannya tadi. Aku tak habis pikir dengannya.
"Kak, kenapa kakak menangis?"
Menangis? Aku menangis?
Aku menyentuh pipiku yang di sana terdapat air mata. Air yang jatuh dari mataku.
"Ah tidak kok. Mataku kena debu jadi merah."
"Kakak yakin? Tak seperti biasanya kakak berbohong padaku. Sudahlah kak, katakan saja. Ingat, aku ini keluarga kakak juga. Aku adikmu kan."
"Bagaimana kau bisa tau aku berbohong?"
"Kak, aku masuk fakultas psikologi. Baiklah kalau kakak belum siap cerita. Karena kakak sudah punya waktu luang, bagaimana kalau kita belanja? Kakak bilang mau membelikan aku baju, kan? Huh?"
Aku menuruti Selena. Daripada harus bersedih karena Zico. Aku tak boleh egois. Aku tak mau membuat khawatir semua orang terutama Selena.
Kami sampai di mall. Selena tampak senang. Syukurlah, aku juga ikut senang melihatnya. Aku dan Selena tengah memilih baju untuknya. Kami membeli baju kasual dan perlengkapan yang dibutuhkan lainnya.
"Selena, apa kau ingin membelikan sesuatu untuk kakakmu?"
"Maksud kakak, Kak Anastasia? Tapi ini kan di belikan oleh kakak."
"Ah dia. Entahlah. Aku tak begitu tau tentangnya."
"Baiklah. Aku yabg akan membelikannya. Aku juga tak tau apa kesukaannya tapi aku sering melihat dia memakai jaket kulit yang seperti ini." Aku membeli jaket untuk Mark.
Entah untuk apa aku membelikan ini tapi rasanya aku ingin memberikan sesuatu untuknya. Tur di mall kali ini berakhir di restoran. Kami mampir di restoran Jepang di mall ini.
"Ah kak, ngomong soal Kak Mark, tadi pagi pamannya Daisy bilang kalau Kakak pacaran sama Mark, apa benar?"
"Ah itu namanya Zico. Tapi kau bilang apa tadi?"
"Aku bilang kalau kalian tidak pacaran. Aku pikir kita keluarga jadi tidak punya hubungan asmara kan."
"Sebenarnya aku dan Mark tidak pacaran. Hanya saja aku memberi tahu Zico, supaya dia tidak menggangguku."
"Ah begitu ya. Jadi, aku yang merusak hubungan kalian ya? Makanya tadi kakak menangis. Aduh kak maaf ya."
"Tidak apa. Sudah lupakan saja. Kau mau cerita tentang kenapa kau menangis saat itu, kan?"
"Itu, ceritanya tak jauh beda dengan kakak. Sebenarnya, aku baru putus dengan pacarku. Tapi, aku sudah melupakannya kok kak. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Ah iya, apa kakakmu tinggal sendiri di rumah? Jika kau mau, kau bisa tinggal di mansion ku dengan kakakmu."
"Tidak! Aku mau tinggal sama kak Anastasia saja."
Merek pulang setelah selesai di mall. Mereka pulang di apartemen. Dan istirahat sebentar.
Tak lama kemudian bel kamar Anastasia berbunyi. Anastasia membuka pintu.
Ceklek!
"Hai Anastasia," sapa ramah Mark.
"Ah masuklah. Selena sedang mandi." Mereka terlalu canggung setelah kejadian tadi siang.
Mereka duduk berhadapan di ruang tengah. Ya tanpa sepatah katapun. Hingga Selena selesai mandi.
"Kak Mark? Kenapa disini?" Selena terkejut dengan kedatangan kakaknya.
"Kemarilah Selena. Bicaralah dengan kakakmu. Akan aku tinggal sebentar." Ucap Anastasia meninggalkan kakak beradik itu berbicara agar masalah mereka selesai.
Anastasia keluar dari apartemennya untuk pergi ke toko terdekat. Untuk membeli bahan makanan dan beberapa kaleng minuman beralkohol.
Dia sedang memilih beberapa makanan untuk camilan. Dan di sanalah dia berhadapan dengan orang yang sebenarnya tidak ingin dia temui untuk sekarang.
Mereka saling menatap tapi...
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!