
12
"Kakakku? Kak Mark? Pacarnya Kak Anastasia? Yang benar saja, kami itu sudah seperi keluarga," ucap Selena yakin.
"Apa?! Tapi, Anastasia bilang dia punya pacar dan dia adalah Mark, kakakmu, kan?"
"Aku pikir itu tidak mungkin. Tapi lupakan itu. Lagipula kak Anastasia tidak tertarik dengan pria untuk saat ini."
Setelah Zico menjemput Daisy, dia segera pergi dari apartemen itu. Dan membawa kabar mengejutkan tentang Anastasia.
...
Anastasia telah sampai di mansion Dave. Di Sana Dave sedang membaca koran pagi. Dan secangkir minuman, entah apa itu. Anastasia menghampirinya.
Mereka duduk di sofa. Keduanya tampak bahagia. Tentu saja, setelah target pertama berhasil di bunuh.
"Jadi, bagaimana? Puas menikmati kabar itu?" Kata Anastasia membahas misi yang kemarin.
"Tentu, tapi tak sepuas itu. Semua harus hancur, Anastasia."
"Kau perlu bersabar Dave. Memang mudah untuk membunuh bagiku, tapi sulit untuk menentukan waktu yang pas. Satu hal yang harus seorang pembunuh tau, yaitu menentukan waktu." Anastasia bangga diri.
"Aku serahkan padamu. Aku percaya. Jadi, kau ingin bayaran untuk misi pertama ini?"
"Tentu. Berikan sesuatu yang sepadan dengan apa yang sudah aku lakukan."
"Baiklah. Kau tak perlu khawatir. Ngomong-ngomong, bagaimana keluargamu? Belum lama ini aku bertemu dengan kakakmu. Dia ada di kota ini, kan?"
"Diam!" Anastasia memukul meja kuat-kuat.
Anastasia tak pernah suka dengan orang yang membicarakan tentang orang yang ia benci, salah satunya adalah keluarganya.
Anastasia Winny Guerrio. Tentu saja dia memiliki seorang ayah dan ibu. Tapi, Anastasia sendiri tak pernah mengganggap mereka ada. Kehidupan kecil Anastasia terbuang sia-sia.
Sejak kecil, Anastasia memiliki gangguan jiwa. Ah bukan seperti orang gila yang dipinggir jalan. Buktinya dia berkerja dan dia ahli di bidang apapun.
Gangguan jiwanya itu yang telah merenggut masa kecil dan masa remajanya.
Kepribadian ganda. Awalnya Anastasia sendiri tak sadar, apalagi keluarganya. Dia baru sadar ketika dikucilkan oleh teman-temannya. Terlebih dia tak tau apa yang terjadi.
Untuk sekarang, kepribadian ganda miliknya tidak seburuk yang dulu, yang sering kambuh. Namun, level penguasaan diri dari Anastasia juga semakin kuat semakin dia beranjak dewasa.
Anastasia menjadi membaik karena seseorang yang telah menjadi cahaya di hidupnya. Seseorang yang telah membantunya ketika dia menderita.
Namun, hingga saat ini dia belum pernah bertemu dengan orang itu.
....
Setelah itu Anastasia pulang dari mansion milik Dave dan segera pergi bekerja.
....
Anastasia's POV
Aku berharap hari ini akan menjadi hari yang tidak sial. Dan semoga pria sialan itu tidak berulah lagi. Cukup semalam dia menggunakan tubuhku untuk memuaskan nafsunya.
Hari ini adalah hari pertama bekerja setelah cuti karena pemakaman kakak ipar Zico. Yeah tak ada yang berubah. Pegawai yang sama, suasana yang sama.
Aku belum lama berada di sini tapi aku bisa merasakan suasana ini dengan tahan lama.
Aku langsung duduk di ruanganku. Tepatnya di dekat ruangan CEO. Aku duduk dengan mengambil posisi senyaman mungkin karena CEO belum datang, ya benar Zico belum datang.
Aku menata meja yang agak berantakan dan berdebu. Tak sengaja mataku menangkap objek yang asing. Yang seharusnya tidak di mejaku. Sebuah coklat dan sebuah surat yang di pasang dengan pita di bungkus coklat batang itu.
Karena penasaran, aku mengambil benda yang menurutku aneh itu. Aku buka surat dengan kertas berwarna pink itu. Ah menurutku ini terlalu berlebihan.
Aku baca surat itu. Tertulis:
Tak ada nama pengirim. Tapi ya sudahlah. Jika aku ada waktu aku akan datang.
Aku kembali merapikan meja lagi. Lalu, sesaat kemudian seorang pria dengan pakaian yang rapi datang. Namun, tidak dengan dasi yang dia pakainya.
Aku mendekatinya dan membenahi dasi yang tampak berantakan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Zico tampak penasaran dengan apa yang aku lakukan. Jelas aku membenahi dasi yang tampak berantakan itu.
"Membenahi dasi," jawabku singkat.
"Setelah yang terjadi semalam?" Yang benar saja dia membahas hal semalam.
"Maaf tuan, saya disini sebagai sekretaris Anda, bukan yang lain. Saya hanya berusaha bersikap profesional."
Aku kembali ke tempat ku. Dia masih menatapku tak percaya. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tak peduli juga. Lalu, dia masuk ke dalam ruangannya.
Setelah selesai dengan mejaku. Aku pergi ke dapur untuk membuat kopi untuk CEO. Itu yang dilakukan sekretaris. Kubuat secangkir kopi dengan teko kecil sebagai cadangan dan wadah gula.
Ketika itu juga seseorang masuk ke dapur. Dia kesakitan. Tangannya. Pria itu. Kent, kepala management di kantornya. Wajahnya sedikit khawatir tapi aku mengabaikannya.
Aku berjalan keluar, tapi tangannya mencegah ku. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Yeah aku tak sabar mendengarnya.
"Ada apa? Kau ingin lebih dari itu?" Kataku dengan berani.
"Kau, apa melakukan ini pada semua orang?" Tampaknya dia sedikit ketakutan ketika bertanya.
"Katakan padaku, saat di pesta, apa kau juga akan melakukan hal menjijikan itu pada semua wanita? Pikirkan itu." Aku berlalu meninggalkan dia.
Membawa kopi dengan nakas. Dan pergi ke ruangan CEO. Aku mengetuk dan langsung masuk dengan membawa nakas itu. Kulihat Zico sedang membawa koran pagi.
Aku taruh nakas dengan kopi itu di meja di depannya. Dia tak memperhatikan sedikit pun. Aku akan berlalu jika dia tak butuh apapun lagi.
"Tunggu, Anastasia," panggilnya dan menutup koran yang dia baca.
Aku berbalik menghadap padanya. Aku hanya berharap dia akan membicarakan pekerjaan saja daripada membicarakan tentang kehidupan pribadi ku ataupun tentang semalam.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" Aku berusaha seramah mungkin
"Jam makan siang tidak ada jadwal bukan?"
"Iya tuan."
"Kita akan makan siang bersama dan ada hal yang ingin aku bicarakan padamu."
Astaga aku sudah yakin akan membicarakan apa nantinya. Ah aku harus mencari alasan untuk menghindari permintaannya itu. Ayolah berpikir Anastasia.
Ah benar surat coklat itu. Akan aku jadikan alasan supaya tidak ikut dengannya.
"Maaf tuan, saya sudah ada janji terlebih dulu untuk makan siang nanti."
"Apa? Kau harus profesional, kan?"
"Tentu tuan Zico. Jam istirahat bukanlah jam kerja jadi saya bebas akan melakukan apa yang saya mau. Itu bukan bagian dari pekerjaan saya, kecuali ada rapat."
"Tapi,...-"
"Saya permisi Tuan Zico." Aku lekas pergi. Ya segera dari ruangan Zico itu.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!