The Big Boss

The Big Boss
Dua Puluh Sembilan



29


Tinggal satu ruangan yang belum Mark buka. Ruangan itu gelap. Lampu tidak menyala seperti kamar yang lain. Mark memegang kenop pintu dan hendak membukanya.


Cklek!


Pintu terbuka. Mark melihat Selena tengah berbaring. Mark mendatanginya karena takut jika terjadi hal buruk padanya. Terutama hal janggal yang dia temui di ruang tengah tadi.


Dia mendapati Selena tengah tertidur dengan piyama. Mark ingin membangunkan Selena karena pasti dia belum makan.


"Selena bangunlah. Ayo kita makan."


Selena terbangun dengan agak malas. Selena lumayan pandai berakting.


"Kak Mark? Kenapa tidak mengabari dulu?"


"Kau tidak menjawab, Selena. Ada apa? Kau terlihat gugup."


Selena terdiam dan mengalihkan pembicaraan.


"Ah aku menemukan Jas di sofa. Itu milik siapa?"


Selena berpikir mencari alasan. Saat itu pula, tak sengaja Mark melihat jari tangan di bawah ranjang Selena.


"Selena, dengar. Jika kau ada masalah atau apapun itu, ceritakan pada kakak. Terutama tentang pacarmu. Kakak bahkan belum pernah bertemu dengan pacarmu, tapi kakak harap kamu sudah pintar dalam memilih pasangan.


Selena, kakak percaya sama kamu. Jadi, katakan jika ada yang ingin kau katakan dan jangan kecewakan percayaan kakak. Baik?"


Selena hampir menangis karena perkataan kakaknya. Dia merasa sangat bersalah menyembunyikan hubungannya dengan Samuel selama ini dari kakaknya.


Haruskah Selena mengungkapkan yang sebenarnya?


"Kak, ada yang ingin aku katakan."


Selena kembali berpikir. Sebab akibat jika dia mengungkapkan kebenarannya.


"Ada apa?"


"Uumm ah aku sangat lapar, tapi aku juga sudah mengantuk."


"Baiklah, kau tidur saja. Besok pagi kakak datang lagi."


Mark mengecup dahi Selena. Lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Lalu, Mark pulang lagi ke mansion. Mark sedikit khawatir dengan masalah Selena.


Mark masih mencoba melatih Selena untuk selalu jujur kepadanya dan terbuka. Mark berusaha melatih Selena agar menjadi wanita yang dewasa dan bisa mengambil keputusan yang bijak.


"Keluarlah Samuel."


Samuel keluar dari bawah ranjang. Selena duduk dibibir ranjang dengan wajah-wajah frustasi.


"Kenapa? Kakakmu?" Tebak Samuel.


Samuel mengecup singkat bibir Selena. Selena masih terdiam. Lalu, hendak mencium untuk yang kedua, Selena menghentikannya.


"Pulanglah. Aku ingin sendiri dulu."


"Kau yakin baik-baik saja?"


"Kurasa. Dengar Samuel, aku tidak bisa berbohong lagi kepada Kak Mark. Aku tidak ingin dia kecewa denganku. Aku tidak ingin kakakku sendiri tidak percaya lagi padaku. Aku tidak ingin."


"Katakan saja."


"Apa?"


"Katakan pada kakakmu tentang hubungan kita. Aku akan bertemu dengan kakakmu langsung. Dia percaya padamu, bukan? Kalau begitu dia juga akan percaya denganku."


"Tapi, apa kau yakin?"


"Tentu, tapi jangan terlalu cepat. Maaf aku terlalu sibuk. Perusahaan Zico juga sedang membutuhkan aku. Kalau begitu, Selana aku pulang, ya."


Samuel berlalu setelah mengecup bibir Selena singkat.


*....*


Malam ini Zico sedang berada di kantornya. Sudah satu minggu penuh Zico tidak pulang dirumahnya. Samuel juga mengkhawatirkan temannya itu.


"Zic, kau bukan robot. Tidurlah. Sudah enam hari kau berada di kursi itu," pinta Samuel.


"Aku harus menyelesaikan sistem keamanan ini, aku tidak ingin ada data yang dicuri lagi."


Zico sibuk dengan komputer di depannya. Mata panda nya menandakan kerja kerasnya. Jenggot yang mulai tumbuh itu juga dia abaikan. Tidak ada waktu untuk mencukur jenggot atau kumis.


Bahkan Zico jarang makan dalam sehari. Keadaan Zico bahkan lebih buruk dari zombi.


"Kau harus tidur, orang tuamu akan datang ke rumahmu. Kau tidak ingin membuat mereka khawatir bukan?"


Zico berhenti mengetik. Dia menatap foto dengan bingkai di mejanya. Itu adalah foto keluarganya. Zico akhirnya mengemasi barangnya.


Zico akhirnya tertidur pulas setelah jam tidurnya hanya beberapa menit saja. Zico terlalu banyak bekerja, apalagi di depan radiasi komputer.


*...*


Pagi hari yang cerah. Matahari terbit dari arah timur. Ranjang Anastasia sudah rapi dia tata. Anastasia bangun sebelum matahari terbit.


Sedangkan, Mark dia masih tertidur di kamarnya. Pagi ini, Anastasia pergi ke kota untuk membeli mantel lagi. Mantelnya yang kemarin sudah dia bakar karena terdapat bekas darah targetnya.


Tapi, sebelum dia pergi ke pusat perbelanjaan, dia datang di apartemen. Tentu saja, untuk mengajak Selena berbelanja.


Pagi itu, Selena belum bangun. Anastasia berusaha membuat Selena terbangun.


"Bangaunlah! Aku mengajakmu belanja. Jika kau masih malas-malasan, aku akan pergi sendiri," bujuknya sambil menggoyangkan tubuh Selena.


"Ah... tunggu sebentar. Aku akan siap-siap dulu."


Selena segera bangun. Tentu seorang yang memiliki hobi shopping tidak akan menolak ajakan Anastasia untuk belanja.


Anastasia menunggu di kamar Selena tadi. Dia hanya tiduran sembari menunggu Selena selesai mandi. Dengan ditemani ponselnya dia keasikan.


Tiba-tiba suara dering telpon terdengar. Namun, bukan dari ponsel milik Anastasia, tapi milik Selena. Anastasia mengintip ponsel yang ribut itu.


Tertulis dilayar sana, My Dear.


Anastasia langsung bisa menyimpulkan kalau dia adalah pacarnya Selena. Anastasia mengangkatnya, dan hendak mengatakan Selena sedang mandi.


"Selena, aku merindukanmu dan tubuhmu. Tidak bisakah nanti malam kita bertemu? Huh?" Sahut Samuel, pacar Selena.


"Hallo, maaf Selena sedang mandi."


Panggilan langsung terputus. Anastasia hanya bingung saja. Dia seperti tertangkap basah hanya dengan mengatakan itu. Ah mungkin seperti itulah pacaran ya. Anastasia juga tidak pernah pacaran.


Beberapa menit berlalu dan Selena sudah siap dengan segalanya. Dia mengambil ponselnya.


"Oh Selena, pacarmu tadi menelpon tapi tadi langsung terputus."


"Pacar? Ah itu. Baiklah." Selena nampak begitu gugup. Hal itu terlihat jelas.


Anastasia segera mengendarai mobilnya dengan Selena yang duduk di samping kursi supir.


Anastasia sesekali melihat Selena yang sangat sibuk dengan ponselnya. Dia seperti ada masalah. Mobil sudah berjalan setengah dari tujuan.


"Kau sedang ada masalah Selena?" Tanya Anastasia tapi masih fokus menyetir.


"Ah tidak. Kak, apa Kak Mark sedang sibuk?"


"Aku rasa tidak. Jika kau ada perlu, kau bisa menemuinya. Aku bisa menggantikan pekerjaannya."


"Terimakasih, Kak Ana."


Segera setelah sampai di mall, mereka turun dari mobil. Hal pertama yang mereka cari adalah pakaian. Terutama mantel karena ini adalah musim dingin. Cuaca begitu ekstrem.


Setelah selesai memilih baju yang membutuhkan waktu beberapa jam mereka akan makan.


"Kak, apa kau tidak bekerja dengan kak Zico lagi?"


"Tidak. Tidak akan lagi."


"Kenapa? Uh.. tunggu dulu. Di sana itu, bukannya dia Kak Zico?"


Selena menunjuk pada seseorang yang dia maksud. Anastasia hendak memastikan.


Dari kejauhan sana, dia melihat Zico tengah berjalan bersama dengan seorang wanita yang sangat seksi. Wanita itu memakai pakaian yang terlalu mencolok dan sangat terbuka.


"Aku rasa, dia sedang berkencan," ujar Selena.


Lalu, Anastasia mengabaikan mereka berdua. Dia kembali di posisinya, sedangkan Selena masih menatap Zico dan wanitanya. 


Entah mengapa, Anastasia merasa aneh. Jantungnya berdetak tidak normal. Rasa cemas yang luar biasa datang. Dadanya begitu sakit, tapi tidak pasti dimana rasa sakit itu berada.


Anastasia mencoba untuk bertahan dan menghilangkan semua rasa cemasnya. Dia tidak tahu apa pula yang dia cemaskan.


"Kak, apa kau baik-baik saja? Kak Anastasia? Apa perlu kita pulang sekarang? Aku akan menelpon kak Mark untuk datang."


"Tunggu Selena. Jangan, aku sudah membaik."


Anastasia sebenarnya masih merasakannya. Terutama saat dia terus memikirkan Zico dan wanita yang bersamanya tadi.


Mereka melanjutkan makan walau Anastasia tidak menghabiskannya akibat tidak nafsu makan setelah melihat Zico.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!