
3
Hari pertama Anastasia akan dimulai. Malam ini ada pesta penyambutan karyawan baru, tentu untuk Anastasia. Walau pesta ini hanya kecil-kecilan, tapi setidaknya semuanya senang. Semua karyawan diundang untuk pesta tersebut. Pesta di adakan di restoran yang sudah di pesan pribadi oleh CEO, yaitu Zico.
"Anastasia, jangan lupa datang ya. Ini adalah pesta untuk mu," ucap Zico ramah pada Anastasia.
"Tentu Pak, terimakasih." Anastasia berusaha bersikap ramah pula. Jam kerja selesai. Karyawan pulang dan bersiap untuk pesta nanti malamnya.
Anastasia terlambat untuk pemberhentian bus yang menuju apartemen nya. Dia hanya bisa menunggu untuk mendapatkan kendaraan umum lainnya. Bukan hal mudah karena ini adalah selesainya jam kerja. Jalanan cukup ramai dan kendaraan umum cukup ramai juga.
Lalu, mobil berwarna silver berhenti di hadapan Anastasia. Ternyata itu adalah Zico.
"Butuh tumpangan Anastasia?" Tawar ramah Zico.
"Tidak perlu pak, terimakasih."
"Ayolah, nanti kau bisa terlambat datang di pesta." Bujuk lagi Zico.
Akhirnya Anastasia menuruti apa kata Zico, bos nya. Ah yang Anastasia lakukan adalah bersikap seperti seolah dia memang sekertaris yang bekerja pada bos nya.
"Kau tinggal bersama siapa?" ucap Zico memecah suasana canggung.
"Aku sendiri di apartemen."
Zico hanya ber-oh ria. Selanjutnya hanya diisi oleh suasana canggung hingga sampai di tujuan.
"Terimakasih sudah mengantarkan saya Pak. Maaf merepotkan."
"Tidak apa," namun Zico tak lekas pergi. Dia masih menatap Anastasia sambil tersenyum.
"Anda tidak pulang?" Anastasia berusaha mengusir bos nya yang sebenarnya mengganggunya itu.
"Uumm aku ingin toilet, yah aku pinjam toilet di apartemen mu," alasannya.
"Ada toilet umum di lobby, pak. Silahkan."
"Tidak! Toilet umum kotor." Alasannya lagi.
"Baiklah, silahkan lewat sini." Anastasia bersikap formal dan ramah. Apapun alasan agar bos nya segera pergi, tetap saja gagal.
Mereka masuk di apartemen Anastasia. Dan tentu Zico harus menggunakan toilet. Setelah Zico keluar, dia duduk di sofa.
"Anda tidak segera pulang pak? Saya rasa nanti anda yang akan terlambat di pesta kalau tidak segera pulang." Entah mengapa Anastasia begitu antusias ingin mengusir bos nya ini.
"Tidak, aku akan berangkat bersama mu."
"Tidak. Maksudku, tidak perlu. Saya bisa berangkat sendiri."
"Tidak apa. Oh iya, kau bisa bersikap biasa padaku? Jangan terlalu formal."
"Tidak bisa Pak. Anda atasan saya." Cih sebenarnya Anastasia kesal karena mengatakan hal itu. Tentu saja, karena Anastasia adalah bos nya.
"Baiklah, kau bisa bersikap formal saat urusan kantor. Tapi selain itu, kau bisa memanggil ku dengan namaku, Zico."
"Uumm baiklah, Zico..." sumpah beneran canggung walau Zico sangat santai.
Anastasia mandi dan mempersiapkan diri. Dia mengenakan blus lagi dengan warna berbeda. Dia masih seperti seorang sekertaris.
"Apa yang kau kenakan? Ini bukan pesta formal. Gunakan pakaian biasa saja."
"Tidak bisa, saya harus menjaga sikap saya pak."
"Panggil aku Zico, saya bukan bapak mu."
Mereka segera pergi ke pesta tersebut karena sudah malam. Sepertinya semuanya sudah datang di pesta itu. Semua karyawan menyambut Anastasia dengan bahagia tanpa tahu kalau semuanya yang disini bisa saja masuk jebakan Anastasia.
Semuanya menikmatinya. Makanan dan tentunya minuman alkohol. Tentu ini pesta penyambutan yang dilakukan orang dewasa, bukan pesta ulang tahun anak kecil. Anastasia berusaha tidak minum, walau sebenarnya dia sudah sering minum.
Anastasia hanya duduk dan menikmati makanannya. Lalu, seseorang datang menghampirinya.
"Iya, saya Anastasia, sekretaris yang baru."
"Semoga kau betah bekerja disini ya. Bos selalu ramah dengan karyawan nya. Kau pasti suka dengannya." Dia duduk di sebelah Anastasia.
Suka apanya, bagi Anastasia Zico malah terlihat menyebalkan. Ingin rasanya Anastasia membunuhnya. Tapi, dia terus menahannya hingga waktunya tiba.
Anastasia POV
Astaga pria ini malah duduk disini. Kalau saja bukan dalam tugas, sudah aku hajar habis-habisan pria menyebalkan ini. Sebaiknya aku kabur saja.
"Kent, aku mau ke toilet dulu ya." Tentu saja, alasan wanita jika merasa tidak nyaman dengan pria akan kabur ke toilet.
Di toilet ada karyawan wanita lainnya. Dia menghampiri aku salah satunya. Menatapku tajam-tajam dengan tatapan tak suka.
"Hei kau! Anak baru, jangan macam-macam dengan Zico ya! Jangan berani menggodanya." Astaga ****** ini kerasukan apa sih. Siapa juga yang mau sama dia.
"Maaf ya ratu ******, aku tidak seperti mu. Lagipula itu bukan tujuan ku. Huh." Aku mengomelinya hingga dia berhenti bicara.
"Apa tujuan mu sebenarnya?" banyak tanya sekali wanita ini. Tentu saja akan aku beri tahu yang sebenarnya, karena dia bukanlah ancaman sebenarnya dalam misi ku kali ini.
"Tujuan ku ya? Uumm mungkin aku akan membantai dan membunuh Zico? Hahaha bercanda, walau itu mungkin benar." Aku lekas pergi dari toilet itu karena aku terlalu malas meladeni wanita ****** itu. Bisa aku lihat juga tatapan ketakutannya padaku. Baguslah setidaknya dia tidak membuatku risih lagi.
Pesta yang membosankan. Bagaimana bisa di sebuah pesta aku tidak minum sedikit pun.
"Anastasia sini!" Panggilan itu dari Kent. Jujur saja, aku tidak yakin dengan pria itu. Dia seperti hidung belang. Ya, bagaimana pun aku harus terlihat natural.
Aku mendekatinya, tapi kaki ku tak sengaja menabrak sesuatu dan
Bruk!
Aku terjatuh di atas Kent. Tepat di atasnya dan wajah kami hampir bersentuhan. Astaga apa-apaan ini.
"Ah maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja." Aku tentu segara bangun, aku bisa yakin terjadi salah paham disini.
"Tidak, tidak apa. Kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja." Suasana canggung terjadi.
Astaga aku merasa tidak nyaman dengan semua ini. Wanita ****** itu dan pria hidung belang ini. Aahh aku ingin pulang.
Tiba-tiba sesuatu ada di tanganku. Ada yang menyentuh tanganku. Menggenggam tanganku. Tentu saja kalau bukan Kent siapa lagi. Hanya dia yang duduk bersama ku sekarang ini. Sebenarnya apa sih maunya. Kalau situasinya pas, sudah aku patah kan tangannya ini.
Aku menatapnya. Dia hanya bersikap biasa. Aku juga berusaha melepaskan genggamannya ini. Tapi, tak aku sangka ternyata dia kuat juga. Huh, hanya satu jalan keluar disaat seperti ini. Yaitu, mematahkan tangannya. Tapi, situasi ini...
Lalu, tangannya lepas. Ah syukurlah. Tapi, tangan sialan itu kembali beraksi dengan menyentuh paha ku. Astaga benar dugaan ku tentang hidung belang ini.
"Maaf, bisakah anda bersikap sopan kepada wanita? Atau tangan anda akan patah?" Ancam ku. Sebenarnya bukan ancaman tapi aksi ku.
"Memangnya kenapa? Kau yang menggoda ku terlebih dulu, jadi ini yang kau mau bukan." Sialan ini.
Aku memukul tangannya lalu lepas dari paha ku. Aku segara pergi dengan membawa handphone ku untuk balas dendam dengan orang yang berani denganku ini.
"Halo, Mark. Patahkan tangan orang ini. Akan aku kirimkan data orang itu. Malam ini juga." Ucapku dalam telepon kepada anak buah ku.
"Baik bos, sesuai permintaan." Jawab Mark disana.
Bagus, aku bisa tenang setelah balas dendam. Lalu, saat akan kembali di pesta seseorang telah di belakang ku.
"Zico?"
To be continued
Berikan saran atau kritik!
Jangan lupa untuk terus mendukung author!