The Big Boss

The Big Boss
Empat Puluh Tiga



43


Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Aku tidak boleh terlambat. Aku harus menghentikan Marco. Nicholas di sebelahku hanya berwajah pucat karena caraku mengendarai mobil.


Tiba-tiba aku mendapat panggilan dari anak buahku. Aku pelankan mobilku.


"Cepat katakan ada apa?"


"Marco sudah pergi, tanpa membawa apapun. Sepertinya mereka kasih menyimpan senjata mereka. Dan gudang dijaga ketat,"


"Ikuti Marco. Dan pastikan tetap berjaga di gudang. Beritahu aku dimana dia."


"Target menuju jembatan. Gawat bos, mobil Zico berada di sana juga."


Aku menghentikan mobil di pinggir jalan. Aku seperti tidak berdaya lagi. Aku tidak tahu harua bagaimana jika Zico berada di sana. Sejak kapan Zico bertemu dengan Marco.


"Tetap awasi Marco dan Zico."


"Baik bos."


Panggilan mati.


Aku merasa tidak berdaya. Aku kehabisan ide untuk menghancurkan dia. Aku merasa bodoh dan gagal.


Tiba-tiba Nicholas memelukku. Aku merasa nyaman dengan pelukannya. Karena mungkin aku sedang membutuhkannya. Tidak. Aku sangat membutuhkannya.


"Semua akan baik-baik saja," ucapnya mencoba menenangkan.


"Baiklah. Sudah aku putuskan, aku akan ...,"


Tiba-tiba suara panggilan masuk lagi dari anak buahku. Aku mengangkatnya.


"Bahaya! Dave datang untuk memberontak target. Dave dalam perjalanan hampir sampai di kediaman target,"


"Baiklah. Siapkan semua anak buah. Berkumpul di sana dan tetap sembunyi."


Aku menyalakan mobil lagi. Aku mengendarainya dengan cepat. Melaju menuju tujuan.


"Anastasia jangan gegabah. Kau tidak bisa berbuat karena emosimu saja. Pikirkan baik-baik."


"Tidak ada pilihan, Nicholas. Hanya ada satu yang akan berhasil diantara 3, Dave, Marco, atau aku. Dan aku ingin aku yang akan berhasil."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau juga butuh Mark untuk bertindak."


"Tidak. Biarkan aku menangani ini sendiri. Jika kau muak denganku, kau boleh turun disini,"


Aku menghentikan mobil.


"Tidak aku ikut denganmu. Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri."


Aku mengendarai mobil lagi menuju tujuan. Tak lama, aku sampai. Sudah ada beberapa anak buahku di sana. Masih sembunyi. Kebanyakan mereka sedang menyamar. Aku mengambil pistol yang aku isi peluru, lala keluar dari mobil.


"Bagaimana keadaannya?" Tanyaku pada anak buahku.


"Belum terjadi apapun. Tapi, Dave sudah di dalam."


"Baiklah. Beberapa saat lagi kita akan masuk. Kepung tempat ini. Sisanya ikut aku. Ini tempat terpencil, jadi jangan khawatir jika ketahuan."


Jujur saja, jantungku berdebar kencang. Aku mengkhawatirkan sesuatu. Entah sesuatu apa itu. Mungkinkah diriku, Mark, atau yang lebih mengejutkan adalah Zico.


Tiba-tiba tanganku dipegang. Dia memegang erat tanganku.


"Jangan cemas. Aku akan membantumu."


Aku mengangguk dengan perkataan Nicholas. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Dengan langkah hati-hati aku masuk ke dalam gudang itu. Atau mungkin terlalu besar jika disebut gudang?


Aku melihat di sana ada Dave dan Marco yang saling berhadap-hadapan. Aku tidak pasti. Tapi, dibalik tangan Marco bisa aku lihat dia siaga menembakkan pistol yang ia sembunyikan. Padahal disampingnya ada Zico.


Mungkin ini waktunya. Aku masuk dengan terang-terangan. Semua menatapku. Walau aku masuk dengan Nicholas dan anak buahku, tapi semua mata menuju padaku.


Aku mendekati mereka. Tidak untuk bernegosiasi tapi untuk beraksi.


"Anastasia? Apa yang kau lakukan disini?" Zico masih belum tahu, atau mungkin Marco belum mengatakannya.


"Simpan pertanyaanmu, Zico. Ini bukan urusanmu."


"Sudah aku duga kau akan datang. Tepat sesuai rencana. Kalian berdua hanyalah kutu pengganggu, dan pantas untuk disingkirkan," ujar Marco penuh percaya diri.


"Kak Marco! Apa maksudmu? Kau hanya akan membalaskan Eliza bukan? Kenapa kau libatkan Anastasia?"


"Dengar Zico. Dia pembunuhnya, Anastasia. Dan dia menerima perintah dari Dave. Mungkin kau belum kenal siapa Anastasia. Baiklah, Anastasia apa perlu aku yang menjelaskannya?"


"Berhenti bicara brengsek!"


Aku menghadapkan pistol pada Marco. Aku tidak tahan dengan omongan si brengsek itu. Membuatku benar-benar muak.


"Anastasia, jangan gegabah," ucap Nicholas di sampingku.


Aku tidak mengabaikannya. Aku tidak peduli.


"Kurasa yang dikatakan kakakmu benar, Anastasia. Jangan gegabah atau dua orang yang kau sayangi itu akan menghilang."


Layar monitor menyala. Menampilkan sebuah video dimana Selena di sekap dan tepat di kepalanya terdapat pistol yang siap di tembakkan. Dan satu lagi, Mark juga akan ditembak.


"Kak Marco! Hentikan!"


"Zico! Kau gila? Dia telah membunuh istriku dan aku akan membiarkan dia? Jangan gila kamu. Aku tidak peduli siapapun dia, karena nyawa harus dibayar dengan nyawa."


Kakiku lemas. Aku terjatuh. Aku gagal. Aku gagal. Aku gagal dalam semua hal. Terutama melindungi orang yang aku sayangi. Aku terlalu bodoh. Aku terlalu naif. Aku terlalu gila akan kemenangan.


"Sudah Anastasia. Akui saja kekalahan mu. Kali ini aku yang menang. Kau tidak bisa mengalahkan otak cerdas ku."


Aku tidak mendengarnya. Aku hanya terlalu kecewa dengan diriku sendiri. Aku benci diriku sendiri. Rasanya aku tidak ingin terlahir di dunia ini. Aku ingin mati. Aku tidak ingin bernafas lagi.


Aku akan merasa bersalah jika aku terus bernafas.


Namun, tiba-tiba Nicholas berlari ke arah Dave. Benar aku melihat sekarang. Dave mengarahkan pistolnya pada Marco yang tengah sibuk merasakan kemenangannya.


Pistol sudah terlepas. Namun, karena didorong oleh Nicholas, peluru itu meleset dan mengarah pada Zico, tepat ke arah kepalanya


Aku tidak berpikir apapun. Aku berlari dengan cepat. Aku melompat untuk melindungi Zico dan...


Bang!


Peluru mengenai ku. Di dadaku. Aku tidak merasakan sakit apapun. Bukankah seharusnya aku merasakan sakit. Aku hanya merasakan rasa penyesalanku tadi. Sama sekali belum menghilang.


Pandanganku kabur. Zico tepat di depanku.


Dia selamat. Seketika aku teringat dengan wanita yang pernah aku bunuh bilang padaku tentang pengorbanan kepada orang yang dicintai.


Apa ini? Jadi, aku mencintai Zico? Aku tidak bisa mengucapkan apapun. Bahwa sebenarnya aku ingin mengatakan perasaanku pada Zico. Bahwa aku mencintainya. Aku mencintainya dan aku mempertaruhkan nyawaku untuknya.


Namun, kurasa aku terlambat. Aku tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Pandanganku mulai menghitam. Dan seketika semuanya hitam dan aku tidak melihat apapun.


Mungkin ini jawaban permintaanku tadi. Yaitu untuk mati.


....///........


**Bersambung


Terimakasih telah membaca!


Dukung author agar tetap berkarya!


Berikan tanggapan atau komentar ya...


TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!