The Big Boss

The Big Boss
Tiga Puluh



30


Anastasia's POV


Kami pulang setelah selesai dan puas berbelanja. Kami memutuskan untuk pulang ke apartemen. Aku begitu lelah walau hanya berbelanja di mall dan menikmati berbagai barang yang bagus di sana.


Dan juga melihat Zico dan wanitanya. Ah aku begitu puas dengan perjalanan hari ini. Setelah sampai di apartemen, aku menaruh barang-barangku dan langsung merebahkan tubuhku yang pegal.


Akhir-akhir ini juga aku selalu merasakan punggungku yang mudah sakit. Aku berpikir apa karena penyakit ginjal yang aku derita? Aku tidak begitu paham dengan ilmu kedokteran, hanya menebak saja.


"Selena, aku sebaiknya tadi kita pergi ke spa saja? Aku merasa pegal di setiap tubuhku," saranku.


Aku lihat Selena yang duduk di sampingku masih sibuk dengan ponselnya. Aku kesal dengannya.


"Kya! Dengarkan aku!" Aku sampar ponsel ditangannya hingga terjatuh dan terlempar entah kemana.


"Apa yang kau lakukan? Pergilah jika kau ingin ke spa," dia marah padaku dengan mengambil ponselnya kembali.


Ada yang aneh dengan wanita ini. Tidak seperti biasanya dia marah seperti ini padaku. Setahuku dia hanya bisa marah pada Mark.


"Ada apa denganmu? Bertengkar dengan pacarmu?"


"Ah entahlah. Aku ingin pergi ke club saja."


Dia beranjak dan aku langsung bertindak.


"Apa? Tunggu dulu. Untuk apa kau ke sana? Mark bisa memarahi mu seperti terakhir kali. Ikutlah denganku ke spa saja."


"Akh! Ini membunuhku. Baiklah."


Selena setuju dengan pendapatku dan aku berhasil mencegahnya untuk pergi ke club. Lagipula siapa yang kau ke club di sore hari?


Aku mengendarai mobil menuju tempat spa terbaik di kota. Tentu, mahal tapi aku tidak peduli asalkan aku menikmatinya.


Aku masuk dengan Selena bersamaku. Namun, sungguh ketika aku datang di tempat itu, aku langsung merasa bahwa dunia ini sempit. Aku rasa dunia ini begitu kecil.


Aku melihat Zico tengah berada di ruang tunggu tempat spa itu berada. Aku sempat menatapnya sekejap lalu langsung aku alihkan ketika dia menyadari aku melihatnya.


Sungguh ini hari yang sial. Dia selalu ada di manapun aku berada. Aku mulai kesal dan marah. Aku membatalkan spa di sana.


"Kita batalkan. Ayo kita ikut rencana mu untuk pergi ke club!" ucapku penuh semangat.


Aku tarik ucapan ku tentang pergi ke club di sore hari. Aku akan pergi tidak peduli jam berapa ini karena pergi ke club bukan tentang waktu tapi tentang pelampiasan.


"Tapi, kak tunggu. Kau bilang akan melakukan spa. Bagaimana jika kak Mark tahu?"


"Biarkan aku yang bertanggung jawab."


Selena tidak bisa menghentikan semangatku untuk pergi ke club. Aku mengendarai mobil dengan kencang. Yeah aku lincah di jalanan.


Sampailah aku di tempat club yang dulu sering aku datangi. Sudah lama aku tidak merasakan suasana berada di club.


Aku masuk setelah memberikan tanda pengenal ku. Sedangkan, Selena dia sudah di perbolehkan.


Suara musik sudah terdengar walau belum malam. Aku mencari tempat duduk di sana. Club itu belum terlalu ramai. Lalu, seorang pelayan pria datang menawarkan minuman.


"Aku ingin wine," ucapku dengan yakin.


"Tunggu, Kak kau tidak boleh minum, kan? Kenapa melakukan pelampiasan disini? Ayo kita pulang, aku tidak ingin dimarahi oleh Kak Mark karena membiarkanmu minum."


"Apa? Tenanglah aku yang akan menjagamu dari Mark."


Pelayan itu pergi untuk membawa wine yang aku inginkan. Tak lama kemudian, dia datang kembali dengan wine dan gelasnya.


Dia menuangkannya dengan anggun dan aku menikmatinya. Dia pergi kembali setelah membawakan pesanan ku.


"Tunggu dulu. Kak, pikirkan dirimu. Kau bisa sakit," gelisah Selena tidak jelas.


"Dengar, aku tidak akan sakit. Dan jangan menghubungi Mark. Jika kau melakukannya aku akan menghukum mu, mengerti?"


Aku meneguk wine di gelas itu. Sungguh aku menikmatinya. Aku sudah sangat lama tidak merasakannya. Benar-benar nikmat. Aku menyukainya.


"Apa yang kau pikirkan? Selena, ambil wine itu dan minum denganku."


"Dengarkan baik-baik, jika ini wine terakhirku, maka aku harus menikmatinya. Dan jika aku mati nanti, aku akan damai karena sudah menikmati wine ini."


Cakap Ku tidak jelas. Aku sudah mulai pusing. Apa mungkin aku mabuk setelah satu gelas? Tidak mungkin. Setelah sekian lama aku tidak minum alkohol, kemampuanku untuk tidak mabuk berkurang?


Benar. Aku mulai membual dan pusing. Aku rasa aku benar-benar mabuk sekarang.


"Sudah kak. Aku akan mengembalikan ini saja. Terlalu berbahaya jika di dekatmu."


Selena pergi dengan membawa botol wine itu pergi. Aku tidak rela untuk membiarkan botol wine itu masih terisi.


Namun, setelah aku mabuk seperti ini, ada orang yang berusaha memanfaatkan aku.


Seorang pria datang padaku. Dia duduk di dekatku. Dia mencoba menggodaku dengan wajah tampannya dan tubuh seksinya itu.


Aku mengabaikannya walau sedikit aku melirik padanya.


"Sendiri? Inginku temani?" Ucapnya dengan mendekatkan wajahnya padaku.


Dia lalu menyentuh bibirku dengan tangannya. Walau aku sedang mabuk, aku masih bisa berpikir. Mungkin dia pikir aku sangat bodoh. Lagipula, aku bukan wanita murahan.


"Menjauh darinya, paman!" Bentak Selena yang tiba-tiba berada di depanku.


Dia berani menghadapi laki-laki ini saat sedang sendiri dan aku mabuk.


"Siapa kau? Kau memanggilku, paman? Kalau begitu, kau ikut saja dengan pamanmu ini, huh?"


Selena mendekat pada pria brengsek itu. Dia mendekat lagi padanya dan lebih dekat. Aku tidak percaya dia melakukannya untukku. Aku harus menghentikannya.


Lalu, suatu hal terjadi diluar dugaan ku. Selena menendang kuat pada bagian sensitif pria itu. Dia merengek kesakitan. Dia tersungkur dilantai.


"Sudah kak. Ayo kita pergi, aku tidak ingin menambah masalah disini."


Selena menarik tanganku. Dia membawaku ke mobil dan menaruh ku di kursi penumpang di belakang. Dia akan menyetir, karena dia tidak mabuk. Beruntung dia tidak minum sepertiku.


Dia menyetir mobil dengan hati-hati. Tidak sepertiku yang berani dengan kecepatan tinggi. Kami akhirnya kembali lagi di apartemen.


Seharunya dari tadi aku melakukan ini. Aku tidak akan bertemu Zico dan pria brengsek di club tadi. Ah apa boleh buat, semua sudah terjadi.


Namun, dibalik kisah menyeramkan tadi, ada sesuatu yang lebih menyeramkan dan mencekam lagi. Yaitu,


"Mark? Kau disini?"


Aku berdiri tegak. Berusaha seolah tidak seperti orang mabuk.


"Kak Mark? Kenapa datang tiba-tiba?" Selena sedikit takut berhadapan dengan kakaknya sendiri.


"Kenapa? Terkejut? Bukankah kalian sering melihatku? Dan kalian dari mana?"


Aku dan Selena terdiam. Belum menjawab pertanyaan dari Mark. Lalu, aku mendekat padanya. Merangkul pundaknya dan berusaha akrab mungkin dengannya.


"Hei, jangan pernah membentak atau memarahi Selena, dia tidak salah apapun. Aku yang mengajaknya," ucapku dengan sepenuh hati pula Mark sudah mengerti.


"Selena, masuk ke kamarmu."


"Tap,..."


"Masuk ke kamarmu, kubilang," ucap Mark dengan suara dingin tanpa menatap Selena sedikitpun.


Selena terlalu takut untuk menolak perintah kakaknya.


"Winny, kenapa kau melakukan ini lagi? Kau sedang ada masalah lagi? Bukankah pekerjaanmu berjalan lancar?"


"Kau tidak paham. Kau tidak mengerti. Dengarkan, aku Mark. Aku baik-baik saja."


"Dengar? Kau saja tidak pernah mendengarkan ku. Mana mungkin aku akan mendengarkan mu. Sudah cukup! ayo kita ke dokter. Kau harus di periksa."


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!