The Big Boss

The Big Boss
Tiga Puluh Sembilan



39


Ketika Nicholas sampai di markas bersama Mark.


Nicholas tampak santai di balkon. Apa dia tidak mengerti misi ini? Sejak kedatangannya tadi, dia bersikap seolah dia sedang berlibur.


Aku tengah memantau pergerakan anak buah yang mengawasi target. Yeah aku harus tetap siaga. Sejak aku datang kesini, aku belum tidur. Aku hanya tidur 1-2 jam.


"Apa kau tidak lelah?"


Dia mengkagetkanku dengan tiba-tiba berdiri dibelakangku. Itu membuatku tidak nyaman. Kenapa Anastasia mengirim orang seperti dia? Aku tahu dia kakaknya, tapi Anastasia tahu sifatnya itu.


"Kau ingin membantu?"


"Ada yang harus aku kerjakan? Ah aku sudah lama tidak berolahraga."


Dia bersikap seolah dia akan berkelahi dengan banyak orang. Dia sok jago. Aku tidak suka dengannya. Terlebih dulu dia juga sering menyakiti Anastasia.


"Belikan aku kopi dan pizza."


"Apa? Aku bukan anak buahmu. Minta mereka saja. Aku memiliki tugas penting, bahkan lebih penting darimu."


Yeah seperti itulah dia. Sok jago. Ah aku jadi penasaran misi yang dilakukan Anastasia di sana. Dia bilang itu ide Nicholas. Apa ide nya bisa dipercaya?


"Misi apa yang Anastasia lakukan disana?"


"Menahan Zico," ucapnya dengan santai.


Aku berdiri. Sangat terkejut.


"Apa? Kau gila? Bagaimana kau biarkan Anastasia bersama Zico? Tapi bagaimana caranya?"


"Menggoda Zico. Kau tahu Anastasia pintar dalam menggoda para pria. Terutama Zico, kudengar Zico sangat menyukai adikku itu. Hah! Aku bangga dengan Anastasia."


"Bangga? Kakak macam apa kau ini?"


"Percayalah pada Anastasia, dia sering membuat kliennya terkejut bukan? Dia pandai melakukan apapun, karena itulah aku bangga dengannya. Hanya itu juga satunya cara agar Zico tidak ikut campur dengan target."


Baiklah aku membiarkannya. Aku menjadi khawatir dengan keadaan Anastasia saat ini. Aku ingin menelpon Anastasia, tapi Nicholas mencegahku. Dia bilang, Anastasia tidak ingin diganggu.


Dasar justru kau itu pengganggu bodoh!


....///-///....


Diharap bijak! Terdapat unsur dewasa!


Malam di hotel *(lanjutkan kemarin)


Zico berhasil melucutiku. Dia meninggalkan celana dalamku tetap sana. Entah apa yang akan dia lakukan. Aku sudah lelah dan tubuhku mulai lemas. Zico menguatkan ikatan di pergelangan tanganku.


Aku semakin cemas. Dia berdiri lagi. Aku lihat dia berjalan menuju meja. Disana ada tas. Tas itu memang mencurigakan sejak awal. Dia mengambil sesuatu dari dalam tas itu. Aku tidak bisa melihatnya. Dia juga menyembunyikannya.


Salah satunya dia keluarkan. Itu adalah dasi. Hanya dasinya lagi. Dia mengikatkan dasi itu lagi padaku. Kini mataku yang akan dia tutupi. Aku semakin takut. Kenapa harus menutupinya.


"Zic, apa yang akan kau lakukan?"


"Tenanglah, kau percaya padaku, kan?"


Aku tidak sepenuhnya percaya padanya. Dia sudah menutup mataku. Kini aku tidak bisa berbuat apapun. Dia membuka celana dalamku. Lalu, dia melebarkan kakiku.


Tunggu. Jangan-jangan. Itu vibrator?


"Zic.. agh... apa yang ugh... kau lakukan?"


Aku mendesah terus. Tapi kenapa dia melakukan itu padaku. Badanku mulai lemas. Dia terus menyetrum. Membuatku terus mengerang juga.


Zico membuka dasi yang ada pada mataku. Aku bisa melihat akhirnya. Aku sudah berkeringat banyak. Aku ketakutan dan aku cemas.


Vibrator itu masih bekerja. Kenapa Zico mempermainkan aku?


"Uh... kenapa kau melakukan itu?"


Dia tidak membiarkan aku bicara. Dia menutup bibirku. Aku tidak bisa bergerak. Dia menahan tanganku untuk tetap di posisi atas. Kakiku terlalu sakit untuk digerakkan.


Aku lelah. Nafasku tidak teratur lagi. Zico masih beraksi dengan membuat kissmark di tubuhku. Terutama di leher dan dadaku. Aku tidak merespon lagi. Aku terlalu lelah.


Lalu, aku tidak melihat apapun


Semuanya gelap. Tubuhku juga lemas tidak berdaya. Yang ada dipikiranku hanyalah, 'kenapa dia melakukan itu padaku?'.


....


Pagi ini aku terbangun. Tubuhku masih belum pulih sepenuhnya. ************ ku juga sakit. Aku hanya memakai celana dalam dan bra dengan tertutup selimut.


Di samping ranjangku ada Zico yang masih tertidur dengan telanjang dada. Aku malu untuk menampakan diri kepadanya.


Tapi, TUNGGU DULU!


Disamping itu, dia melakukan hal bodoh padaku. Aku bangun dengan tiba-tiba dengan menutup tubuhku memakai selimut.


Dia terbangun secara otomatis. Aku masih menatapnya dengan tatapan membunuh.


Dia bangun juga dan mengecup bibirku singkat, lalu kembali tidur. Setelah apa yang dia lakukan semalam? Wah dia benar-benar tidak punya perasaan ya?


"Bangunlah. Aku perlu bicara padamu."


"Gunakan pakaianmu dulu, kau sudah membuatku terbangun sedari tadi."


Apa? Astaga. Baiklah aku akan memakai pakaianku dulu. Tapi, tangannya mencegahku lagi.


"Kenapa lagi? Kau memintaku berpakaian, bukan?"


"Jangan. Aku tarik kata-kataku. Tetaplah seperti itu, dan kemarilah."


Dia mengajakku untuk ke ranjang lagi. Dia tampak lelah padahal semalam dia tidak melakukan apapun. Aku yang lelah. Tubuhku juga masih lemas.


Aku melihat kecermin. Wajahku tampak pucat pasi. Tapi, kenapa seperti ini? Kenapa pucat?


....///....


Pagi yang sama di Markas


.


.


.


Aku bersiap-siap untuk pergi. Aku juga sudah sarapan. Hanya aku yang sudah. Anak buah lain dan Mark belum. Aku lihat, Mark masih berjaga di depan PC. Memantau pergerakan.


Semalaman dia tidak tidur. Aku lupa tentang perintah Anastasia untuk Mark. Aku menghampirinya.


Matanya hitam seperti panda. Wajahnya tampak mengantuk tapi tidak tidur.


"Hei! Aku mendapat perintah dari Anastasia."


Dia bangun sepenuhnya.


"Anastasia? Dimana dia?"


"Lewat telpon. Kau dapat perintah darinya, kau harus tidur dengan cukup, intinya jaga kesehatanmu. Itu perintah Anastasia."


"Benarkah? Kapan dia akan kembali ke markas?"


"Entahlah. Sudahlah aku akan pergi dulu."


"Kau mau kemana pagi seperti ini?"


Memang benar masih pagi. Bahkan matahari belum terbit sepenuhnya. Apa aku harus memberitahunya?


"Aku dapat tugas dari Anastasia. Aku harus ke apartemen untuk mengawasi adikmu."


"Maksudmu Selena? Mengawasi? Kenapa harus kau? Apa benar itu perintah Anastasia?"


"Tentu saja. Percayalah padaku. Aku tidak akan macam-macam."


Setelah berdebat panjang dengan Mark, aku akhirnya bisa pergi juga. Ah bagaimana bisa ada pria seberisik dia. Bagaimana pula Anastasia bisa betah bersamanya.


Aku segera pergi menuju apartemen. Anastasia sudah memberikan kode passwordnya padaku. Sebenarnya aku masih punya unit di sebelahnya tapi aku harus menjalankan tugasku.


Aku masuk tanpa izin dari Selena. Entah dia ada di rumah atau tidak. Seharusnya jika dia ada kelas pagi, dia sudah berangkat ke kampus. Namun, saat aku masuk aku sangat terkejut.


Dilantai, sampah berserakan. Sisa-sisa makanan masih disana. Televisi menyala. Dan seseorang tengah tidur di depan televisi, di atas sofa. Dia Selena. Masih menggunakan piama yang tipis. Tubuhnya terlihat jelas.


Dia mulai membuka matanya. Mungkin sedikit terganggu dengan kehadiranku. Lagipula, suara televisi mungkin sudah cukup untuk membangunkannya.


"Bangunlah, ini sudah pagi."


Aku mencoba membangunkannya hanya dengan berkata seperti itu. Kurasa dia hampir sama dengan Anastasia, menyebalkan.


"Huh?! Kau siapa?"


Dia menjaga jarak padaku setelah sadar dan bangun dari tidur nyenyaknya. Padahal kakaknya sendiri belum tidur.


"Tenang, aku hanya mendapat perintah dari Anastasia untuk menjagamu. Aku Nicholas, kakaknya Anastasia."


Aku mengulurkan tanganku padanya. Dia hanya melihat tanganku tanpa merespons jabatan tanganku. Baiklah, aku menarik tanganku lagi dan memasukannya ke dalam saku mantel.


Aku duduk di sofa di dekatnya. Dia masih takut dan gelisah, entah apa yang dia pikirkan.


**Bersambung...


Terimakasih telah membaca!


Berikan dukungan kepada author!


Tunggu episode selanjutnya...


TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!