The Big Boss

The Big Boss
Duapuluh



20


Anastasia menangis. Dia merasa lemah. Jujur saja, ini adalah tugas paling menyulitkan yang pernah Anastasia tangani.


Berbagai kejadian telah menimpanya sejak dia menerima tugas dari Dave ini.


Malam ini juga, Anastasia akan menemui Dave. Tentu untuk membahas tentang tugas yang Dave berikan.


Mereka bertemu di mansion milik Anastasia. Sekalian menjemput Mark dan Selena.


Masuklah seorang pria yang Anastasia tunggu di sebuah ruangan rahasia di mansion itu.


"Lama tak jumpa Anastasia."


"Baiklah Dave, aku akan langsung bicara padamu."


"Katakan saja Anastasia."


"Aku untuk sementara akan berhenti dari misi mu. Bukannya aku tidak profesional tapi aku membutuhkan waktu."


"Tentu saja Anastasia. Kau bisa melakukannya dengan intens. Asal bisa kau pastikan dia menderita."


Mereka sedikit bercakap-cakap mengenai misi dan kabar masing-masing.


Lalu, Dave pergi dari mansion karena keperluannya sudah selesai.


Di sana tinggal Anastasia, Mark, Selena, dan beberapa anak buah yang bertugas menjaga mansion.


"Mark aku akan pergi ke Las Vegas. Untuk beberapa hari atau beberapa minggu."


Kabar itu begitu tiba-tiba dari Anastasia.


"Kenapa? Kau sedang dalam keadaan tidak sehat."


"Aku harus pulang ke rumahku Mark. Aku hanya berkunjung ke rumah bibiku dan mengunjungi temanku."


"Aku harus ikut bersamamu, Anastasia."


"Kau harus memikirkan Selena."


"Aku tidak keberatan jika kakakku ingin pergi. Lagipula aku sudah besar." Potong Selena tiba-tiba.


"Kau dengar itu Anastasia. Selena sudah dewasa."


Mereka tertawa lepas seperti sebuah keluarga yang tengah dilanda bahagia.


Anastasia mulai berkemas untuk perjalanannya nanti ke Las Vegas. Tak banyak yang Anastasia bawa. Hanya kartu dan beberapa setel pakaian.


Anastasia tak suka sesuatu yang ribet.


"Kak, apa kau melupakan sesuatu?" Tanya Selena yang memperhatikan Anastasia yang tengah berbenah.


"Apa yang aku lupakan? Biarku ingat dulu. Ummm ah obatku."


"Bukan itu, aku sudah memasukannya di dalam koper, kak. Astaga masa kakak lupa dengan pekerjaan kakak sendiri," tegur Selena.


"Benar juga. Aku hampir melupakannya. Katakan saja pada anak buah Mark untuk bertanggung jawab jika Dave atau klien lain mencari ku."


"Bukan pekerjaan itu kak. Tapi kakak kan bekerja dengan Kak Zico. Astaga, kau tidak ingin izin cuti."


"Aku akan menelponnya. Dan Selena, kau akan pindah unit kamar juga. Aku tidak ingin kau diganggu oleh Zico atau temannya itu."


"Kenapa kak? Lalu apa boleh aku mengajak temanku?"


"Selena! Hentikan, itu bukan rumahmu," tegur Mark.


"Aku tidak meminta izin padamu kak. Aku bertanya pada Kak Anastasia," Anastasia hanya tersenyum melihat kelakuan adik-kakak itu.


"Tentu kau boleh. Tapi kau juga harus bertanggung jawab. Dan jangan bawa laki-laki, ingat itu."


Anastasia sudah siap dengan kopernya. Begitu juga dengan Mark. Anastasia akan melakukan penerbangan pribadinya. Ini belum terlalu malam untuk pergi keluar kota.


"Anastasia biar aku saja yang menelpon dia."


Mark tahu kalau Anastasia akan menelpon Zico untuk meminta cuti.


"Biar aku saja Mark. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."


"Hallo." Sapa Anastasia ditelpon.


"Iya Anastasia?" Jawab Zico diseberang telpon.


"Aku ingin cuti untuk beberapa hari. Aku tahu ini tiba-tiba dan kau pasti menyangka aku tidak profesional. Tapi ini mendesak. Kau bisa pecat aku jika kau mau."


"Ada apa? Kau sakit lagi? Katakan? Aku akan ketempat mu sekarang."


"Aku tidak sedang di rumah. Maaf akan aku tutup. Dan aku mengirim sekretaris baru untuk sementara menggantikan ku. Kau tidak perlu khawatir."


Anastasia langsung menutup telpon. Anastasia sudah berada di bandara siap untuk penerbangannya.


Anastasia tak ingin membebani bibinya yang tinggal bersama kedua anaknya di rumah yang sederhana.


Saat check in di hotel. Kamar yang tersisa hanya satu dengan dua kasur. Ya tidak terlalu masalah. Lagipula jika harus mencari hotel lagi, ini sudah larut malam.


Anastasia sudah merebahkan tubuhnya di kasur karena badannya capek.


"Kau tau Mark, aku ingin wine."


"Kau harus hati-hati dengan makanan atau minuman mu, Anastasia."


"Ayolah nama tengahku saja Winny," gurau Anastasia.


"Lalu, apa hubungannya. Aku akan memesan makanan saja. Kau harus makan yang mudah dicerna."


Malam ini mereka akan tidur di hotel. Rencananya, esok Anastasia akan mengunjungi Bibi Katt.


Di Las Vegas, malam seperti siang. Bahkan lebih ramai daripada siang. Banyak pemabuk dan judi disini.


***


Pagi hari datang. Di Kota Washington yang dingin. Semalam Zico tidak tidur karena memikirkan Anastasia terus menerus.


"Aisss! Aku harus menemui Anastasia di apartemennya!" Gumamnya dengan kesalnya.


"Tahan dirimu, sobat. Kau sedang mabuk." Samuel menegur Zico.


Benar, semalam Zico mengajak Samuel untuk minum. Samuel tidak minum banyak karena tahu Zico akan mabuk parah dan ia harus menjaganya.


"Antar aku ke tempat Anastasia sekarang juga," pinta Zico.


"Tidak. Jika kau mabuk seperti ini, pasti dia tidak akan menemui mu."


Dan Bbruk!


Zico terjatuh karena terlalu banyak minum alkohol. Dia tidak bisa mengontrol diri saat dalam keadaan terpuruk.


Samuel membawa Zico ke kamarnya. Lalu membaringkan sahabat baiknya itu dengan hati-hati. Lalu, meninggalkan Zico di sana.


Samuel keluar. Dia akan menemui pacarnya, Selena. Mereka akan bertemu di sebuah restoran.


Di sana sudah ada Selena tengah menunggu sambil memainkan smartphone nya.


"Maaf lama menunggu ya."


"Tidak juga kok."


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa Anastasia sedang berpergian?"


Setelah Samuel menanyakan hal itu, Selena menaruh smartphone nya dan fokus pada pembicaraan.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu? Apa kau jadi suka dengan kak Ana?"


"Tidak. Jangan salah paham. Ini tentang Zico. Dia mabuk berat karena Anastasia."


"Oh. Kak Ana pergi ke Las Vegas untuk menemui Bibi, bersama Kak Mark juga."


"Kak Mark juga?" Pikiran Samuel sudah berpikir keras.


Tentu semua tahu apa yang laki-laki pikirkan saat pacar perempuannya sedang sendirian.


"Apa yang kau pikirkan?" Ujar Selena, seakan tahu apa yang Samuel pikirkan.


"Tidak. Hari ini kau tidak kuliah?"


"Satu minggu ini aku tidak ada kelas. Dosen sedang sibuk, asdos juga sedang magang."


"Bagus."


"Bagus? Maksudnya?" Selena semakin curiga dengan pikiran Samuel.


"Malam ini aku boleh ke apartemen mu?"


"Tidak! Kak Ana melarang ku membawa laki-laki ke sana."


"Kalau begitu kau ke apartemen ku saja, bagaimana?"


"Tidak! Kakak melarang ku pulang malam. Dia sudah curiga."


"Ah ayolah. My sexy lady. Huh?" Goda Samuel pada Selena.


"Baiklah. Tapi jangan terlalu malam, oke? My boy?" Kini gantian Selena yang menggoda pacarnya, yang membuatnya tegang dibawah sana.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!