
41
Anastasia terbangun dari tidur singkatnya di pagi hari. Matanya terbuka dengan cepat, seperti terkejut. Matanya melotot. Dia lihat seseorang didepannya itu.
Anastasia menendang orang di depannya itu, Zico. Zico terbangun karena terjatuh dari kasur.
Tubuh Anastasia masih telanjang. Begitu juga Zico yang telanjang dada.
"Kau kenapa sayang?"
"Sayang? Apa? Jangan pernah panggil aku seperti itu."
Anastasia menyerang Zico dengan terang-terangan. Zico tidak melawan. Zico terus menghindar. Dia tidak ingin Anastasia terluka juga. Beberapa pukulan dan tendangan kuat berhasil membuat Zico tidak berdaya untuk berdiri lagi.
Anastasia mengambil pakaiannya dan memakainya lagi. Dia sudah rapi berpakaian. Anastasia keluar meninggalkan Zico yang wajahnya babak belur dengan sedikit darah segar keluar.
"Kenapa dengannya? Kenapa Anastasia seperti orang lain?"
Zico masih terbingung karena Anastasia. Dia berdiri dengan susah payah. Dia membasuh wajahnya.
"Apa Anastasia marah karena semalam? Apakah aku keterlaluan?" Gumam Zico saat berkaca.
Sedangkan Anastasia sudah keluar dari hotel. Dia berjalan tanpa tujuan. Perasaan Anastasia saat ini hanyalah amarah. Dijalan, Anastasia seperti orang gila. Menendang tempat sampah di jalan.
Mengganggu pengguna jalan yang lain. Marah-marah tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba,....
"Tunggu, kenapa aku disini?"
Anastasia seperti kerasukan dan dia baru sadar.
"Zico?"
Anastasia lari ke arah hotel lagi. Ditengah jalannya, Anastasia terjatuh karena hak tinggi yang dia pakai. Dia melepasnya tapi kakinya sangat sakit.
Anastasia tidak peduli. Dia kembali ke hotel dengan susah payah. Kakinya sepertinya keseleo. Anastasia menahan sakit yang amat sangat.
Dia masuk ke kamar dan mendapati Zico. Wajahnya babak belur. Dia datang dan langsung memeluk Zico.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"
Zico melepas pelukan Anastasia.
"Justru kau Anastasia, ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?"
Anastasia tiba-tiba terjatuh. Dia ingat kakinya sakit. Kaki Anastasia langsung berwarna biru karena sakit.
Zico menggendong Anastasia ke atas ranjang. Memperlakukan Anastasia seperti seorang ratu.
"Kenapa dengan kakimu? Kau berlari dengan hak tinggi?"
Zico tanpa aba-aba langsung menggerakkan kaki Anastasia ke sisi lain.
Krek!
Suara kaki Anastasia terdengar jelas.
"Akh! Bodoh! Sakit tahu."
"Sudahlah, jangan terlalu banyak gerak. Sebentar lagi kakimu akan baik-baik saja."
"Tapi, bagaimana dengan wajahmu? Siapa yang melakukannya?"
"Kau Anastasia. Apakah kau sedang mengigau tadi?"
"Aku? Tapi, bagaimana bisa?"
Seketika Anastasia sadar dengan penyakit bawaannya. Dia sadar dengan kepribadian gandanya itu. Kadang bisa sangat berbahaya bagi Anastasia.
Anastasia ingat semuanya sekarang. Dia begitu takut, apalagi jika Zico mengetahui kelemahannya ini.
"Maafkan aku Zico. Mungkin aku mengigau karena kecapekan."
Zico merangkak di atas tubuh Anastasia yang terlentang di atas ranjang. Zico ******* bibir Anastasia.
"Jika kau ingin dimaafkan, kita harus mandi bersama."
"Tidak. Aku bisa mandi sendiri."
"Bagaimana? Kau tidak bisa berdiri, kakimu sakit, bukan?"
Anastasia merasa dibodohi oleh Zico. Padahal, selama ini Anastasia sudah merasa lebih pintar daripada Zico. Buktinya, sampai sekarang dia bisa disini.
Zico membopong tubuh Anastasia ke kamar mandi. Lalu, satu persatu pakaian Anastasia Zico lepas. Memperlihatkan tubuh telanjang Anastasia yang seksi.
"Kau curang. Kau juga harus membuka pakaianmu."
"Ah kau menggodaku? Baiklah, jangan salahkan aku jika aku menjadi liar."
Zico membuka pakaiannya juga. Air shower keluar membasahi tubuh mereka. Tubuh telanjang mereka berdua. Ditengah itu, Zico mencuri kesempatan. Zico menggoda Anastasia.
Mulai dari ******* bibirnya. Zico dan Anastasia sudah terangsang. Kegiatan sensual mereka lakukan. Hingga mereka mandi dengan benar dan berakhir dengan tubuh diselimuti handuk.
Zico membaringkan tubuh Anastasia di atas ranjang. Anastasia hampir lupa tujuan sebenarnya yaitu untuk menahan Zico.
Tiba-tiba suara telpon berdering dari ponsel Anastasia. Anastasia mengambil ponselnya. Disana tertulis Selena. Anastasia mengangkatnya.
"Hallo? Ada apa Selena?"
"Kak! Kenapa kau mengirim Paman Nicholas untuk menjagaku? Kak tolonglah, suruh dia pergi."
"Jangan khawatir Selena. Ini demi kebaikanmu. Mungkin Nicholas akan sangat menyebalkan, tapi kau akan tahu dia sebenarnya."
"Tapi, kak!..."
"Hai Anastasia? Kau tidak perlu khawatir tentang anak ini. Dia hanya sedikit nakal."
"Nicholas?"
"Panggil aku Kakak."
"Terserah. Pokoknya kau tidak boleh keterlaluan dengan Selena."
"Baiklah. Tapi kenapa kau tidak bilang kalau dia punya pacar?"
"Memangnya penting? Lakukan saja tugasmu. Nanti kita bicara lagi."
Anastasia menutup telpon. Dia hanya takut jika Zico mencurigainya. Anastasia tidak ingin pengorbanannya jadi sia-sia.
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Anastasia.
"Tidak. Aku ingin bersamamu," ucap Zico lalu mengecup singkat bibir Anastasia.
"Aku akan pulang ke apartemen untuk mengecek."
"Aku bisa ikut denganmu."
"Tidak. Ini masalah pribadi, aku tidak ingin membebani mu. Lagipula, aku hanya akan sebentar," ucap Anastasia sambil berdiri.
Anastasia berjalan untuk berpakaian. Dan membereskan pakaiannya. Mereka akan segera pergi dari hotel itu. Yeah, cukup mengerikan daripada membunuh seseorang berada di hotel.
"Aku pergi, Zico. Tidak akan lama."
"Baiklah. Apa perlu aku mengantarmu?"
"Tidak perlu. Ini tidak terlalu jauh. Aku akan baik-baik saja."
"Baiklah. Temui aku di kantor jika sudah selesai. Aku merindukanmu, kau tahu itu."
"Baiklah. Tunggu aku, ya."
Anastasia mengecup singkat bibir Zico. Kemudian Anastasia pergi dari hadapan Zico serta menghilang dibalik pintu.
Anastasia pergi dengan menaiki taksi yang berhenti di depan hotel tersebut. Lalu, beberapa menit kemudian dia sampai di apartemennya. Dia masuk di unit miliknya.
Di Sana sedang ada keributan yang membuat para tetangga kesal bahkan keluar untuk mengeceknya. Anastasia sedikit khawatir. Lalu, dilihatnya Nicholas dan Selena sedang berkelahi.
"Hei! Hei! Hei! Kalian ini seperti anak kecil saja."
Anastasia melerai mereka berdua. Bukan hal wajar yang dilakukan kedua orang dewasa ini. Beruntung tidak ada yang terluka.
"Ada apa dengan kalian? Bosan hidup? Katakan padaku, akan aku kabulkan permintaan kalian."
Anastasia naik darah. Anastasia sudah cukup kesal dengan keadaannya tadi pagi dan sekarang dia dihadapkan oleh Selena dan Nicholas yang berkelahi.
"Kak, paman Nicholas yang membuatku marah. Bukan salahku."
"Terserahlah. Untung saja kau wanita, jika kau pria sudah aku kebiri kau."
Selena bersembunyi dibalik tubuh Anastasia karena ketakutan dengan Nicholas.
"Hentikan Nicholas. Kau juga salah, ingat usiamu."
Anastasia melempar tubuhnya di sofa. Dia duduk dengan keadaan frustasi. Kepalanya sangat sakit jika dirasakan. Anastasia menahannya karena mungkin itu akan hilang dengan sendirinya.
"Ada apa Anastasia? Semua baik-baik saja, bukan?"
Nicholas khawatir dengan Anastasia yang terlihat frustasi itu.
"Selena, masuk ke kamarmu dulu. Aku ingin bicara dengan Nicholas," perintah Anastasia dan Selena menurutinya.
Anastasia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Anastasia sudah tidak tahan berada di dekat Zico. Hidupnya bisa berubah total jika Zico terus di sampingnya. Tidak lagi.
"Tidakkah kau punya ide lain untuk menahan Zico? Aku tidak tahan dengannya."
"Ada apa? Apa semalam dia bermain kasar di ranjang bersamamu?"
Plak!
Tamparan segar mendarat di jidat Nicholas.
"Jangan membuatku ingin membunuhmu. Aku juga harus pergi ke markas untuk membantu Mark. Kau tahu bagaimana keadaan Mark di sana bukan? Aku mengkhawatirkannya."
"Tenanglah. Mark akan menjaga dirinya."
"Ada apa dengan kak Mark?" Tiba-tiba Selena menyela.
Ternyata Selena menguping pembicaraan Anastasia dan Nicholas. Anastasia tahu Selena khawatir juga dengan kakaknya dan juga rindu. Anastasia menjadi merasa bersalah pada Selena dan Mark.
Seharusnya Anastasia menggantikan posisi Mark sekarang. Tapi karena harus menahan Zico agar tidak pergi, dia harus meminta Mark untuk membantunya.
"Selena dengar, kakakmu baik-baik saja. Dia akan menjaga dirinya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan suatu hal yang tidak perlu," ucap Nicholas dengan lembut.
Lalu, Selena sontak memeluk Nicholas. Memeluknya dengan erat. Selena merasa bahwa Nicholas sangat mirip dengan kakaknya, Mark. Tentu saja, mereka berdua adalah seorang kakak bagi adik perempuannya.
***Bersambung
Terimakasih telah membaca!
Dukung author agar tetap berkarya!
Berikan tanggapan atau komentar ya...
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA***!