
40
Aku masih duduk di dekatnya. Dia masih menatapku penuh curiga juga. Entah aku merasa seperti orang jahat.
"Paman, kenapa kak Ana mengirimmu kesini? Kenapa bukan Kak Mark?"
"Apa? Paman? Memangnya aku sudah tua? Panggil aku kakak juga."
"Kau sudah pantas aku panggil paman. Apa kau tidak terima?"
Memang benar dugaan ku, dia menyebalkan seperti Anastasia. Kurasa dia lebih menyebalkan dan cerewet daripada Anastasia. Aku berdiri, berjalan menuju dapur.
Ketika sampai, aku seperti melihat kapal pecah. Rumah ini seperti rumah para pasangan yang KDRT. Super berantakan. Aku pusing walau hanya melihatnya. Aku bingung dengan Selena, kenapa dia bisa betah. Bahkan dia bisa tidur lelap di sana.
"Selena, bersihkan semua kekacauan ini. Aku benci melihatnya," seruku pada Selena yang hanya diam saja.
"Kenapa kau menyuruhku? Aku sudah memanggil pembantu yang biasanya kesini untuk membersihkan tempat ini, sebentar lagi dia datang."
Benar benar menyebalkan. Bukankah dia wanita? Seharusnya dia bersikap dewasa dan bisa menjaga tempatnya. Bagaimana jika besok dia akan berkeluarga? Aku akan bersikap sedikit maklum jika dia seorang pria.
Selena berdiri di sana. Aku mendekatinya. Dan sangat dekat.
"Dengar Selena, kau itu wanita. Ingat itu. Dan aku ingin kau yang membersihkan kekacauan yang kau buat ini, atau aku akan menghukummu," ucapku seperti bisikan.
Lalu, aku menatapnya dan aku cium singkat bibir ranumnya. Dia memalingkan wajahnya. Wajahnya lucu ketika dia malu. Aku melangkah mundur untuk memberinya jalan.
Yeah butuh ancaman Selena baru melakukan perintah. Dia mulai membersihkan kekacauan ini. Aku senang di tempat yang bersih.
Selena mulai membersihkan lantai, meja, kursi, sofa, dan lainnya. Aku membantunya sedikit. Sebagai hadiah, mungkin membelikan sarapan cukup untuknya.
Aku keluar untuk membeli sarapan untuk Selena dan aku. Karena seperti tempatnya, kulkas juga kacau balau, sebaiknya aku membeli bahan makanan lagi. Aku kembali dengan membawa dua kantung belanja.
Senangnya bisa kembali. Karena tempat juga sudah bersih. Hanya tinggal beberapa kantung sampah di pojok dapur. Kurasa gadis itu terlalu malas untuk membuangnya. Yeah, setidaknya tempat tinggal manusia ini sudah bersih.
"Kerja bagus, aku membelikanmu hadiah pagi ini," ucapku seraya menepuk kepalanya seperti anak kecil.
Aku lihat wajahnya memerah lagi dan terlihat lucu. Aku menyukainya.
Aku membuat sarapan untuk pagi ini. Beberapa roti panggang, nasi goreng, omlet, dan susu. Bukan hal spesial, tapi aku pastikan enak.
Karena aku juga sudah terbiasa untuk sarapan yang 'normal'.
"Paman, kapan kau akan pergi dari sini?" Tanyanya ditengah acara sarapan.
"Kau mengusirku? Itu percuma, aku bisa tinggal disini semauku. Kau tidak suka?"
"Ah tahu aja, paman. Sialnya, aku tidak ada kelas untuk minggu ini," dia berkata dengan lantang membuatku tersinggung.
Aku mengambil roti panggang yang baru saja matang dan menaruhnya di piring. Satu untuk aku dan satu lagi untuk Selena.
"Bagus, aku bisa menemanimu, bukan? Aku bahkan bisa menemanimu saat tidur."
Aku lihat lagi. Wajahnya merah. Begitu juga telinganya. Aku curiga kalau dia demam. Tapi, kadang dia baik-baik saja. Apa dia terlalu canggung padaku?
"Aku selesai sarapan, aku ingin pergi setelah ini."
"Tapi rotimu belum kau sentuh dan aku melarangmu untuk keluar dari apartemen. Jika perlu, bawa saja temanmu datang kemari."
"Benarkah? Wah kau jadi suka mengatur ya paman. Baiklah, setelah kakak pulang, kau tidak bisa hidup lagi," ancamnya dengan sedikit nada kesal.
"Kau tidak bisa mengancamku, gadis manis. Akan aku pastikan kau tidak akan lari dariku."
Dia menatapku dengan mata melotot terkejut. Telinganya sudah memerah. Dia benar-benar lucu. Aku tidak tahan lagi. Aku meraup bibirnya. Melumatnya sedemikian rupa.
Dia tidak membalas maupun memberontak. Permainanku terlalu nikmat untuk dilewatkan. Aku terus ******* bibirnya, dia membuka mulutnya dan membiarkan lidahku masuk.
"Aku bisa memberikan hukuman yang lebih jika kau membantahku, ingat itu Selena."
Aku menghentikan permainanku. Aku akan melepaskannya kali ini. Aku kembali ke dapur. Aku membersihkan sisa dan alat makan tadi. Aku pria yang bersih.
Tiba-tiba suara bel berbunyi. Aku datang untuk membuka pintu, tapi Selena lebih dulu membukanya. Dibalik pintu itu, ada seorang pria yang tampak tidak asing bagiku.
Tunggu dulu, bukankah dia tangan kanannya Zico? Pemilik perusahaan yang berkerja sama dengan perusahaan Zico, kan?
Ah aku lupa dengan namanya. Tapi, ada perlu apa dia datang kemari? Tampaknya Selena dan dia juga sudah akrab. Dari pintu dapur aku melihat pria itu dipersilahkan masuk oleh Selena.
Aku menghampiri mereka yang duduk di sofa. Tatapan waspada dan curiga mulai aku mode on.
"Siapa pria itu, Selena?" Ucapnya sedikit sombong dan aku agak kesal.
"Dia kakaknya Kak Ana, Nicholas. Dan paman, dia Samuel, PACARKU," dia menekan nada di kata 'pacarku'.
Baiklah aku mengerti. Selena sudah memiliki pacar. Tentu saja, dia wanita yang cantik, pantas saja dia memiliki pacar. Tapi, kenapa harus dia?
Samuel? Tangan kanannya Zico. Aku rasa dia tidak tahu tentang misi milik Marco.
Kami berjabat tangan. Aku kesal dengannya. Aku kembali ke dapur, samar-samar aku mendengar Samuel mengatakan ini pada Selena,
"Kenapa dia disini? Kau tidak mengundangnya, kan?"
Ah benar-benar posesif. Apa Selena betah dengan Samuel. Pria posesif itu bisa membuat wanita tidak nyaman. Entahlah, aku kembali ke dapur lagi.
Setelah selesai membersihkan, aku melihat pasangan itu tengah berciuman di sofa. Beruntungnya Samuel, bisa merasakan tubuh Selena.
Bukankah ide bagus jika aku mengganggu mereka? Kurasa begitu, lagipula aku tidak ada kerjaan lain.
Aku datang di sana dan memisahkan tubuh mereka dengan tangan dan lenganku. Kemudian aku duduk di sofa diantara mereka berdua.
"Apa yang paman lakukan?"
"Hanya ingin menonton televisi," ucapku seraya menyalakan televisi.
"Kau sengaja mengganggu? Kau tidak ada kerjaan lain?" Kesal Samuel.
"Iya, aku tidak ada kerjaan. Makanya aku menonton tv, tidak salah bukan?"
Aku melanjutkan memperhatikan televisi. Pasangan itu juga tidak berulah lagi setelah aku menjadi benteng penghalang diantara mereka.
**Bersambung...
Terimakasih telah membaca!
Berikan dukungan kepada author!
Tunggu episode selanjutnya...
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!