
48
Aku masih berdiri dengan menatap keluar yang basah karena hujan. Tubuhku menjadi ikut kedinginan walau ruangan sudah mendapatkan penghangatnya.
Aku rasa aku yang salah tentang semua ini. Aku menebak jika aku tidak melakukan kesalahan, mungkin semua ini tidak terjadi, bukan?
Aku merasa bersalah pada Zico. Seharusnya aku tidak meminta Rey untuk menemani aku. Terlebih aku juga mengajak Zico. Akh! Aku tidak tahu harus meminta maaf bagaimana padanya.
Aku membalikkan badanku, sudah hampir satu jam Zico tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Apa dia baik-baik saja? Aku khawatir dengan keadaannya.
Kenapa dia mandi disaat cuaca dingin seperti ini dan ini sudah sangat lama?
Aku berjalan menuju kamar mandi, aku mengetuk pintu kamar mandi.
"Zico, apa kau baik-baik saja?"
Dia tidak menjawab. Aku mengetuknya lebih keras. Dan memanggilnya lebih keras lagi. Dia masih tidak menjawab. Suara air shower masih terdengar, artinya dia masih di dalam.
Aku semakin khawatir dengan keadaannya. Aku membuka pintu kamar mandi. Aku masuk. Dari pintu, aku bisa melihat Zico.
"Zico!" Teriakku ketika tahu Zico tergeletak di bawah air shower yang masih mengalir.
Dia masih menggunakan pakaiannya. Aku segera mematikan air. Aku menyentuh dahinya. Panas. Aku semakin khawatir ketika tahu dia demam dengan sengaja.
///////////
Aku menemaninya di samping. Menatap dia yang masih menutup matanya. Sesekali aku mengganti kompres untuk meredakan panasnya.
Aku menundukkan kepala.
"Maaf," ucapku pelan namun aku ucapkan tepat di telinganya.
Lalu, sebuah tangan menyentuh kepalaku. Aku terkejut. Ah setelah itu aku merasa kekhawatiran ku itu berkurang. Zico sudah siuman.
"Maaf juga, maaf karena membentak mu," ucapnya dengan suara seksinya, karena demam mungkin.
"Aku pantas untuk itu. Aku akan mengambil makan untukmu, sebentar."
Aku berjalan menuju dapur. Aku membawa bubur yang sudah aku buat tadi dan beberapa obat untuk Zico.
Aku menyuapinya, lalu memberikan obat itu untuknya. Bisa dibilang ini adalah ucapan maaf ku padanya. Setelah selesai, aku membereskan peralatan dan segera mencucinya.
Aku kembali lagi ke ranjang, tepat di samping Zico. Sebelumnya, aku menaikkan selimut agar dia tidak kedinginan.
"Kau istri terbaik di dunia ini," ucapnya.
"Tentu, karena hanya aku istrimu. Apa kau punya istri yang lain?"
"Uumm apa kau percaya itu?"
"Tidak! Karna aku tahu kau mencintai aku, dan aku juga mencintaimu."
Aku hendak meraup bibir Zico, tapi telunjuk Zico mencegahku untuk melakukannya.
"Aku tidak ingin kau sakit juga, kumohon, biarkan aku saja yang sakit."
Aku semakin merasa bersalah padanya. Dari semua hal kemarin ataupun tadi, itu karena aku. Aku penyebabnya. Dan sekarang Zico yang harus menderita.
"Maafkan aku," ucapku lembut.
Dia membelai rambut panjangku. Aku takut, aku hanya menundukan kepalaku. Tak mampu aku menatapnya.
"Dengar sayang, kau tidak salah. Mari lupakan kejadian itu, jadikan sebagai pelajaran untuk kita," sahut Zico lembut.
Lalu, dia mengecup singkat dahiku. Aku kembali menatapnya. Dia memegang daguku, lalu menariknya. Lalu, dia cium pipiku kanan dan kiripula dengan bibirnya yang lembut itu.
"Untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku cium."
/////
Pagi ini aku terbangun karena suara ketukan pintu di luar sana. Aku masih mengenakan dress pendek yang aku kenakan semalam itu. Zico masih tertidur. Aku tidak ingin membangunkannya.
Segera aku membuka pintu agar orang itu tidak membangunkan Zico yang tengah tertidur itu.
"Iya, siapa?"
Betapa terkejutnya aku, ketika tahu kedatangan orang ini. Aku tidak menyangka dia akan datang sepagi ini. Bahkan aku masih mengenakan dress pendek ini.
"Dress yang bagus, Anastasia."
Yeah, dia mengomentari pakaianku. Tidak apa. Aku tidak terkejut dengan itu. Aku hanya terkejut karena kedatangannya.
"Kenapa kau kesini Rey?"
Baiklah. Aku mengizinkan Rey masuk. Dia kemudian duduk di sofa dengan begitu nyaman. Aku juga duduk setelahnya.
"Ada apa?"
"Apa suamimu sedang pergi?"
Tunggu! Kenapa dia malah menanyakan Zico? Apa tujuannya hanya itu?
"Tidak. Dia masih tidur."
"Baguslah. Gara-gara suamimu, rencanaku gagal."
"Maafkan aku. Aku juga tidak menyangka akan seperti itu. Bagaimana? Kau sudah membelinya?"
Rey mengeluarkan tas dan mengeluarkan beberapa kotak perhiasan dari sana. Aku terkejut dengan kelakuannya itu.
"Kau membeli semuanya?"
"Tentu saja tidak, aku tidak mampu. Hanya karena pemilik toko adalah temanku, aku bisa membawanya sebagai percobaan. Nah, jadi mana yang paling bagus?"
Pertanyaan itu membuatku bimbang. Aku memang tidak pandai dalam menilai aksesoris wanita. Tapi, aku tahu selera.
"Aku rasa ini," ucapku seraya mengambil kotak perhiasan itu.
"Kau yakin Hazel akan menyukai ini? Kau mau mencobanya?" Tawar Rey.
Aku menerimanya karena mungkin jari Hazel sama dengan jariku.
Ah ngomong-ngomong, Hazel adalah calon tunangan Rey. Benar, Rey akan segera menikah. Dia punya kekasih, dan tidak mungkin juga aku selingkuh dengannya.
Tentu Zico tidak tahu hal ini. Karena Rey akan memberitahu hal ini pada Zico kemarin, tapi dia terlanjur marah dan kesal pada Rey.
Rey membantu untuk memasangkan cincin berlian cantik itu di jari manisku. Saat itu,...
"Anastasia!" Suara serak itu membuatku terkejut.
Zico bangun dan melihat aku tengah memasang cincin untuk percobaan yang dibantu oleh Rey. Seakan-akan Rey yang memberikan cincin itu padaku dan melamar ku.
"Tunggu dulu! Jangan salah paham!"
Rey angkat bicara sebelum kejadian buruk terjadi lagi. Dia berdiri dan menjatuhkan cincin itu.
"Ah tidak! Cincin berlian itu jatuh."
Panik Rey setelah sadar. Dia kebingungan. Benar-benar takut dan gelisah.
"Bantu aku mencarinya dulu. Aku bahkan belum membayarnya, itu sangat mahal!"
Aku dan Zico reflek segera mencarinya. Setelah beberapa lama berlalu, Zico menemukannya.
"Berikan padaku," pinta Rey, tapi....
"Ceritakan semuanya dulu padaku."
Kami menceritakan semuanya pada Zico. Tak ada satupun yang terlewat. Setelah semuanya menjadi jelas, barulah Zico merasa bersalah. Dia meminta maaf pada Rey.
"Baiklah, aku akan segera pergi. Terimakasih untuk bantuannya, Anastasia."
Rey kemudian berlalu. Membuat aku berdua dengan Zico. Aku berdiri mendekatinya. Aku kalungkan tanganku di lehernya. Lalu, tangan Zico mengelilingi pinggangku.
"Kau sudah sehat?" Tanyaku berharap begitu.
"Hm. Aku rasa begitu. Kenapa?"
Aku masih menatapnya. Tatapannya membuatku tenang. Tapi, tidak dengan jantungku.
Lalu, aku dapatkan bibir Zico. Aku ***** bibirnya. Dia membalasnya juga. Kami lakukan dengan perlahan. Saat yang seperti ini, memang pas untuk melakukannya. Karena ini hujan, membuatnya bertambah romantis.
"Kau merindukanku, bukan?" Ucapku.
"Tentu, sangat Anastasia."
"Baiklah. Mari lakukan itu," ajakku terang-terangan.
**Bersambung
BACA SAMPAI AKHIR YA!
BAKALAN ADA PENGUMUMAN DIAKHIR NANTI!
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK! SILAHKAN VOTE DAN COMMENT UNTUK MENDUKUNG AUTHOR**!