
24
Hujan salju masih turun bahkan semakin lebat. Hawa dingin mulai merasuki tubuhku lebih lagi. Mantel tebal yang aku kenakan seperti tidak mempan dengan udara dingin ini.
Aku tidak tahan lagi. Aku harus keluar mencari Mark. Aku tidak bisa bayangkan dia kedinginan diluar sana. Aku saja yang memakai mantel tebal masih kedinginan, bagaimana Mark yang hanya memakai pakaian casual.
Aku hendak keluar dari gereja. Namun, sebuah tangan mendarat dipundak ku dengan tiba-tiba. Aku sempat tersentak karenanya.
Aku lihat kebelakang untuk memastikan seseorang yang mencegahku keluar gereja.
Seorang wanita paruh baya asing yang melakukannya. Dia menatapku kasihan. Entah apa yang dia pikirkan tentang aku. Aku pun tidak peduli dengannya.
"Ada apa, bu?" Tanyaku.
"Badai salju, nak. Tidak perlu keluar dari gereja ini. Tunggu sampai keadaan membaik," ujarnya dengan tenang.
"Maaf, tapi saya tidak bisa. Saya harus mencari adik saya yang pergi dari tadi pagi."
"Kemarilah," ujarnya.
Wanita ini menarik tanganku untuk duduk kembali. Aku tidak bisa bersikap kasar padanya. Aku mengerti maksud baiknya padaku. Lagipula ini gereja, kan.
Dia duduk denganku. Mengusap tangan dinginku dengan lembut. Sesaat, aku teringat ibuku. Ibu yang telah melahirkan ku. Ibu yang ini telah berada di dunia yang berbeda denganku.
"Berapa umur adikmu?"
"Dia sudah dewasa, hampir sama sepertiku."
"Tenanglah, adikmu akan baik-baik saja. Tunggu sampai badai hilang dan kau bisa mencari adikmu. Jika kau pergi sekarang, adikmu juga akan kehilangan kakaknya."
Wanita ini benar. Memang benar yang dia ucapkan. Logis dan bisa di logika dengan akal sehat. Namun, perasaanku berkata lain.
Seperti ada yang mendorongku untuk keluar gereja dan harus mencari Mark hingga ketemu dan memastikannya aman.
Badai masih turun juga setelah hampir 1 jam aku di gereja ini dengan wanita yang di sampingku ini. Semakin lama, aku merasa janggal jika aku tidak mencari Mark.
Perasaanku tidak enak tentangnya. Aku hanya bisa berharap, perasaanku ini salah. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Mark.
Aku berdiri, hendak mencari Mark. Namun, tangan wanita ini mencegah lagi.
"Bukankah sudah aku bilang?" Sahutnya.
"Aku tidak bisa jika hanya berdiam diri saja disini. Adikku bisa saja dalam bahaya, aku tidak bisa membiarkannya. Aku akan mencarinya dalam keadaan apapun."
"Baiklah jika itu mau mu. Aku tidak bisa mencegah cinta seorang kakak pada adiknya, bukan?"
Wanita itu melepaskan tangannya. Dia tidak mencegahku lagi. Yeah aku berniat mencarinya.
Setelah aku keluar dari gereja itu, dingin semakin menusuk kulitku hingga ketulangku. Aku berjalan menelusuri jalan berselimut salju tebal.
Ditengah jalan, aku sadar sesuatu yang penting. Sesuatu yang mungkin bisa mengantarkan aku pada Mark. Benar, Bibi Katt.
Sebelum kesana, aku akan menghubungi Bibi Katt lebih dulu untuk bertanya, apa Mark ada disana atau tidak?
"Hallo?"
"Iya sayang? Kau berada diluar?"
"Ah itu, aku sedang mencari Mark. Apa dia ada disana?"
"Tidak, dia tidak disini. Tapi, ada temanmu yang datang untuk mencarimu."
"Itu nanti saja, Bi. Aku harus mencari Mark. Aku tutup ya."
Aku tidak bisa berpikir lagi. Dia tidak tahu harus kemana mencari Mark. Aku kini berada di depan sebuah tempat seperti tempat perjudian atau kasino. Banyak tempat seperti ini di Las Vegas.
Tapi, tidak mungkin rasanya jika Mark ada didalam sana. Lagipula untuk masuk kesana, Mark butuh ID.
Akhirnya, aku masuk disebuah cafe di dekatnya. Cafe ini sepi. Pelanggannya hanya aku. Aku memesan coklat panas untuk menghangatkan tubuhku.
"Mencari seseorang, nona?" Seorang pelayan disana menanyaiku.
"Iya, bagaimana bisa tahu?"
"Tadi kau diluar seperti mencari orang. Butuh bantuan?"
Aku mengeluarkan ponselku. Aku tunjukan foto Mark.
"Apa kau melihat pria ini disekitar sini?"
"Aku melihatnya tadi. Dia tadi kesini untuk membeli coklat panas juga. Apa dia pacar Anda, nona?"
"Ah bukan. Dia adik saya. Dimana anda melihat dia?"
"Saya rasa dia pergi belum lama. Dia pergi ke tempat kasino dengan seorang wanita."
"Ah baiklah. Terimakasih."
Aku keluar cafe dengan segera. Aku segera masuk ke tempat kasino. Disana cukup ramai. Banyak yang disibuk di satu meja.
Mataku sibuk mencari Mark. Masih tidak aku temukan. Lalu, seseorang menepuk pundakku.
"Mencari sesuatu cantik?"
Seorang pria mencoba menggodaku. Aku tidak terpengaruh dengan dia. Tapi, aku harus menemukan Mark segera.
Aku membuka ponsel dan menunjukan foto Mark.
"Kau melihat pria ini?"
"Maksudmu pria dengan seorang wanita disana itu?"
Pria itu menunjuk tempat duduk di paling pojok. Bisa aku lihat dari kejauhan. Mark dengan seorang wanita.
"Aha! Disana kau rupanya?" Kesalku pada Mark.
Hendak aku akan menghampirinya, pinggangku ditarik oleh tangan besar. Pria tadi memelukku dengan erat. Bisa aku rasakan, pelukannya yang begitu kasar itu.
"Lepaskan! Aku sedang tidak ingin berkelahi."
"Huh? Berkelahi? Kau ingin berkelahi diranjang bersamaku?"
Aku begitu terkejut dengan dia. Tak aku sangka akan seperti ini kejadiannya. Lalu, aku bisa melihat sosok yang membuatku kesal datang menghampiriku.
"Lepaskan dia!"
"Enak saja. Tidak mudah untuk mendapatkan yang seperti dia ini."
"Akh! Kelamaan!"
Aku menyiku perut pria itu dengan kuat. Aku tendang daerah sensitifnya. Pelukan menjijikannya lepas. Aku kesal dengan dia. Tapi, aku akan membiarkannya.
Aku selesai dengan pria yang sekarang tersungkur itu. Aku lihat Mark. Wajahnya tampak ketakutan, padahal tadi membelaku.
"Kemarilah Mark." Ucapku dan dia menurut padaku.
Wajahnya agak pucat karena kedinginan. Aku melepas mantel tebalku. Aku berikan mantel itu pada Mark.
"Jangan Anastasia, kau bisa kedinginan."
Tolak Mark. Tapi aku terus memaksanya. Bisa aku rasakan kulit pucatnya seperti ikut membeku. Dia bisa pingsan karena dingin ataupun mati. Tidak akan aku biarkan itu terjadi.
"Jangan pedulikan aku. Menurutlah atau kau akan bernasib seperti pria tadi."
Mark akhirnya menurut padaku. Aku hanya memakai pakaianku yang sengaja aku pakai yang agak tebal. Bisa aku rasakan rasa dingin ini menusukku setelah aku buka mantel itu.
Tapi aku tak bisa membiarkan Mark kedinginan begitu saja.
"Bagaimana denganmu? Kau bisa kedinginan juga."
"Diamlah Mark. Jalan sudah dibuka. Kita akan segera pulang ke hotel dengan taksi."
Aku keluar dari tempat itu. Sungguh sangat dingin sekali. Aku bisa merasakan tulangku hampir membeku juga.
Tanganku juga mulai gemetar hebat. Aku berusaha menahannya tapi tak bisa. Mark melihatku dengan tatapan anehnya. Lalu, dia memelukku. Menutupiku dengan mantel bersama dengan tubuhnya.
Hangat. Hanya itu yang aku rasakan. Aku seperti tidak kedinginan lagi. Taksi berhenti didepan kami.
Saat di dalam taksipun, Mark masih memelukku. Aku juga merasa nyaman dengan pelukan itu. Rasanya seperti Dejavu.
Hingga sampai di hotel. Penghangat ruangan sudah bekerja dengan baik disana.
Aku dan Mark kini duduk berhadapan. Aku menatapnya terus. Tapi Mark memalingkan wajahnya terus. Dia takut denganku.
"Kau tidak perlu takut denganku, Mark. Aku tidak akan menyakitimu."
"Bukan itu. Tapi, kenapa kau mencariku? Bahkan dibadai salju seperti tadi? Katakan dengan jujur, Anastasia."
Aku terdiam. Jujur? Aku harus jujur seperti apa. Aku harus melakukan apa.
Alasan pasti aku mencari Mark adalah karena khawatir dan cemas. Karena aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Kejujuran macam apa yang harus aku ungkapkan.
"Aku khawatir denganmu. Aku tidak ingin hal buruk menimpamu."
"Aku sudah dewasa Anastasia. Aku bukan anak usia 6 tahun, bukan?"
"Diamlah. Kau itu masih anak kecil bagiku. Entah akan setua atau sebesar apa badanmu, kau adalah adik kecilku, Mark."
Aku memeluknya. Penuh kasih sayang. Rasa hangat diantara kami semakin terasa kian harinya. Aku senang bisa dekat seperti ini dengannya.
....
Andai Anastasia tahu perasaan Mark yang sesungguhnya saat itu. Mark yang masih menyembunyikan perasaan cintanya pada Anastasia.
Namun, apa? Anastasia hanya mengganggapnya sebagai adik saja, tidak lebih.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!