The Big Boss

The Big Boss
Delapan belas



18


Warning! For adult! 18 !


Malam ini Selena menginap di apartemen Samuel. Karena Samuel hanya tinggal sendiri, dia hanya punya kamar 1. Dan yeah Samuel harus tidur di sofa. Sedangkan Selena, dia tidur di kasur.


"Selamat malam Selena." Ucap Samuel lalu dia mengecup kening Selena.


"Samuel, kau bisa tidur denganku,"


Samuel menatap Selena keheranan. Lalu, Selena meralat perkataannya.


"Maksudku, kau bisa tidur di ranjang bersamaku. Aku tahu kau tidak bisa tidur kalau di sofa. Kau bisa sakit." Samuel memang tidak terbiasa tidur di tempat selain ranjang.


"Tapi, apa kau tidak keberatan?" Samuel agak ragu.


"Asal kau tidak macam-macam padaku. Kemarilah." Undang Selena dengan senang hati.


Lalu, Samuel membawa bantal dan selimutnya kembali ke ranjang. Dia akan tidur dengan Selena di ranjang yang sama.


"Selamat malam, sayang." Ucap Samuel lembut dan menatap Selena. Mereka saling berhadapan.


"Selamat malam, Samuel. Dan aku juga mencintaimu." Ucapan itu terdengar sangat lirih namun masih bisa didengar oleh Samuel.


Dan tentu Samuel yang mendengarnya sangat bahagia. Setelah Selena mengatakan hal itu, dia langsung tertidur dalam kebahagian. Dan tak kalah bahagianya dengan Selena, Samuel juga sangat bahagia.


....


Pagi hari telah tiba. Pagi ini, Samuel bangun lebih cepat dari Selena. Terlihat Selena sangat lelah sampai susah untuk bangun pagi. Pagi ini Samuel mempersiapkan sarapan untuk Selena.


Pagi ini dia begitu bahagia. Dia menyiapkan sarapan dengan penuh rasa cinta. Dan hanya untuk Selena. Saat tengah menyiapkan makanan, Selena terbangun. Dia menghampiri Samuel yang sedang memasak dengan celemek putih bersih. Terlihat seperti seorang profesional.


Dan tiba-tiba Selena mengecup bibir Samuel. Lalu, kecupan itu berubah menjadi lumatan. Samuel membalas juga. Mereka makin memanas. Untung saja masakan sudah matang dan tinggal di sajikan di meja makan.


Yeah itu membuat mereka tak berhenti untuk bercinta di pagi hari. Ciuman panas itu tak berhenti. Hingga suara bel berbunyi. Pertanda ada seseorang yang datang.


"Siapa yang datang itu?" Tanya Selena sedikit khawatir.


"Sepertinya Zico. Dia bilang dia akan datang pagi ini."


"Kak Zico? Tunggu Samuel. Jangan sampai dia tahu hubungan kita. Aku mohon rahasiakan ini darinya." Selena memohon.


"Jika itu mau mu, akan aku lakukan." Samuel dengan senang hati menuruti Selena.


"Terimakasih. I love you so much." Ucap Selena, lalu dia mengecup bibir Samuel lagi sebelum dia pergi membukakan pintu.


Samuel berjalan untuk membuka pintu dan menemui Zico.


"Kenapa lama sekali? Tidak seperti biasanya. Apa kau sedang bercinta dengan pacarmu?"


Eh Samuel sempat keheranan bagaimana dia bisa tahu. Tapi Samuel membantahnya.


"Aku akan bersiap. Tunggu saja di mobil, aku akan segera datang."


"Heh? Kenapa? Aku bisa menunggumu di dalam. Lagipula, aku mencium masakan mu. Aku belum sarapan juga." Zico terlalu percaya diri.


"Sampai nanti!" Samuel menutup pintu. Dan terpaksa Zico menunggu di mobil dengan cukup lama.


Samuel kembali menemui Selena. Dia sedang membuka kulkas dan menemukan alkohol dan meminumnya dengan gelas kecil.


"Selena, apa yang kau lakukan? Ini masih pagi. Kau harus makan dulu dan kau bisa pulang nanti."


Samuel mengambil kembali minuman beralkohol itu.


"Tapi, aku ingin minum. Aku tak ingin pulang... ah.." Selena merengek, ah bukan lebih tepatnya mabuk.


Selena ******* bibir Samuel. Spontan, Samuel membalasnya. Yeah dunia serasa milik mereka sendiri. Dan dia lupa kalau sudah ditunggu oleh Zico di mobil. Mereka ambruk di sofa. Dan mereka melakukan **** di sana.


Selena membuka baju Samuel. Dan Samuel juga membuka baju Selena. Samuel mengecup dan mengigit setiap tubuh Selena. Mereka melanjutkan **** di kamar.


Dan diwaktu yang sama ditempat yang berbeda. Zico tengah menunggu di mobil dengan sangat lama. Dia bahkan menelpon Samuel, tapi Samuel tidak menjawabnya.


"Akh! Sudah aku duga, dia pasti sedang bersama pacarnya. Seharusnya aku tidak kesini." Kesal Zico. Dia memukul kemudi yang tak bersalah.


Lalu, sebuah pesan masuk. Tertulis itu dari Anastasia. Sudah lama Zico menunggu kabar dari Anastasia. Dia membuka pesan itu dan ternyata isinya hanya izin cuti karena sakit dari Anastasia.


Yeah, Zico mengerti. Dia mencoba mengerti. Tapi, Zico sedikit khawatir dengan Anastasia saat dia bersama pria bersama Mark itu.


....


Diwaktu yang sama juga tapi ditempat yang berbeda.


"Tidak Anastasia. Cepat makan saja dan minum obatmu. Nanti aku akan membelikan mu makanan yang bisa dikunyah."


Saat ini Mark dan Anastasia sedang ribut tentang makanan. Pagi yang cerah ini mereka isi dengan keributan yang kekanak-kanakan. Mereka berhenti berdebat saat salah satu dari mereka mengalah. Tentu Anastasia yang mengalah.


"Anastasia, dimana handphone mu." Tanya Mark.


"Untuk apa? Setelah kau mengambil makanan dan wine ku, kau juga akan mengambil handphoneku?" Kesal Anastasia.


"Tidak, aku akan mengirim pesan untuk Zico. Kau harus istirahat hari ini. Kau tidak boleh bekerja. Itu bukan kewajiban mu, ingat itu."


"Ah baiklah terserah kau. Ambil ini. Sekarang kau jadi menyebalkan."


Mereka ribut lagi dan berdebat tak berhenti. Hingga, dia menyadari sesuatu.


Mereka melupakan Selena yang tak kunjung pulang. Mark khawatir dengan adiknya, begitu juga dengan Anastasia.


"Bagaimana? Kau sudah menelpon teman-teman Selena? Ah dimana sih anak itu." Decak sebal Anastasia.


"Mereka bilang, Selena tak bersama mereka. Dan mereka bilang tak ada tugas kuliah. Ah apa Selena semalam dengan pacarnya?" Mark semakin khawatir, ia takut akan terjadi hal buruk pada adik perempuan yang dia sayangi itu.


"Pacar?" Ah tunggu dulu, Anastasia tak boleh bercerita tentang Selena yang sudah putus dengan pacarnya.


"Aku akan pergi mencari Selena." Tak lama setelah Mark mengatakan hal itu, bunyi bel terdengar.


Mark membukanya dengan terburu-buru, dia menduga kalau orang dibalik pintu adalah Selena. Dan saat dia membuka pintu, dia terkejut.


"Mark? Kenapa kau disini?"


"Itu pertanyaan ku, kenapa kau disini, Zico?" Zico datang tiba-tiba mengunjungi Anastasia.


Anastasia mengintip dari dalam. Dia tahu kalau Zico datang. Tapi justru dia tak tahu harus berbuat apa. Anastasia menjadi salah tingkah sendiri padahal dia belum bertemu dengan Zico.


"Aku ingin menemui Anastasia."


"Tidak, dia sedang tidur." Mark beralasan.


"Tapi dia disana, aku melihatnya." Zico membantah.


"Biarkan dia masuk, Mark." Sambung Anastasia.


"Tapi, Anastasia, kau baik-baik saja?" Khawatir Mark berlebihan.


"Tentu, biarkan dia masuk." Lalu Zico masuk dengan menatap Anastasia lega. Lega karena Anastasia tampak sudah membaik dari sebelumnya.


Zico duduk dengan Anastasia dan Mark di depannya. Mereka semua tampak canggung.


"Apa perlu apa Zico? Bukankah saya sudah meminta izin untuk hari ini?"


"Bukan urusan kantor. Aku hanya khawatir denganmu."


"Aku baik-baik saja."


Dan setelahnya suasana begitu canggung. Hening dan sepi.


"Kau jadi mencari Selena?" Bisik Mark yang disampingnya.


"Aku tak bisa membiarkanmu dengan dia disini. Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu?" Balas Mark dengan berbisik pada Anastasia. Mereka tak sadar kalau disaksikan oleh Zico yang terbakar api cemburu.


"Aku akan baik-baik saja. Cari Selena dengan keadaan selamat, aku tak ingin terjadi hal yang buruk menimpanya."


Akhirnya Mark pergi meninggalkan Anastasia dan Zico berdua di apartemen. Sebenarnya Mark pergi dengan berat hati karena dia juga khawatir dengan Anastasia.


Mark pergi mencari Selena dengan dibantu oleh anak buahnya yang lain. Anastasia dan Zico begitu canggung.


"Kau sudah makan?" Tanya Anastasia sebagai basa-basi.


"Belum. Bagaimana denganmu?"


"Aku sudah walau aku merasa tak makan. Kau mau makan? Akan aku buatkan sesuatu jika mau."  Tawar Anastasia pada Zico walau ia sendiri tidak yakin dengan masakannya.


"Tidak perlu. Kau sedang sakit bukan. Aku tak ingin merepotkan mu."


Dan setelah itu mereka canggung lagi dan lagi.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!