
33
Selena's POV
Hari ini weekend. Kak Ana memberikan waktu libur untuk Kak Mark karena dia tahu kalau aku sedang ingin berbincang dengan kakakku.
Alhasil, tugas kak Mark harus dikerjakan oleh Kak Ana sendiri. Yeah setidaknya hanya untuk hari ini saja. Lagipula, aku tidak punya banyak waktu bersama Kak Mark.
Kak Mark akan seharian di apartemen bersamaku. Hari ini aku akan bercerita tentang semuanya. Sebagai seorang adik, aku harus terbuka dengan kakakku sendiri. Aku juga tidak ingin kak Mark terus khawatir tentang masalahku akhir-akhir ini.
Apapun yang terjadi setelah aku bercerita, aku akan menanggung semua resikonya.
Sebenarnya, kemarin aku sedang ada masalah dengan pacarku, Samuel. Hal itu membuat aku ingin pergi ke club dan Kak Ana yang harus menjadi korbannya.
Aku tidak habis pikir dengannya. Dia pria yang sempurna di mataku, tapi dia gila kerja. Dia terus bekerja dan bekerja. Yang dia pikirkan hanya bekerja, bekerja, dan bekerja.
Samuel pergi ke Eropa, Perancis untuk urusan bisnisnya. Dia membuka cabang yang baru di sana. Aku bangga dengannya akan hal itu, tapi disisi lain, sebagai kekasihnya aku merasa kecewa.
Benar. Aku akan jujur tentang pacarku, Samuel kepada kak Mark. Kini Kak Mark dan aku sedang sarapan. Selesai sarapan, aku dan kakakku menonton tv.
"Ada yang ingin kau bicarakan?"
"Umm itu. Ah ngomong-ngomong, bagaimana kabar kakak?"
"Baik. Bagaimana denganmu?" Ucapnya sedikit dingin padaku.
Hal itu membuatku semakin gugup di dekatnya.
"Aku baik. Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan. Tapi aku takut kakak jadi..."
Dia menyela ku.
"Apa kau sudah tidak percaya lagi dengan kakakmu ini?"
"Tidak bukan itu. Ini tentang pacarku kak," ujar ku sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Kenapa? Kau baik-baik saja, bukan?" Sahutnya seraya menyilakan rambut kecil ke belakang telingaku.
"Dia, dia Samuel. Temannya Kak Zico," ucapku langsung memejamkan mataku karena terlalu takut dengan wajah marah kak Mark nantinya.
"Lalu? Kenapa? Dan kenapa kau memejamkan matamu?"
Aku kembali membuka mataku. Mungkin terlalu terkejut dengan reaksi Kak Mark. Aku kira kak Mark akan marah jika mengetahui siapa pacarku. Yeah karena mungkin hubungan kak Mark dan Kak Zico tidak baik, aku pun berasumsi seperti itu.
"Kakak tidak marah?"
"Kenapa harus marah? Apa yang salah? Dengar sayang, kakak sudah bilang padamu kalau kakak percaya denganmu, bukan? Kakak sudah percaya dengan keputusanmu. Kau sudah dewasa, kakak tidak bisa memperlakukanmu seperti anak kecil lagi. Kakak percaya padamu, Selena."
Sontak aku langsung memeluknya. Kata-kata seperti itu sangat jarang dikatakan oleh Kak Mark. Aku begitu tersentuh olehnya. Aku sangat beruntung memiliki kakak yang percaya dan peduli serta mengerti diriku.
Aku menangis bahagia. Ingin aku katakan betapa bahagianya aku kepada dunia saat ini. Air mataku mengalir hingga membasahi pundak kak Mark.
"Aku kira kakak akan marah, aku benar-benar takut kalau kakak marah padaku," ucapku terseguk setelah melepas pelukan.
"Sudah jangan menangis. Hari ini kita akan bersenang-senang bersama. Tapi, kenapa Samuel tidak langsung bertemu denganku?"
"Dia... dia sibuk dengan pekerjaannya di Eropa. Aku tidak bisa mencegahnya pergi lagi."
"Sebab itu kau pergi ke club?" Tebaknya dan dengan jawaban yang tepat.
Aku jadi merasa tidak canggung lagi dengan kak Mark. Aku sudah merasa akrab lagi dalam waktu yang sangat singkat. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama dengannya dalam keadaan tidak canggung.
Waktu berlalu dengan cepat. Malam telah tiba walau belum terlalu larut. Aku dan Kak Mark berencana pergi ke mansion nya kak Ana. Kak Ana pasti sengaja menghindar dari kami agar tidak merasa mengganggu waktu bersama kami.
Kami sampai di mansion itu, dijaga oleh anak buah yang lainnya. Aku masuk ke sana dengan kondisi semua ruangan gelap. Jelas Kak Ana sudah pulang karena mobilnya sudah di depan. Tapi, kenapa lampu mati semua?
"Kak Ana dimana? Apa dia tertidur? Tanyaku pada Kak Mark.
Aku mengecek kamarnya. Lampu di kamarnya menyala. Dengan suara gemercik air dari dalam kamar mandi mengisi ruangannya. Kak Ana pasti sedang mandi.
Selena's POVĀ end
Anastasia bergegas mengenakan baju setelah selesai mandi. Dia menuju ruang tengah. Di Sana sudah ada Selena dan Mark yang menunggunya.
"Wah pas sekali. Selena, boleh aku pinjam kakakmu sebentar? Aku harus bicara dengannya."
Selena menyetujuinya tanpa ragu. Anastasia dan Mark berpindah ruangan. Ruangan yang biasa mereka gunakan untuk diskusi dengan klien atau sejenisnya. Mereka duduk berhadapan.
Anastasia's POV
"Ada apa Anastasia?"
"Ini tentang misi Zico. Marco, kakaknya tengah menyelidiki kasus kematian istrinya yang dianggap seperti kasus pembunuhan. Aku mendapat berita ini dari Nicholas. Aku memintamu untuk mewaspadai dan menghilangkan bukti yang terkait."
"Nicholas? Apa dia bisa dipercaya? Kau yakin dengan itu?"
"Entahlah. Aku ingin kau juga menyelidikinya lebih detail dan tangkap Dave secepatnya. Dia melarikan diri karena sudah dicurigai sebagai otak."
"Baiklah. Akan aku urus segalanya."
"Tentu. Tolong batalkan kasus dari klien yang lain. Kita harus membersihkan kasus ini dulu."
Percakapan kami diakhiri dengan kesepakatan dan rencana yang matang. Butuh waktu untuk merancang segalanya dengan sempurna. Bahkan Selena sampai tertidur di sofa karena menunggu kami.
Selena segera di pindahkan oleh Mark ke kamarku karena hanya dua kamar yang sudah dibersihkan. Malam ini aku akan tidur di apartemen sendirian. Yeah di sana aku bisa konsentrasi dalam memecahkan masalah yang sedang terjadi.
Aku melempar tubuhku ke ranjang. Sungguh ini hari yang panjang. Aku lelah. Dan aku akhir-akhir ini sering lupa untuk meminum obatku. Sehingga, aku merasakan nyeri di bagian ginjalku.
Hendak ke dapur untuk mengambil minum, suara bel berbunyi. Aku membuka pintu untuk orang itu. Aku lihat dia dari bawah hingga ke atas.
"Kenapa kesini?"
Nicholas datang hanya dengan mengenakan kaos biasa. Benar-benar casual.
"Hanya berkunjung, boleh?"
"Aku sudah mengantuk. Pergilah. Jangan mentang-mentang kita bertetangga kau bisa seenaknya berkunjung kesini."
"Kenapa? Aku kakakmu. Jika sekarang kau mengantuk, tidurlah, aku bisa menunggumu di sampingmu."
"Huh? Kau pasti sedang mabuk."
"Ah by the way, aku juga membawa wine, mau?"
Aku cukup tergoda dengan wine yang dia bawa. Itu wine dengan merek kesukaanku. Bagaimana dia bisa tahu? Aku tidak tahu harus menerimanya atau tidak.
Dipikiranku hanya ada keinginan minum wine dan peringatan dari Mark yang selalu membuatku kesal. Aku bimbang dengan pilihan sederhana ini.
"Uumm masuklah," aku mengizinkan dia masuk.
Dia duduk di sofa tanpa izinku, tuan rumah. Cukup kesal dengan hal itu. Dia menaruh wine itu di meja. Aku mengizinkan dia masuk hanya karen wine, bukan yang lain.
Aku mengambil satu gelas khusus untuk wine dan pembuka tutup. Aku buka wine itu.
"Kenapa hanya membawa satu gelas?"
"Karena hanya aku yang minum. Kau memberikan itu untukku bukan? Berarti wine ini sudah menjadi milikku," ucapku seraya menuangkan wine itu.
"Sialan kau! Masih senakal dulu ya kau."
Aku tidak mengerti ucapannya itu. Aku tidak terlalu akrab dengan Nicholas sejak kami pertama bertemu. Dia tidak tahu kehidupan pribadiku atau sebaliknya. Dia hanya terus menganggapku sebagai adik yang merepotkan.
**Bersambung
Terimakasih sudah membaca!
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!