
36
Aku begitu sibuk. Sibuk karena terlibat dalam masalah Kakakku. Beberapa hari yang lalu, kakakku memintaku untuk menemaninya menuntaskan tentang kematian Eliza, istrinya.
Aku tidak paham dengan Kak Marco. Apa dia belum bisa merelakan kepergian Eliza hingga berbuat seperti ini? Atau memang hal ini terjadi? Pembunuhan terhadap Eliza.
Aku tidak tahu maksud pembunuhan itu jika memang benar. Pasalnya, Eliza orang yang memang selalu ingin bertarung, tapi secara sehat. Dia hanya wanita karir biasa.
Tujuan dan apa yang akan didapatnya jika Eliza sudah tidak ada? Kini aku sedang berada di restoran untuk makan siang. Aku belum pergi bersama Kak Marco sepenuhnya, dia memintaku untuk menjaga Daisy sementara dan segera setelah selesai urusan kantor, aku bisa ikut bersamanya.
Aku tengah makan. Hingga suara seseorang menghentikan mulutku yang tengah mengunyah. Dia di depanku hanya saja tatapanku masih berada di piringku.
Aku mendongak untuk melihatnya. Seorang pria yang sepertinya pernah aku lihat. Aku menghentikan acara makanku karena sudah tidak bernafsu.
"Zico? Benar itu kau?"
Dia duduk di depanku tanpa izin. Melihatku dengan senyum yang membuatku risih.
"Ah ternyata benar. Bagaimana kau bisa bernafsu makan disini?"
Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi, aku yakin pria ini memiliki hubungan dengan Anastasia. Wanita itu.
"Ah kau mungkin belum mengenalku. Baiklah, kenalkan aku Nicholas. Kakaknya Anastasia," ucapnya santai tapi membuatku terkejut.
Aku masih bertahan dengan sikap yang cuek dan dingin.
"Kenapa kau menyapaku?"
"Ah hanya ingin memberi kabar. Tapi, apa kau masih ingin mendengarnya? Karena ini tentang Anastasia."
Aku diam tidak menjawab.
"Baiklah. Kuanggap itu jawaban iya. Anastasia sedang di rumah sakit. Aku yakin kau sering melihat dia terbaring disana."
Jantungku berdebar cepat. Terpacu seperti larian kuda. Aku mencemaskan keadaan Anastasia. Tapi, apa aku bisa mempercayainya. Tapi, aku yakin disana ada Mark, pasti dia juga akan melarangku menemui Anastasia.
Saat ini aku tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan Anastasia kemarin atau nanti jika bertemu denganku. Aku hanya ingin bertemu dengannya.
Ternyata perasaanku dengannya tidak bisa hilang hingga sekarang. Aku masih mencintainya. Aku menginginkannya dan juga menyentuhnya. Aku merindukan itu.
"Kau ingin menjenguknya?"
Tunggu, apa dia tidak salah ucap? Atau memang kakaknya sendiri tidak tahu tentang hubungan kami? Apa dia membiarkan adiknya, Anastasia bersamaku?
"Apa kau yakin? Tapi, bagaimana dengan Mark?"
"Mark? Dia sedang pergi. Tidak perlu khawatir, waktumu dengan Anastasia tidak akan terganggu."
"Benarkah? Tapi, sebenarnya apa maksudmu?"
Tentu aku masih curiga. Biasanya seorang kakak laki-laki akan posesif dengan adik perempuannya.
"Tidak ada. Hanya saja ada syarat yang harus kau penuhi. Kau harus tetap bersamanya sepanjang waktu."
Apa? Tunggu, aku salah dengar? Bersamanya sepanjang waktu? Dengan Anastasia?
Tapi, bukankah justru Anastasia yang akan terganggu? Tapi, bagaimanapun, mungkin ini cara yang terbaik untuk menjalin hubungan yang baik lagi dengannya.
Aku memang ingin bersamanya sepanjang waktu. Setiap saat. Tapi bagaimana dengan dia?
"Baiklah, aku terima tawaran itu."
Aku menyetujuinya. Aku akan membatalkan pertemuanku dengan Kak Marco juga. Aku hanya akan mengirim beberapa anak buahku untuk menemuinya saja. Aku yakin dia bisa mengatasinya sendiri.
Karena yang aku pikirkan saat ini hanya Anastasia. Aku terus memikirkannya. Karena aku di dalam mabuk cinta. Aku gila karena cinta.
....
Nicholas membawa Zico ke rumah sakit. Sekarang mereka tengah berada di ruangan milik Anastasia. Zico terlalu gugup untuk melakukannya. Tapi dia ingin bertemu dengannya.
"Apa lagi? Masuklah. Aku akan pergi, jika itu perlu," ucap Nicholas.
"Dia tidak sedang tidur?"
"Entahlah. Tapi, jangan berbuat macam-macam dengan adikku, oke?"
Nicholas berlalu meinggalkan Zico yang masih berdiri di depan pintu dengan keadaan gugup dan bimbang.
Setelah memantapkan tekadnya, Zico membuka pintu. Pintu terbuka dan dari sana dia melihat Anastasia tengah membaca buku. Anastasia menyadari kehadirian Zico secara tiba-tiba itu.
"Zico? Kenapa kau disini?" Anastasia tampak bingung.
Zico berjalan mendekati Anastasia. Semakin dekat, dekat dan Zico memeluknya erat. Benar-benar erat.
Anastasia tidak membalas atau melawan. Dia hanya diam.
"Aku merindukanmu. Aku mencintaimu, Anastasia. Aku tidak bisa melupakanmu."
Zico melepas pelukan. Dia masih menatap Anastasia dengan wajah bahagia. Matanya bersinar ketika melihat Anastasia.
"Karena itu adalah Kau. Kau adalah Anastasia."
Anastasia memeluk Zico erat. Zico membalasnya dengan pelukannya lagi. Mereka bahagia saat itu juga. Mereka juga tidak menyangka akan semudah ini untuk berbaikkan.
Zico menatap wajah Anastasia. Begitu juga Anastasia menatap wajah Zico. Mereka bertukar panjang. Dengan cara itu, mereka seperti beekomunikasi lewat isyarat mata.
Lalu, tiba-tiba Zico meraup bibir Anastasia. Dia mendorong lagi untuk memperdalam ciuman. Tangannya memegang tekuk Anastasia. Anastasia seraya membalasnya.
Ciuman panas itu masih berlanjut walau nafas mereka sudah habis. Sesekali Anastasia mengerang karena bibirny digigit.
"Ugh! Aku merindukan tubuhmu," ucap Zico disela ciuman mereka.
"Jangan disini. Tunggu besok kalau aku sudah pulang dari rumah sakit."
Mereka menghentikan ciuman itu. Kini mereka hanya saling duduk dan saling menatap. Sesekali Zico mengecup singat bibir Anastasia. Tangannya mengusap pipi lembut Anastasia.
"Kau bertambah cantik, Anastasia."
"Kau berusaha menggodaku, Zic?"
Anastasia tersenyum pada Zico dan sebaliknya. Suasana mesra itu masih berlanjut juga. Mereka terus terbawa suasana.
"Mau bagaimana lagi? Aku sudah benar-benar tidak sabar."
"Tahanlah. Setelah aku keluar dari sini besok. Kita habiskan waktu kita bersama lagi."
Begitu banyak kata-kata manis dan romantis serta kadang-kadang dengan humoris.
Namun, disini lain. Selena tengah berada di apartemen bersama temannya. Namanya, Sisca. Teman kuliah Selena. Mereka cukup akrab.
"Ah Selena, kau tinggal di apartemen ini sendiri?" Ucap Sisca ketika keduanya sedang sibuk makan camilan.
"Tidak. Kakakku sedang pergi. Mungkin lama, jadi dia membiarkan aku membawa teman disini."
"Huh? Pas sekali. Aku juga mengundang pacar dan temannya untuk datang kemari."
"Apa? Kenapa kau tidak bilang? Bagaimana jika kakakku tahu?"
"Kenapa? Bukankah kakakmu sedang pergi? Tenanglah, sebentar lagi mereka datang. Mereka pasti akan baik padamu."
Tak lama setelah mengatakan hal itu, suara bel berbunyi. Dua pria masuk ke dalam unit tersebut. Satunya adalah Briant, pacarnya Sisca. Dan yang satunya adalah Billy, dia adalah temannya Briant.
Selena tidak mengenal Billy, hanya saja Sisca pernah cerita sesekali tentang Billy kepada Selena. Padahal, Sisca sudah tahu kalau Selena sudah punya pacar walau kini mereka sedang LDR.
"Hai sayang. Ah dan Selena. Dia Billy, temannya Briant."
Selena dan Billy saling salaman dan menatap satu sama lain. Kini mereka semua sedang berkumpul di depan televisi dengan ditemani beberapa makanan di depannya.
Selena dan Billy masih merasa canggung. Terutama, saat kedua temannya, Sisca dan Briant malah berdua bermesraan.
"Uumm Selena, apa besok kau ada kelas?" Tanya Billy random.
"Tidak ada. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga. Ah sepertinya kita menjadi pengganggu bagi Sisca dan Briant, ya," ucap Billy diikuti tawa canggungnya.
Mereka akhirnya hanya terdiam hingga selesailah mereka menonton film. Sudah larut malam, tapi itu tidak menjadi penghalang bagi anak muda itu.
"Selena, aku dan Briant akan pergi ke toko sebentar, ya. Kurasa kita perlu makan juga. Ada yang mau titip sesuatu?"
"Ah aku ingin choco banana," ucap Selena hingga membuat semua orang melihatnya.
"Apa? Kau yakin itu, kau tidak ingin alkohol, atau wine?"
"Kurasa tidak. Kakakku melarangku minum itu saat dia tidak disini."
Yeah semuanya memaklumi Selena. Selena sangat penurut pada kakaknya. Sisca pergi dengan pacarnya. Meninggalkan Selena dan Billy dalam satu ruangan. Suasana menjadi hening.
"Selena, kau cantik malam ini," kata itu tiba-tiba keluar dari mulut Billy.
Lamunan Selena hilang seketika karenanya. Jantung Selena terpacu cepat. Dia sedikit ketakutan. Tiba-tiba Billy sudah berada tepat di depannya.
Matanya melihat wajah Selena, lalu melihat bibirnya. Bibir ranum milik Selena membuat Billy tergoda.
Terimakasih telah membaca!
tunggu episode selanjutnya ya!
berikan dukungan kepada author!
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!