
38
Warning! Cerita Dewasa!
Nada dering telponku berbunyi memecah suasana. Ketika kami sedang bertatap-tatapan di atas ranjang dengan posisi saling menghadap. Lamunanku membuyar begitu juga Zico.
"Dari kakakku, maaf aku harus mengangkatnya dulu, mungkin ada hal penting."
Aku pergi ke balkon kamar hotel kami. Suasana malam dengan angin berhembusan membuatku nyaman. Aku mengangkat telpon dari Nicholas. Aku memastikan juga agar Zico tidak menguping.
"Hallo, ada apa Nicholas."
"Panggil aku kakak, aku kakakmu, bukan temanmu."
"Berhenti omong kosong, dan cepat bicaralah."
"Ah tidak. Aku hanya khawatir saja terjadi sesuatu padamu. Apa kau baik-baik saja? Zico, dia tidak berbuat macam-macam, kan?"
"Apa maksudmu? Aku hanya akan menjalankan tugasku dan kau juga begitu. Bagaimana dengan Mark, apa dia baik-baik saja?"
"Kenapa Mark? Kau tidak mengkhawatirkan aku? Lagipula ini misimu, kau juga tidak risau akan hal itu?"
"Aku sama sekali tidak khawatir denganmu, sifat licikmu itu sudah menjadi perisai sendiri untukmu."
"Tentu saja. Mark, dia baik-baik saja. Dia hanya kurang tidur, apa dia memang seperti itu?"
"Suruh dia tidur dengan teratur, ini perintah. Dan Nicholas, aku meminta bantuanmu, datanglah ke apartemenku. Aku lupa tentang Selena. Tolong, jaga dia untuk seharian besok. Dia mungkin sendiri dan jangan macam-macam, aku dan Mark tidak tinggal diam jika kau macam-macam."
"Baiklah. Akan aku lakukan. Dan ingat kataku, lakukan tugasmu, jangan berlebihan. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, jangan membuatku khawatir."
"Ah dasar bedebah. Memang aku ini apa?"
Dia mematikan telpon dengan segera. Mungkin kalimat terakhirku terpotong juga. Tapi, aku merasa lebih di perhatikan olehnya. Dia baik. Dia kakakku. Mungkin aku akan membiasakan memanggilnya dengan sebutan yang sepantasnya.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan mendarat dan memeluk perutku dari belakang. Aku sempat terkejut. Hampir saja ponselku jatuh.
"Kau lama sekali. Kau tampak bahagia mengobrol dengan kakakmu. Aku cemburu," ucapnya dengan nada manja.
Dagunya dia taruh di pundakku. Hembusan nafasnya sampai di leherku. Membuatku sedikit merinding. Takut jika hal yang di katakan Nicholas tentang 'berlebihan' itu malah terjadi.
Aku akan menjalankan tugasku semampuku dan aku tetap akan berusaha. Aku harap keluar dari hotel ini aku masih suci.
"Kau cemburu dengan kakakku? Kalau begitu, kau ingin jadi kakakku saja?"
"Tidak, aku ingin jadi kekasihmu. Aku akan menikahimu, lalu kita akan punya anak yang lucu. Kita akan merawat mereka bersama dan bahagia untuk selamanya."
Blush!
Seketika wajahku memerah. Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Memikirkan tentang keluarga belum pernah aku lakukan. Benar juga, mungkin suatu saat nanti aku juga akan menikah, dan mempunyai anak.
Tapi, dengan siapa itu aku tidak memikirkannya. Aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal itu.
"Kenapa kau diam? Ah kau ingin anak berapa?"
"Huh? Anak?" Aku tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Iya, anak. Aku ingin punya lima anak perempuan. Mereka pasti akan cantik sepertimu."
"Lima?!"
"Hm... kenapa kau selalu terkejut? Uumm bagaimana kalau kita mulai mrmbuatnya?"
Tunggu dulu. Apa maksudnya itu?
Zico menggendongku di depan dan menaruhku di ranjang. Aku masih dengan posisi duduk di bibir ranjang. Dia tepat di depanku dengan menyeimbangkan tinggiku.
"Kenapa wajahmu merah sekali? Apa kau demam?"
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku terlalu malu karena wajah Zico tepat di depanku. Memang wajah yang tampan dan rupawan. Sampai menbuat jantungku bermarathon.
"Biarkan aku melihat wajahmu, apa kau takut?"
Dia melepaskan tangan yang di wajahku. Aku masih menutup mataku.
Tapi, kalau di kira-kira, aku tidak pernah takut untuk hal apapun. Aku berani, terutama mengambil resiko jika saat melakukan misi. Aku melakukannya terus.
Tapi, kenapa saat di ranjang aku malah seperti kucing. Mana diriku yang seperti harimau menakutkan dan berwibawa itu.
Aku harus mencari alasan untuk mengulur waktu. Aku sudah mulai berkeringat. Padahal cuaca sedang dingin. Apa karena pemanas ruangan?
"Ah aku haus. Aku ingin minum dulu," ucapku mulai berani.
Aku berdiri dan pergi menuju lemari es. Mengambil sebotol air minum dan aku teguk hingga habis. Dan langsung aku buang botol itu di tempat sampah. Sungguh benar-benar haus karena gugup.
Aku harus bisa mengulur waktu. Apa lagi yang harus aku lakukan. Jika mandi, tapi aku sudah mandi. Lapar? Tapi kami tadi baru selesai makan malam. Tapi, bagaimanapun aku mengulur waktu, dia tetap bisa menerkamku nanti.
Sepertinya percuma aku berpikir dari tadi. Aku kembali duduk lagi di tepi ranjang. Agak jauh dari Zico. Aku gugup. Sangat terlihat.
"Kau takut Anastasia?"
"Uumm itu..."
Langsung tiba-tiba, Zico ******* bibirku. Aku benar-benar gugup. Jantungku bisa terdengar. Berdetak dengan cepat dan bersuara keras. Aku bahkan bisa mendengarnya.
Aku belum membalasnya. Aku benar takut jika ini akan berlanjut di tingkat yang berbahaya.
"Akan aku lakukan dengan perlahan tanpa buru-buru, Anastasia. Kau harus bisa menikmatinya juga," ucapnya dengan sidikit terengah-engah.
Dia ******* bibirku dengan lembut. Benar, dia tidak terburu-buru. Dia bisa mengerti kekhawatiranku tadi. Memang. Memalukan.
Aku mencoba untuk menikmatinya. Aku membalas ciuman itu dengan lumatan pula. Dia mendorong tubuhku hingga terjatuh di ranjang dan menimpaku.
Tangannya kini mulai beraksi. Dia membuka bajuku. Dia menyentuh perut rataku yang membuatku geli. Tentu saja, karna aku belum terbiasa.
Dia hendak melepas pengait bra. Tapi dia berhenti dan menatapku sejenak. Kurasa dia meminta izin dariku dulu. Aku mengangguk agak ragu. Lalu, dilanjutnya aksinya.
Dia meremas dadaku yang membuatku mengerang. Saat itu pula, aku meraskan gundukan di bawah saja. Dia sudah terangsang?
Jantungku terpacu lagi. Lagi dan lagi. Aku benar-benar takut jika hal itu memang akan terjadi malam ini.
Keringatku membasahi tubuhku. Hanya aku yang berkeringat. Zico kurasa sama sekali tidak berkeringat. Zico berdiri. Dia mengangkatku dan memperbaiki posisiku. Dia menaruhku di tengah ranjang.
Dia melepas dasi yang terpasang di kerah kemejanya tadi. Dia mengikatnya di pergelangan tanganku dengan posisi tanganku di atas.
Aku masih gugup dan bertambah takut. Apa yang dia lakukan? Kenapa dia mengikatku? Dia dengan santai melepas kemejanya.
Memeperlihatkan tubuh seksinya. Perut sixpack nya membuat wanita tergila-gila. Namun, ada bekas bercak disana. Ah aku tahu itu apa.
Dia kemudian menindihku lagi. ******* bibirku dengan lembut. Dia menepati janjinya sampai sekarang untuk bersikap lembut.
Perlahan, aku bisa merasakan tangannya berada dibawah sana. Dia membuka celanaku. Tunggu apa itu tidak terlalu terburu-buru?
Dia membukanya dan tinggal celana dalamku. Kini aku hanya memakai celana dalamku.
**bersambung...
Terimakasih telah membaca!
Berikan dukungan kepada author!
Tunggu episode selanjutnya ya..
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!