The Big Boss

The Big Boss
Tujuh



7


"Hei lihat dia. Kasihan sekali dia." Kata seorang gadis.


"Dia tak punya teman tau."jawab gadis yang bersamanya.


"Dia kan orang gila. Mana punya teman."


"Heh, lihat dia menatap kita." Kemudian mereka berlalu meninggalkan gadis yang mereka ejek tadi.


Gadis malang itu memang sudah terbiasa dengan hal itu. Menganggap dia gila.


Gadis itu terus mendapat beasiswa, prestasi di kelas, sekolah, bahkan tingkat nasional. Namun, mereka terus menyebut gadis itu sebagai gadis gila.


Yeah gila. Gadis itu sering marah tanpa alasan. Berteriak tanpa tau apa yang terjadi. Bahkan menangis tanpa ada yang menyakitinya. Bahkan ketika dia marah, dia melukai teman sebangkunya yang tak tau apapun, dan tanpa alasan.


Gadis itu sudah dibawa ke psikiater namun sia-sia saja. Dokter terus mengatakan kalau gadis itu hanya kehilangan kendali diri dan sulit untuk mengenal diri sendiri seperti ada dua jiwa yang tak saling mengenal didalam tubuhnya. Mereka berusaha untuk menguasai tubuh itu sepenuhnya, sebab itu dia bertingkah aneh seperti orang gila. Atau mereka menyebutnya dengan kepribadian ganda.


Hingga suatu hari ada seseorang yang telah membuat gadis itu berubah. Seseorang yang dia anggap sebagai pahlawan.


Mereka bertemu ketika gadis itu berada di taman. Ketika gadis itu terus saja di kecilkan oleh teman sebayanya.


"Hei kalian, jangan ganggu dia." Semua mata tertuju pada pemilik suara itu.


"Apa? Mau jadi pahlawan kesiangan kau? Atau mau ini?" Salah satu mengepalkan tangannya dan hendak memukul orang yang membela gadis malang itu.


Namun dia mencegahnya. Lalu memutar lengan lawannya. Hingga tumbang. Mereka lainnya yang menyaksikan hanya ketakutan. Tak ingin bernasib yang sama dengan orang itu, mereka semua lari. Menjauh dari gadis malang itu.


Orang itu mendekat pada gadis malang itu.


"Kau baik-baik saja?"


Gadis itu masih diam.


"Baik-baik saja? Kau pikir aku baik-baik saja? Hiks... huaaa... kau pikir aku baik-baik saja? Kau tak lihat semua luka ini? Hiks... kau tak lihat apa yang mereka lakukan padaku selama ini? Aku terus menahan semuanya. Aku tak bisa berbuat karena aku lemah, bahkan aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku terus terluka. Aku ingin marah, aku ingin menangis. Dan aku ingin berteriak. Tapi aku tak punya siapapun. Aku sendiri. Ini yang kau bilang baik-baik saja?"


Gadis itu berbicara dengan menangis. Di pundak pria yang telah menolongnya itu. Terus menangis tanpa henti. Mengeluarkan semua emosi yang telah dia pendam selama ini. Pria itu terus disampingnya. Menemani gadis itu menangis dan mengeluh.


"Anastasia? Hei Anastasia? Kau baik-baik saja?"


***


"Anastasia?"


Lalu ia terbangun dari tidurnya.


"Tunggu, apa yang aku lakukan disini? Kenapa kau disini? Dan apa yang kau lakukan padaku."


Anastasia terus bertanya tanpa henti hingga lupa mengambil nafas.


"Tenang Anastasia. Kau hanya sedang di dalam mobil ku. Dan aku tak melakukan itu pada mu. Aku menjamin keperawanan mu, Anastasia." Ucap Zico seperti sedang bercanda padahal Anastasia sedang serius.


Anastasia lalu keluar dari mobil. Dia menyadari bahwa hari sudah sore. Matahari mulai terbenam. Begitu indah menghiasi cakrawala.


Anastasia kembali mendekati bibir pantai. Menikmati angin yang sejuk. Dengan gelombang air laut yang berkejar-kejaran.


Anastasia begitu berusaha untuk tidak terbawa suasana, terlebih dengan mimpi nya tadi yang menunjukan masa lalunya yang kelam.


"Kau yakin baik-baik saja?"


Dejavu.


Itu yang Anastasia rasakan ketika tiba-tiba Zico bertanya hal itu. Dan Anastasia terbawa suasana tentang masa lalu nya lagi.


"Apa aku terlihat baik-baik saja? Huh?" Balik tanya Anastasia dengan menatap Zico datar.


"Uumm aku rasa tidak. Kau belum makan dari tadi. Apa kau tidak lapar? Huh aku saja sekarang sangat lapar walau tadi sempat makan. Aku lupa akan lapar saat tadi kita berciuman mesra."


"Baiklah aku minta maaf karena mengganggu cuti mu tapi perlu kau tau juga, pacar mu terus menelepon mu dan itu sangat mengganggu ku." Zico menodongkan handphone milik Anastasia. Di layar sudah terlihat nama Mark.


Anastasia yakin kalau Mark akan memberikan kabar tentang pembunuhan itu. Sehingga Anastasia menjauh dari Zico agar ia tidak menguping pembicaraan.


"Bagaimana Mark?"


"Target berhasil di bunuh. Hanya saja, anak nya, dia sedang dalam perawatan karena terkena gas juga."


"Bodoh! Apa yang kau lakukan? Sudah aku bilang untuk memastikan orang yang di dalam rumah itu dulu."


"Maaf bos. Saya akan bertanggung jawab jika anak itu dalam kritis."


Anastasia menutup telpon dengan marah. Dia bingung harus berbuat apa. Dia ingin kembali ke mansion nya untuk menenangkan diri.


"Tunggu Anastasia. Kenapa kau marah-marah dengan pacarmu?" Zico memotong dan menghentikan Anastasia.


"Dia bukan pacar ku! Dan aku tidak ingin punya kekasih atau apapun itu!"


'Astaga aku kelepasan. Bagaimana ini. Kenapa aku bisa seceroboh ini.'


"Oh aku paham. Kau tadi marah karena putus dengan dia. Itu berarti aku masih punya kesempatan."


"Stop. Aku mau pergi, ada urusan mendesak. Kau tak boleh ikut ataupun menguntit."


"Tapi kita harus makan malam dulu. Kau tak bisa pergi seenaknya."


Anastasia mengabaikannya. Zico juga tak menguntit karena hendak ia akan mengikuti Anastasia, dering handphone nya berbunyi.


"Zico! Cepat ke rumah sakit. Istri ku dan anakku dalam keadaan darurat. Aku akan segera menyusul."


"Baik Kak."


Zico segera pergi ke rumah sakit. Mendapat kabar itu membuat nya tidak tenang. Tapi Zico masih bisa fokus untuk menyetir mobilnya.


Sedangkan, kakaknya akan segera pulang karena dia sedang berada di luar kota. Benar, kakaknya sibuk dengan pekerjaannya.


Lalu, sampailah Zico di rumah sakit. Dia langsung masuk ke kamar keponakannya. Daisy Elise Geuro, anak perempuan dari kakaknya Zico dan istrinya, Eliza Fransisca Geuro. Umurnya baru 6 tahun.


Dia melihat kondisi Daisy yang terbaring di kasur rumah sakit. Dia menemui dokter yang menangani Daisy.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"


"Daisy baik-baik saja. Tapi, maaf kami sudah berusaha untuk menyelamatkan ibunya, tapi Tuhan berkehendak lain. Dia tidak bisa di selamatkan."


"Tidak!" Suara teriakan dari kakaknya Zico, Marco Louie Geuro.


Marco begitu shock mendengar kabar duka itu.


***


"Bagaimana Anastasia?"


"Tenang, aku pastikan Eliza, sudah tiada, kau akan mendengar berita kematian dari Eliza Fransisca Geuro, istri dari Marco Louie Geuro, kakak Zico, musuh mu."


"Tapi, kita tidak akan ketahuan kan."


"Kau meragukan aku Dave. Aku berani mati jika kita sampai ketahuan."


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!