
46
Warning!
For 18 years old
Sudah di ingatkan loh!
Selamat membaca!
......................///..........................
Aku masih gugup. Benar-benar gugup. Setelah lama aku dan Zico melakukan perjalanan melelahkan untuk sampai di Eropa.
Aku membaringkan tubuhku di ranjang yang empuk ini. Rasanya benar-benar nyaman. Saat nyaman hingga tidak ingin aku beranjak dari sana.
Zico juga tiba setelah membawa koper kami yang berat itu. Dia berbaring di sampingku karena ranjang ini ukuran besar.
"Ah aku setelah ini aku harus pergi menemui teman lamaku. Aku merindukannya."
"Kau punya teman? Kenapa aku tidak tahu?"
"Tentu aku punya. Sebenarnya, aku berjanji menemuinya sudah lama. Tapi, aku tidak sempat ke Eropa. Kami akan bertemu di dekat Eiffel."
Aku menatap Zico. Dia tampak kesal. Aku melakukan ini karena aku masih takut dan gugup karena tujuan kami sebenarnya kesini.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu. Tapi, dia seorang wanita atau pria?"
"Seorang pria tampan," ucapku santai.
"Apa? Aku melarangmu!"
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Tentu! Aku cemburu. Kau istriku sekarang!"
"Nah itu tahu. Aku istrimu sekarang, jadi tidak perlu khawatir jika aku dekat dengan pria lain."
Malam ini aku sudah bersiap-siap. Memakai pakaian yang aku bawa. Zico juga mengantarku dengan mobil. Hotel kami tidak jauh dari Eiffel.
Paris, Kota Romantis yang selalu menjadi icon untuk bulan madu. Namun, aku menundanya dengan alasan bertemu teman.
Aku berjalan mendahului. Zico berada di belakang mengekor. Kami seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Padahal, kami suami-istri.
"Anastasia, tunggu aku. Kenapa kau buru-buru?" Zico mengomel tidak jelas di belakangku.
Aku mengabaikannya dan tetap mencari temanku itu. Lalu, tepat di bawah menara itu, dia tengah menunggu juga.
Aku senang melihatnya. Dia melihatku juga dan melambaikan tangannya padaku. Aku berlari padanya. Dan sontak aku memeluknya.
"Aku merindukanmu," ucap dia, Rey.
Aku bertemu Rey pertama kali saat menjalankan misi di Eropa kala itu. Aku merasa cocok dengannya. Karena dia juga sama denganku. A Big Boss.
"Aku juga merindukanmu, Rey."
Lalu, suara deheman Zico memisahkan pelukan kami. Kami duduk di sebuah tempat seperti cafe tetapi terbuka. Benar-benar indah.
"Siapa dia Anastasia?" Tanya Rey.
"Zico, suami Anastasia," jawab Zico memotongku bicara dan menyela.
"Wah kapan kalian menikah? Kenapa tidak mengundangku?"
"Kemarin," sela Zico lagi.
"Benarkah? Kalau begitu selamat ya. Jadi, kau kesini untuk bulan madu?"
"Benar! Tapi Anastasia memaksa bertemu denganmu," sela Zico lagi.
"Zico, hentikan. Ah maafkan dia. Dia hanya terlalu lelah," ujarku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ah maafkan aku. Uumm kenalkan, aku Rey. Dan kau tahu, aku juga pernah mencintai Anastasia," Rey mengatakannya dengan santai.
Bisa aku lihat kecemburuan dan marah di wajah Zico saat ini. Tapi aku berusaha membuat topik lain. Selama aku mengobrol panjang dengan Rey, Zico hanya diam.
Aku tahu dia marah. Ah mungkin juga nanti dia baikkan lagi. Dia tidak akan tahan marah denganku. Setelah tengah malam hampir tiba, aku baru pulang di hotel.
Aku rebahkan lagi tubuhku di ranjang. Belum sempat aku berganti baju. Aku terlalu lelah, sepertinya aku akan tertidur. Tapi, tiba-tiba Zico berada di atasku. Dia menatapku dengan wajah yang membuatku tidak tahan.
Ugh benar-benar.
Aku terlalu lelah untuk melakukan apapun. Tidakkah dia mengerti?
"Bukan hanya kau, Anastasia. Akupun juga lelah, lelah melihatmu dengan Rey. Apa kau tidak mengerti perasaan suamimu ini? Kau suka membuatku kesal?"
Aku tidak tahan untuk menatapnya. Aku memalingkan wajahku.
"Aku lelah. Mari bicarakan besok," ucapku lalu bangun.
Zico juga bangun. Menyingkir. Aku mengganti baju dengan piyama. Dengan begitu aku merasa nyaman. Aku mulai berbaring di ranjang.
Disampingku ada Zico. Sepertinya dia juga sudah tertidur. Tapi, tidak denganku. Aku terus memikirkan semua hal. Semua tentang Zico. Aku tidak bisa tidur.
Padahal aku merasa sangat lelah. Pikiranku pun juga begitu. Aku terbangun lagi. Aku berjalan menuju balkon. Menatap dari lantai atas pemandangan indah Kota Paris.
Lampu yang masih menyala dan menghiasi kota yang indah ini. Semua tampak tenang, tapi tidak dengan pikiran dan hatiku.
Setelah aku pikirkan, aku merasa bersalah pada Zico. Aku bukan istri yang baik, ataupun wanita yang baik. Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan itu, tapi aku tidak tahan.
Aku juga tidak terbiasa untuk menerima perintah paksaan. Makanya, Zico kesal dengan sifatku itu.
Namun, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pingganggku dari belakang. Kelapanya terjatuh dia atas pundakku. Aku menggenggam tangannya yang berada di depan.
Aku tahu itu pasti Zico. Tidak mungkin juga orang lain. Tapi, bukankah dia sudah tertidur? Apa aku membangunkannya?
"Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" Tanyanya dengan lembut tepat di telingaku.
"Maafkan aku," ucapku setelah aku balik tubuhku dan kini menghadap dia.
Larut malam ini, bulan menyinari seluruh kota walau cahaya kota sudah terang benerang. Namun, ketahuilah bahwa cahaya dari langit tidak akan mengkhianatimu.
Dia akan selalu ada untukmu. Menemanimu disetiap malammu yang sepi dan sunyi. Dan dia akan bernyanyi untukmu seorang diri. Maka, dengarkanlah.
Aku mencium singkat bibirnya. Yang aku rasakan saat ini adalah gugup. Jantungku berdebar dengan cepat. Aku takut jika tiba-tiba juga aku akan mengalami sakit jantung karena menatap Zico terlalu lama.
"Jangan katakan jika kau lelah. Aku tahu itu, karena itu biarkan aku menghilangkannya."
Dia ******* lembut bibir ranumku. Aku membalasnya dengan lumatan kecil. Dia juga menggigit kecil bibirku.
Lalu, dia menggendongku di depannya dan membawaku ke ranjang. Dia menindihku dengan tubuhnya. Lalu, dia ******* kecil bibirku. Seraya aku juga membalasnya.
Tangan Zico tengah sibuk masuk ke dalam piyama yang aku kenakan. Dia melepas bra milikku dengan cepat. Dia meremas payudaraku dengan tangannya. Aku mendesah karena dia juga terlalu kasar.
"Lepaskan juga bajumu," ucapku setelah dia melepas piyamaku.
Aku benar-benar tidak mampu bergerak. Aku juga gugup.
Lalu, Zico menuruti perintahku. Dia melepas bajunya dan memperlihatkan tubuh seksinya padaku. Otot yang terlihat jelas membuat wanita tergoda padanya.
"Lakukan dengan perlahan, aku takut," ucapku sambil menatap matanya.
"Jangan khawatir. Akan sakit awalnya tapi semua akan baik-baik saja,"
Begitukah caranya membuatku tenang? Aku malah semakin takut. Walau aku tidak menunjukannya dengan tingkah laku. Karena aku masih virgin. Ingat itu.
"Aku takut," ucapku benar-benar lirih.
Tapi, aku tidak menyangka kalau Zico mendengarnya. Dia menatapku dengan matanya yang begitu tenang. Membuatku ikut seperti itu.
"Tutup matamu, jika kau takut," ujarnya dengan lembut dan tenang.
Aku mengikuti nasehatnya. Aku menutup mataku dalam-dalam. Aku tenggelam dalam kegaduhan hati.
*maaf bagian ini skip untuk mematuhi aturan yang ada di Noveltoon*
"Aku lelah," ujarku dengan nafas panjang.
"Aku ingin lagi. Aku mohon, hmm?"
Pintanya dengan sangat. Aku tetap teguh dengan jawabanku. Karena memang benar aku kelelahan.
"Tidurlah. Mari kita lanjutkan besok, dan jangan memulai," yeah Zico mengerti maksudku.
Aku mengenakan piyama lagi dan tidur dengan selimut bersama Zico.
**Bersambung
BACA SAMPAI AKHIR YA!
BAKALAN ADA PENGUMUMAN DIAKHIR NANTI!
JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK! SILAHKAN VOTE DAN COMMENT UNTUK MENDUKUNG AUTHOR**!