The Big Boss

The Big Boss
Tiga Puluh Lima



35


Tubuhku terasa sakit. Dan hampir mati rasa mungkin.  Aku membuka mataku perlahan. Terasa berat rasanya walau hal sepele. Aku melihat langit-langit ruangan yang putih bersih.


Lalu, sebuah wajah muncul di depan wajahku. Dia menatapku dengan rasa kasihan. Benar, rasa kasihan. Dia adalah Nicholas. Aku masih begitu ingat terakhir kali aku melihatnya. Sebelum aku pingsan dan berada disini.


Aku mungkin berada di rumah sakit. Rasanya begitu familiar. Bau obat masih bisa aku cium. Aku lihat alat medis dan infus di samping ranjangku.


"Bagaimana keadaanmu?"


Kemudian raut wajah Nicholas berubah. Wajahnya tampak kesal dan marah padaku.


"Kenapa kau melakukannya? Dan kenapa kau menyembunyikannya padaku selama ini? Begitukah kau menganggapku?"


Aku mengerti maksudnya. Ini tentang masa lalu kami. Masa lalu yang begitu jelas aku ingat. Karena itu mengubah hidupku.


Dulu, Nicholas adalah anak nakal. Dia sering bergaul dengan orang yang tidak baik. Hingga terjerumus dalam lingkaran narkoba. Sebelumnya, Nicholas juga mengosumsi minuman keras.


Walaupun begitu, sesekali aku merasakan sedikit kasih sayang darinya karena diperlakukan tidak semestinya oleh orang tuaku sendiri. Dia membelaku saat aku diam tidak bersalah tapi menjadi pelampiasan mereka.


Kala itu juga, aku merasakan bahwa dia adalah kakakku. Hanya saat dia benar-benar memperlakukanku sebagai adiknya.


Saat itu Nicholas masih remaja. Suatu hari dia dipergikan ke rumah sakit. Aku bisa melihat kecemasan di wajah ibu tiriku dan ayah. Aku tahu Nicholas hanya kurang perhatian dan ingin di perhatikan.


Kurasa saat itu dia mendapatkannya. Dokter sedang berbicara dengan ayah dan ibu tiriku. Aku mendengarkannya dengan jelas.


Dokter itu berkata, bahwa Nicholas harus segera mendapat donor ginjal. Saat itu, Nicholas sudah berada dalam kondisi kritis.


Saat itu, jantungku terasa terpacu dengan cepat. Kakiku mulai lemas. Aku begitu takut kehilangan seseorang yang akan membelaku nantinya. Walau sering lebih Nicholas juga membenci dan memukulku.


Saat itu pula, aku berkata, "Aku! Akan aku lakukan untuknya."


Semua orang menatapku tidak percaya. Gadis kecil sepertiku tidak semestinya harus melakukan donor ginjal. Aku terus memaksa, lalu aku melakukan pemeriksaan. Beruntung donor yang dibutuhkan cocok.


Saat itu juga aku memberikan sebagian ginjalku untuk Nicholas. Aku rasa itu sudah cukup untuk ucapan terimakasihku padanya.


Kisah masa lalu itu terus masih aku ingat betul. Aku tidak menyesal harus memberikan ginjal itu untuknya. Tidak sekalipun.


Dan untuk pertama kalinya, di hadapanku, dia menangis.


"Huh? Kau menangis?" Remehku.


"Tidak. Aku tidak menangis. Seseoran yang terlalu jahat sepertiku, tidak pantas menangis. Terutama di depan seorang malaikat."


Aku tidak tahan. Aku memalingkan wajahku. Aku berusaha menahan air mata ini. Aku tahu, mungkin juga aku jahat padanya. Bahkan setelah dijalankan operasi kala itu, aku ingin merahasiakan darimana asal organ tubuh yang ada di dalamnya.


"Tapi, kenapa kau terus mencoba menjauh dariku?"


"Kenapa masih tanya? Bukankah karena kau jahat padaku atau karena aku terlalu baik padamu?" Air tidak bisa ditahan lagi dari mataku.


Dia keluar dengan deras bersamaan dengan air mata Nicholas. Saat ini aku terlalu bahagia hingga tidak bisa berkata apa-apa.


....


Aku masih di rumah sakit. Aku menunda untuk pergi bersama Mark. Aku mengabari Mark bahwa aku masih ada urusan. Aku menyerahkan tugas itu sementara padanya.


Aku sengaja tidak memberitahunya tentang keadaanku sekarang karena tidak ingin membuatnya khawatir. Begitu juga dengan Selena. Aku bahkan membebaskan dia membawa temannya ke apartemen sebegai gantinya.


"Kau tidak perlu khawatir tentang Zico atau Marco, jika perlu aku bisa turun tangan untukmu."


"Huh? Kau ingin aku mendonorkan organ lainnya untukmu?"


"Kau masih tidak percaya dengan kemampuanku?"


Aku rasa aku sudah mulai terbiasa dengan Nicholas. Aku merasa nyaman dengannya. Aku merasa aman dan senang di dekatnya. Entah perasaan itu sebagai seorang adik atau seorang wanita.


Kini dia duduk di sampingku. Di samping, di atas ranjang tepatnya. Entah mengapa, aku jadi mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian yang membuat kami bisa menghabiskan waktu seharian bersama.


Wajahku panas. Aku rasa memerah lagi.


Aku menatap wajahnya. Lalu, turun di bibirnya. Bibir yang entah mengapa aku menginginkannya. Begitu ingin aku rasakan lagi. Aku rasa aku sudah menjadi wanita yang nakal.


Dengan cepat, aku mengecup bibir Nicholas. Dilanjutkan dengan lumatan kecil. Dia membalasnya. Dia gigit bibir bagian bawahku. Tangannya memegang kepalaku dan berusaha menekannya lagi.


Jantungku berdebar cepat. Aku tahu ini salah. Dengan kakaku? Bagaimana bisa?  Tapi aku sungguh menikmatinya.


Namun, tiba-tiba dia berhenti melakukannya. Dia menatapku merasa bersalah. Aku masih tidak mengerti padanya.


"Anastasia, maaf."


"Kenapa?"


Aku mendekatinya hendak mencium bibir seksinya lagi. Tapi dia menghindar dariku.


"Aku tidak bisa Anastasia. Kita memang bukan saudara kandung, tapi kau adalah adikku. Seharusnya aku menjagamu, bukan merusakmu."


"Tapi, bukankah kau mencintaiku?"


"Tidak, bukan seperti ini. Aku memang mencintaimu. Benar-benar cinta. Tapi aku tidak bisa. Aku kakakmu, Anastasia. Maaf karena membuatmu salah paham."


Aku menangis kala itu juga. Belum lama aku merasa hubungan kami baik-baik saja. Tapi, aku merasakan gejolak api di dadaku. Rasanya sakit tapi aneh aku tidak tahu itu sakit apa dan dimana.


"Aku mohon, jangan menangis."


"Keluarlah. Aku ingin sendiri," ucapku dengan air mata masih mengalir.


Dia kemudian keluar dari ruanganku. Kurasa Nicholas ada benarnya juga. Tapi, perasaan ini begitu bimbang. Aku juga tahu aku salah. Dia memang kakakku, walau bukan kakak kandung.


Tapi, aku ingin sakali menangis saat ini. Jadi, aku keluarkan begitu banyak air mata. Hingga terkuras habis. Air mataku kering dan mataku sembab. Malam sudah tiba sedari tadi.


Aku melupakan sesuatu. Nicholas masih diluar. Aku terbawa suasana hingga lupa.


Aku keluar untuk menyuruhnya masuk dan tidur. Tapi, dia sudah tertidur di kursi di luar. Diluar padahal dingin. Aku tidak tega membangunkannya, tapi tidak tega juga membiarkannya tidur diluar.


"Nicholas bangunlah!"


Dia tidak kunjung bangun. Lalu, aku membangunkannya lagi.


"Kak bangun!"


Seketika matanya terbuka lebar. Aku rasa di pura-pura tidur. Aku tahu mungkin dia terkejut karena aku panggil kakak.


"Kau barusan memanggilku apa? Katakan sekali lagi."


Aku malu untuk mengatakannya.


"Sudah. Masuklah, atau kau tidur di luar?"


Dia takut akan ancamanku.


Ini hari yang panjang. Banyak kejadian penting hari ini. Aku masih mengingat semua kejadian sehari ini bersama Nicholas sebelum tidur. Aku tersenyum sendiri seperti orang gila.


Aku bahagia, kak.


***Bersambung...


Terimakasih telah membaca!


Silahkan tinggalkan komentar..


Berikan dukungan kepada author juga..


ditunggu episode selanjutnya..


TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA***