
8
Acara pemakaman Eliza berjalan lancar. Semua sedang dalam keadaan terpuruk, kecuali Anastasia dan sekutunya. Anastasia melayat namun dia langsung pulang dengan alasan ada urusan penting mendadak.
Tn. dan Ny. Geuro juga sudah kembali dari luar negeri untuk menghadiri pemakaman Eliza, menantunya.
Semua sedang berkumpul di mansion Marco. Semua hanya berekspresi sedih. Mereka memang sudah mengikhlaskan Eliza, tapi Daisy yang masih kecil harus kehilangan ibunya. Padahal Daisy hampir tak pernah menghabiskan waktu bersama ibunya. Dan sekarang mereka harus terpisahkan.
Daisy malah sangat akrab dengan Zico, karena Zico sering mengunjungi Daisy.
Daisy mendekati Zico. Menarik jas yang hitam yang di pakai Zico.
"Paman, apa yang terjadi. Kenapa semua orang sedih. Papa juga sedih, kakek, nenek, paman juga sedih" tanya Daisy polos.
"Daisy sayang. Kamu harus jadi anak yang baik ya. Kamu harus baik sama semua orang, terutama papa. Buat papa mu bahagia ya."
Daisy masih bingung tapi ia tak peduli dengan kebingungannya. Dia masih polos.
"Pasti paman. Daisy sayang sama Papa, sama Mama juga. Tapi, Daisy belum melihat Mama. Apa mama masih kerja?"
"Daisy, mama sudah tenang di alam sana. Mama Daisy sudah meninggal. Tapi, Daisy tidak perlu sedih ya. Mama Daisy sudah bahagia. Sekarang tugas Daisy adalah membuat papa bahagia juga ya."
Daisy mengangguk polos. Langsung lari ke arah Marco, papa Daisy. Daisy langsung memeluk Marco penuh kasih sayang.
"Papa, Daisy sayang banget sama Papa. Paman Zico bilang, Mama sudah bahagia, jadi sekarang Daisy juga harus membuat papa bahagia. Papa, jangan sedih lagi, nanti Daisy juga sedih."
Marco menatap anaknya penuh kasih sayang. Melihat anaknya yang begitu pintar.
"Iya sayang. Papa gak akan sedih. Jadi Daisy jangan sedih ya. Ayo, Daisy belum makan malam kan. Kita makan sama-sama ya."
Daisy mengangguk dan menggandeng tangan Marco untuk pergi bersama ke ruang makan.
Semua hanya fokus makan. Wajah mereka datar. Daisy menatap semua orang bingung.
Daisy duduk di sebelah Zico dan sebelahnya lagi Marco. Daisy menarik baju Zico. Lalu, Zico menatap balik Daisy.
"Ada apa?"
"Paman, semua orang aneh. Kenapa wajah mereka sedih?"
Lalu Zico menatap semua orang. Benar kata Daisy. Zico mendehem, berusaha membuat suasana. Semua orang menatap Zico. Zico memberi kode dengan matanya untuk melihat kearah Daisy.
Semua mengerti maksud Zico. Lalu, semua orang tersenyum walau senyum mereka hanya untuk Daisy.
"Daisy, kamu mau pergi bermain bersama Nenek? Akan nenek belikan kamu banyak es krim dan permen." Bujuk Ny. Geuro.
"Uumm, tidak. Daisy maunya sama paman Zico saja. Paman, nanti kita pergi bersama ya."
Zico tak tahu harus menjawab apa. Bukannya tidak mau, tapi mereka semua sedang berduka.
Zico menatap Marco. Marco hanya mengangguk setuju.
"Baiklah sayang. Nanti paman akan bawa Daisy ke taman bermain dan beli banyak es krim."
Semuanya menjadi bahagia. Terutama anak polos itu.
.....
Anastasia's mansion
"Mark, katakan padaku. Apa kau sedang ada masalah?"
Anastasia sedang menikmati wine nya dengan Mark, serta anak buahnya yang lain untuk merayakan keberhasilannya. Yeah dia tahu itu belum selesai, ini hanya untuk misi pertama saja.
"Aku baik-baik saja bos. Kau tidak perlu khawatir."
"Ayolah, aku tahu bagaimana kamu. Aku sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri."
"Begini, Selena dia memintaku untuk menyewakan apartemen yang dekat dengan kampusnya yang baru. Tapi, aku menolaknya karena ekonomi sedang memburuk. Yeah, kau tau bagaimana dia, jadi dia kabur dari rumah."
Selena Cindy. Adik perempuan Mark yang sekarang sedang kuliah. Selena sudah mengenal bos kakaknya, Anastasia. Begitu juga Anastasia yang sudah mengenal Selena. Dulu mereka dekat tapi sekarang mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
"Dia bisa tinggal denganku. Apartemen ku dekat dengan kampusnya Selena. Ajak dia tinggal denganku saja."
Apartemen yang ditinggali Anastasia memang di kota, makanya dekat dengan kampus terkenal yang Selena tempati.
"Tidak perlu. Dia hanya akan merepotkan mu. Dia sekarang mulai liar."
"Kau itu, dia juga adikku. Sudah, tidak ada penolakan. Jika dia mau, dia bisa langsung pindah. Aku akan selalu menunggunya."
"Terimakasih, Anastasia" ucap Mark tanpa rasa canggung. Mereka sudah seperti adik-kakak.
Mereka menikmati wine dengan penuh kegembiraan.
Lalu, handphone milik Anastasia berdering. Nama Zico terlihat di layar.
"Huh? Kapan?"
"Sekarang juga. Temui aku di depan perusahaan. Jangan membuatku menunggu, atau kau akan ku beri hukuman."
"Hei memang nya kau siapa? Berani menyuruhku seenaknya."
"Aku bos mu, Anastasia."
"Ah bos, iya aku lupa. Memangnya ada apa? Bukankah kantor libur?"
"Tak perlu banyak tanya, cepat datang saja."
Zico menutup telpon.
"Ash sialan. Mark apa kau bisa mengantarkan ku? Dan jangan lupa Selena untuk segera pindah."
"Baik bos."
"Sudah aku bilang untuk memanggil ku Anastasia saja."
Mereka segera berangkat untuk menemui Zico. Di perjalanan mereka hanya bercanda. Dan Anastasia minum banyak air putih agar bau wine tidak mencolok.
"Ah Mark, aku berbohong kepada Zico yang menyangkut mu. Dan aku mohon kita akan melanjutkan kebohongan ini."
"Kebohongan? Apa itu Anastasia?"
"Aku bohong kalau kita pacaran. Kau tau, aku terpaksa melakukan ini. Maaf aku tidak memberi tau mu. Apa pacarmu akan marah?"
"Kenapa harus canggung. Aku tidak keberatan. Dan lagi, aku tidak punya pacar. Tenang saja Anastasia, aku pintar berakting."
Mereka tertawa terbahak-bahak. Hingga mereka sampai. Mereka mulai berakting. Mobil berhenti di belakang mobil Zico. Zico sedang menunggu di luar mobil juga.
Mark turun dan membukakan pintu mobil untuk Anastasia. Anastasia turun dengan anggun. Sebelum pergi, Anastasia tiba-tiba memeluk Mark untuk membuat semua terlihat natural.
"Maaf, sebentar saja." Bisik Anastasia di dekat telinga Mark saat memeluknya. Mark juga membalas pelukan Anastasia. Dan akhirnya Mark pergi meninggalkan Anastasia.
....
Anastasia menghampiri Zico yang menatapnya dengan wajah kecewa.
"Kau punya pacar lagi? Dan dia mantan pacarmu kan?"
"Uumm tidak. Dia pacarku dan akan tetap begitu."
Zico seakan tidak percaya tapi ya sudahlah.
"Masuklah ke dalam mobil. Kita akan segera pergi."
Anastasia masuk ke dalam mobil di dalam ada anak kecil lucu.
"Dia siapa? Huh? Apa kau seorang pedofil?"
"Hei! Jangan katakan itu di depan Daisy. Kenalkan dia Daisy, anak kakakku. Dan Daisy, dia tante Anastasia."
"Bukan, panggil aku Kakak, manis."
"Tapi, kau sudah tua Anastasia" tolak Zico saat sedang menyetir.
"Hei kau tidak boleh mengatakan wanita tua, bahkan pada wanita berumur 90, kau harus menganggapnya muda."
"Terserah kau saja. Memangnya.Daisy mau memanggil mu kakak?"
"Daisy, kalau kamu memanggilku kakak, aku akan belikan mu boneka, bagaimana?"
"Setuju kak Ana."
"Anastasia Daisy, bukan Ana."
"Huh terlalu panjang, akan aku panggil Kak Ana saja."
Mereka tertawa.
"Anastasia, apa kau habis minum wine? Kau mabuk dengan pacarmu?" Tanya Zico yang masih fokus menyetir.
"Uumm hari ini aku diajak di acara pacarku dan aku dipaksa minum. Tapi aku tidak mabuk sedikitpun. Memangnya kita mau kemana?"
"Kak Ana, kita mau ke taman bermain! Yey!" Seru Daisy penuh semangat.
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!