The Big Boss

The Big Boss
Empat Puluh Dua



42


Anastasia's POV


Aku tengah duduk di sofa. Di sampingku ada Nicholas dan Selena. Kejadian pelukan itu tadi membuat mereka dan termasuk aku menjadi canggung.


Aku juga sudah kehabisan ide untuk menghentikan Zico dan Marco. Aku tidak bisa menjadi pemimpin yang baik di organisasi ku sendiri. Aku seharusnya berada di markas.


Hingga kepalaku begitu sakit karena memikirkan ini. Ingin aku istirahat untuk memikirkan hal itu, tapi tidak bisa. Terutama kekhawatiran ku terhadap Mark.


"Kak, apa bisa aku menemui kak Mark? Aku ingin bertemu dengannya," Selena memohon padaku.


"Selena, untuk sementara ini kau tidak boleh keluar dari apartemen ini. Jika kau ingin bertemu kakakmu, akan aku usahakan dia yang akan pulang. Aku tidak ingin kau dalam bahaya. Dan untuk sementara, Nicholas yang akan menjagamu disini, mengerti?"


Aku menjelaskan dengan nada lembut. Aku tidak ingin membuat Selena sedih, karena itu membuatku merasa sangat bersalah.


Aku terpaksa juga harus mengurung Selena di sini, dengan begitu musuh-musuh tidak akan mengincar atau menyakiti Selena.


"Hiks... tapi, aku takut kak, bagaimana keadaan kak Mark nanti?"


Aku memeluk Selena yang tengah menangis itu. Aku merasa sangat sangat bersalah. Aku harus membuat semuanya berjalan lancar. Aku tidak bisa menyia-nyiakan air mata Selena ini.


Baiklah, sudah aku putuskan,


"Nicholas, siapkan mobilku. Aku akan pergi ke markas."


"Tapi, bagaimana dengan Zico? Bagaimana jika dia sampai bertemu dengan Marco?"


"Tapi, aku tidak bisa membiarkan Mark di sana terus."


"Aku akan melakukannya, dengan Samuel juga," ucap Selena ikut antusias.


"Tidak! Aku menolaknya. Aku akan mengawasi Zico saja, dan mencegahnya hingga kau datang. Dan Selena, tetap disini. Jangan temui siapapun, dan jangan sampai terluka," ucap Nicholas memimpin.


Aku tidak tahu kalau mereka sudah seakrab itu. Mungkin juga usulan Nicholas yang terbaik.


"Baiklah. Nicholas yang akan bertugas, dan ingat Selena. Tetap disini, maaf harus membuatmu dalam bahaya."


Setelah berpamitan, segera aku pergi dengan mobil. Memang agak lama, tapi aku berusaha untuk sampai dengan cepat. Sedangkan, Nicholas dia pergi untuk mengawasi Zico dari kejauhan. Aku percaya padanya kali ini.


Beberapa jam kemudian berlalu, dan akhirnya aku sampai di markas. Aku masuk di ruangan. Di Sana ada Mark yang tengah tertidur di meja kerja. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.


Wajahnya pucat, dan lingkaran hitam dimatanya terlihat jelas. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Tapi, dia harus segera pergi untuk bertemu dengan Selena.


Aku mengecup kening Mark. Matanya bergerak. Perlahan matanya terbuka. Mungkin kecupanku terlalu bersuara?


"Waktunya pulang, Mark."


"Anastasia? Sedang apa kau disini? Bagaimana dengan misi mu?"


"Apa itu yang penting? Lihat dirimu, tubuhmu bertambah kurus, lingkaran hitam di matamu, wajahmu pucat."


Aku duduk di pahanya. Tepatnya di pahanya Mark. Mark juga hanya duduk. Ruangan ini hanya bisa dimasuki oleh aku dan Mark. Anak buah ku tidak akan berani mengintip disini.


"Kau harus bertemu dengan Selena. Buat dia tersenyum dan hilangkan rasa khawatirnya. Aku merasa bersalah padanya."


Kulihat dia menelan ludahnya ketika tanganku bermain di wajahnya dan pipinya.


"Aku juga khawatir, Anastasia. Aku khawatir padamu. Dan merindukanmu," ucapnya dengan suara parau.


Lalu, tiba-tiba dia mengecup bibirku. Aku sedikit terkejut. Lalu, kecupan itu berubah menjadi lumatan. Dia ******* bibirku. Aku membalasnya dengan lumatan kecil.


"Cukup Mark, kau harus segera pergi. Jangan lupa untuk makan."


Aku menghentikannya. Jika tidak, mungkin bisa berlanjut dan tidak akan berhenti. Aku harus menggantikan posisi Mark.


Aku mengamati layar monitor yang memperlihatkan pergerakan Marco dan beberapa anak buahnya. Mereka tidak cukup pintar untuk bersaing dengan organisasi ku.


Mark sudah pergi. Hanya aku di ruangan ini. Aku harus terus mengawasi mereka. Selain mencari kelemahan, aku juga bisa menyiapkan segalanya lebih cepat jika tiba-tiba ada serangan.


Suara dering ponselku memecah suasana sunyi di ruangan ini. Aku mengambil ponselku, di sana tertulis Zico. Aku sedikit khawatir karena aku sedang berada jauh darinya.


"Anastasia, kapan kau akan kembali?"


"Maafkan aku Zico. Aku ada urusan mendadak di rumah bibi. Aku tidak bisa menemui mu hari ini."


"Tidak perlu. Besok aku akan datang ke rumahmu."


"Baiklah. Jika kau terlambat, aku akan menghukum mu."


Aku mematikan panggilan. Aku bingung dengan dia. Memangnya dia siapa? Kenapa dia memerintahku? Sekarang dia bukan bosku. Aku adalah bos disini. Aku adalah bos di manapun.


Lalu, panggilan lainnya masuk lagi. Kali ini dari salah satu anak buahku yang mengawasi Mark dari dekat. Pasti ada sesuatu mendesak. Karena mereka tidak akan menggangguku jika bukan suatu mendesak. Aku harap kami tidak ketahuan.


"Ada apa?"


"Target dan anak buahnya masuk di gedung. Semua kamera tidak aktif jika ikut masuk. Kami harus bagaimana?"


"Tambah kewaspadaan. Dan persiapkan pasukan untuk berjaga-jaga. Bisa saja itu gudang persenjataan."


"Baik bos."


Sepertinya kali ini aku harus tetap waspada. Aku tidak bisa meninggalkan markas. Jika memang mereka mengambil senjata, kemungkinan besarnya, besok mereka akan mulai menyerang.


Seharusnya aku segera bertindak. Tapi, aku butuh rekan untuk menghadapinya secara langsung. Aku butuh seseorang yang bisa diandalkan.


Mark?


Tidak bisa. Dia baru saja pulang, dan aku tidak bisa membuatnya bertugas lagi. Aku juga akan merasa bersalah pada Selena. Satu-satunya yang bisa aku andalkan adalah otak liciknya, Nicholas.


Aku segera menelpon Nicholas. Aku tidak peduli jika Zico datang atau tidak. Aku harus menghentikan Marco yang sudah mulai aktif ini.


"Hallo, Nicholas?"


"Pelankan suaramu. Ada apa Anastasia?"


"Batalkan misi mu, datang ke markas sekarang juga. Cepat!"


Aku mematikan telpon setelah itu. Aku hanya bisa berharap misi yang mendadak ini berhasil.


//....//


"Aku pulang."


Suara Mark itu membuat Selena terkejut. Matanya membulat sempurna. Dia tidak bisa berkata apapun. Mulutnya terkunci.


Dia seperti patung batu. Hanya diam tidak percaya.


Tidak percaya bahwa situasi ini akan terjadi. Sudah terlambat, ini adalah jebakan.


Selena ditahan oleh dua orang pria di sana. Saat itu pula, Mark tidak sadar. Semuanya terdiam.


Salah satu pria yang menahan Selena mengarahkan pistolnya pada Mark. Semuanya berantakan. Jebakan ini membuat Mark terpojok.


"Lepaskan dia. Dia tidak bersalah."


Mark mencoba bernegosiasi dengan pria itu.


Seperti dugaan. Pria itu adalah kiriman dari Marco. Marco tahu bahwa Zico tidak bisa datang karena wanitanya, Anastasia. Tentu itu mencurigakan. Karena waktu yang sangat bertepatan.


Tentu Marco mencaritahu tentang Anastasia dan akhirnya otaknya mulai bekerja. Marco membuat jebakan. Mereka menahan Selena yang lemah sebagai sandera karena tahu Selena adalah kelemahan mereka semua.


Mark adalah tangan kanan Anastasia yang sangat berpengaruh. Selain itu, dugaan Anastasia benar. Bahwa Marco tengah menyiapkan persiapan untuk menyerang Anastasia.


Karena Anastasia adalah kepalanya


Anastasia adalah bosnya


Anastasia adalah bos besar!


**Bersambung


Terimakasih telah membaca!


Dukung author agar tetap berkarya!


Berikan tanggapan atau komentar ya...


TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!