The Big Boss

The Big Boss
Empat Puluh Tujuh



47


Selamat membaca....


*///....


Pagi menyingsing. Sinar matahari membuatku terbangun. Aku melihat ke depan. Di depanku terdapat sosok yang begitu aku cintai, begitu aku sayangi.


Seorang malaikat yang telah memilihku. Malaikat yang telah aku dambakan, kini sudah menjadi milikku. Seorang wanita yang begitu cantik rupawan.


Bibir ranum di pagi harinya ini membuatku tidak tahan. Aku langsung saja melumatnya. Aku hanya berpikir bahwa dia adalah milikku.


Aku ******* dan tak sengaja tergigit membuat matanya perlahan terbuka. Aku menjauhkan bibirku. Aku ingin melihat matanya untuk pagi pertama ini. Mata indahnya yang menawan. Begitu tenang dan cantik.


"Bonjour," kuucapkan selamat pagi dengan Bahasa Perancis.


Dia tersenyum. Sungguh, aku seperti melihat ribuan bunga bermekaran. Begitu indah dan cantik. Lalu, singkat dia mencium bibirku. Aku membalasnya dengan lumatan kecil.


Perlahan, dia melepaskannya dan bangun dari tidurnya. Aku ikut dia juga. Aku masih ingin melihat wajahnya itu.


"Aku harus sarapan. Aku merasa lapar pagi ini," ucapnya seraya menatap keluar jendela.


"Nanti, aku masih ingin bersamamu," ucapku dengan menggenggam tangan Anastasia.


"Kau selalu bersamaku, Zico. Kau selalu mengekoriku. Aku harus mandi, dan aku ingin pergi makan," ujarnya, dia berjalan menuju kamar mandi.


Aku mengikutinya di belakang. Memang benar jika aku mengekori dia terus, tidak salah, kan? Aku suaminya. Dari belakang, aku memeluknya saat dia tengah menggosok giginya.


"Bergegaslah, Zico. Kita harus segera pergi, kita harus pergi menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling."


Anastasia tampak sangat semangat dan antusias sekali. Aneh. Aku sangat yakin ada yang janggal pada Anastasia.


Aku melepas pelukan itu dan pergi menggosok gigiku juga. Selepas itu, kami mandi dengan cepat. Aku melihat Anastasia masih di ruang ganti. Aku masuk dan menutup pintu.


Lagi-lagi aku melakukannya. Aku memeluk Anastasia dari belakang. Dia masih menggunakan mantel handuk. Lalu, dia membalikkan badannya. Dia menatapku, akupun begitu.


"Ada apa? Kau ingin sesuatu?" Ucapnya seakan tahu apa yang aku pikirkan.


"Kau, kau Anastasia. Mari habiskan waktu di ranjang saja, hm? Kau bilang, kau akan melanjutkan yang semalam?"


Wajah Anastasia memerah. Benar-benar lucu. Aku menyukainya, tidak, aku bertambah suka padanya. Dia menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku geli karenanya, terlebih karena rambut panjangnya itu.


"Aku mencintaimu, Anastasia. Sangat."


"Jangan katakan itu, karna aku sudah tahu,"


Dengan sigap, dia langsung ******* bibirku. Kakinya jinjit untuk sampai bibir kami bersentuhan. Lumatan demi lumatan kami lakukan.


Perlahan, mantelnya aku lepas. Tanganku mengelilingi tubuh Anastasia. Aku remas bokongnya. Aku sentuh paha mulusnya.


"Sudah. Kita harus segera pergi, mengerti?"


Aku sedikit kecewa dan kesal. Di bawah sana, aku sudah menegang. Tapi, Anastasia membiarkannya seakan tidak tahu penderitaanku.


Kami akhirnya bersiap dan keluar dari hotel. Aku kira kita akan makan di hotel, tapi ternyata kita keluar. Anastasia memintaku untuk menyetir ke tempat tujuan. Aku tidak tahu, hanya ikut Anastasia.


"Kenapa kita tidak makan di restoran hotel saja?" Itu pertanyaan yang selalu aku tanyakan padanya sebelum dan di perjalanan ini.


"Jangan terlalu banyak bertanya. Kita akan berkeliling dan ditemani pemandu tur terbaik, kau akan tahu nanti."


Anastasia sangat bahagia. Aku senang melihatnya, sekaligus aku curiga. Aku harap prasangka burukku ini tidak menjadi kenyataan.


Kami telah sampai di tempat tujuan. Sebuah tempat seperti taman, tapi tidak begitu juga. Ada air mancur disana. Anastasia turun dari mobil. Jalanan cukup ramai, mungkin karena pagi.


"Tunggu sebentar,.... umm ah itu dia! Hai!" Anastasia memanggil sambil melambaikan tangannya.


Dia melambaikan tangan, dan orang itu membalasnya. Dia adalah seorang pria. Apa dia pemandu yang Anastasia bilang padaku tadi?


"Ah akhirnya. Aku sudah menunggu lama, apa kalian bermesraan pagi ini hingga membuatku menunggu?"


Aku kesal. Tentu saja. Itu tujuan kami ke Eropa. Apa lagi? Tidaklah jika untuk bertemu denganmu, Rey. Aku sangat kesal, setelah Rey kemarin terlalu akrab dengan Anastasia.


"Kau yakin dia orangnya, Anastasia? Ayolah Winny, turuti kemauanku kali ini," ucapku memohon.


"Huh? Kenapa tiba-tiba memanggilku Winny? Sudah aku bilang, hari ini kita akan berkeliling."


Apa boleh buat? Kurasa aku harus tetap menurutinya.


Rey masuk ke dalam mobil. Karena Rey yang mengetahui jalan di daerah ini, dia yang menyetir. Anastasia duduk di sampingnya. Dan aku di belakang. Tunggu, ini salah.


"Rey, biarkan aku saja yang menyetir," ujarku bersikeras.


"Kau tidak tahu jalan," sahutnya membuatku kesal.


Sedangkan, Anastasia tidak berkutip. Hingga kami sampai di tempat tujuan. Kali ini adalah restoran. Dilihat, restoran ini sepertinya khusus untuk menyiapkan sarapan saja. Memang banyak pelanggan disini.


"Jadwal kita nanti kemana saja?" Tanya Anastasia dengan antusias.


"Uumm itu rahasia, tapi akan aku beritahu sebagai penutup tur ini. Kita akan pergi ke club malam, di dalam hotel. Disana ada kolam pribadi," begitu kata si pemandu tur, Rey.


"Ah untunglah aku bawa baju renang."


"Kau membawanya? Kenapa? Tidak! Sudah cukup Anastasia! Aku menahannya, tapi tidak sekarang. Ayo pergi dari sini."


Aku menarik tangan Anastasia kuat. Dia sempat membantah tapi aku terus menyeretnya keluar. Aku memasukannya di dalam mobil. Aku meninggalkan Rey begitu saja.


"Zico! Apa maksudmu ini?"


"Apa maksdumu?! Huh... yang benar saja Anastasia. Kita disini untuk menghabiskan waktu bersama berdua. Jika kau ingin pergi keluar, kau bisa pergi denganku saja. Aku hanya ingin berdua bersamamu, Anastasia."


Anastasia diam. Aku merasa bersalah setelah membentaknya karena aku cemburu. Wajahnya ketakutan karena ucapan yang cukup kasar itu tadi. Aku benar-benar frustasi.


"Baiklah, mari kita pulang saja," ujar Anastasia dengan nada kecewa.


Akh! Betapa bodohnya aku! Disaat waktu bersama ini, aku malah membuat suasana yang tidak nyaman.


/////!!!!/////


Aku memandang keluar jendela. Menatapnya dengan tenang. Tanganku aku taruh menyilang di dada. Suasana sangat sepi. Hanya suara air berjatuhan terdengar.


Dari sini, aku melihat keluar yang basah. Air berjatuhan dari langit. Langit menangis. Seakan ia tahu aku juga seperti itu.


Aku kira, aku dan Zico akan bersenang-senang hari ini di tur bersama Rey. Tapi, karena kecemburuan Zico tadi membuatku aman dari hujan hari ini.


Aku menyentuh dengan salah satu telapak tanganku ke jendela itu. Aku rasakan dingin yang sangat. Tapi, tidak sedingin suasana di dalam sini.


**Bersambung


BACA SAMPAI AKHIR YA!


BAKALAN ADA PENGUMUMAN DIAKHIR NANTI!


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK! SILAHKAN VOTE DAN COMMENT UNTUK MENDUKUNG AUTHOR**!