The Big Boss

The Big Boss
Enam



6


Zico POV


Wanita. Mungkin bagi mayoritas orang menganggap hal itu biasa saja. Tentu, tak ada yang begitu istimewa dengan seorang wanita. Namun, tak semuanya. Ada satu wanita yang begitu aku melihatnya, aku langsung tahu kalau dia adalah wanita yang istimewa.


Wanita ini. Kini dia di sampingku. Dia terlihat cantik, anggun dan mempesona. Bahkan kata-kata itu tak cukup untuk mengungkapkan tentang dia. Ya. Dia begitu istimewa. Entah apa yang membuatnya begitu.


Aku berharap setiap pagi aku bisa menatap wajahnya seperti ini. Takkan aku biarkan dia pergi walau itu adalah kehendak bumi.


"Pak, ini bukan arah kantor. Kita akan pergi kemana?" Dia bertanya karena menyadari kalau ini jalur yang beda saat pergi ke kantor.


"Kita akan makan." Jawabku singkat.


"Tapi, nanti kita bisa terlambat. Maaf pak tapi jika mengenai makan, saya bisa mengesampingkan itu. Kalau begitu saya harus pergi terlebih dulu." Anastasia keluar mobil ketika aku berhenti dipinggir jalan.


Aku mencoba menghentikannya tapi dia bersikeras dan memilih untuk tidak menanggapi ku. Aku keluar dari mobil juga untuk mengejarnya.


"Anastasia kau mau pergi kemana?"


"Saya akan pergi naik bus. Jadi lebih baik Anda segera pergi sarapan."


"Tapi, aku tidak bisa makan tanpa mu. Anastasia berhenti."


Dia berhenti. Tapi tidak menoleh padaku yang berada di belakangnya dengan jarak sekitar 1 meter.


Lalu seorang pria yang berada di depannya mendekat kepada Anastasia. Ya memang benar sepertinya, bahwa Anastasia berhenti karena ada pria itu, bukan karena aku.


"Anastasia, kita bertemu lagi. Sudah lama kita tidak saling menyapa." Pria itu semakin mendekat ke arah Anastasia. Anastasia hanya diam tak bergerak dan tak berbicara.


"Aku tak ingin berurusan denganmu, brengsek. Sebaiknya kau pergi." Aku mendengarnya. Aku semakin khawatir.


Aku lalu menghampiri mereka yang tampak saling bermusuhan. Bagaikan kucing dan tikus.


"Anastasia, apa yang terjadi." Lalu Pria tadi berganti menatapku.


"Siapa dia? Apa dia pacarmu? Ah apa dia juga tau identitas mu? Hahaha" pria itu begitu menyebalkan walau sebenarnya aku tak mengenalnya.


"Dia tak ada hubungannya dengan mu. Enyah lah, aku tak ingin lagi melihatmu." Anastasia berlalu melewati pria yang tampak kesal itu.


Lalu Pria tadi mencegah Anastasia dengan menarik tangannya. Tanpa ragu, Anastasia memutar lengan pria itu, memukul perutnya dan membantingnya dengan keras.


Sungguh, dia wanita yang sangat kuat. Aku tidak menyangka dia berani dan mampu berbuat seperti itu.


Ah tidak! Dia pernah berbuat seperti itu padaku. Tapi pada bagian yang lain yang bisa saja membuat masa depanku berantakan.


Ah lupakan tentang itu.


Aku lihat pria itu tersungkur kesakitan. Yeah aku bisa merasakannya.


"Anastasia tunggu," dia berhenti kali ini saat aku panggil.


Dia berbalik. Dia menghadap padaku dan dia tersenyum paksa.


"Ada perlu apa lagi pak? Ah baiklah aku muak dengan ini, baiklah apa mau mu Zico. Apa kau tidak lihat pria itu? Aku bisa memperlakukan mu seperti dia jika kau terus mengusik ku. Aku hanya akan menjalankan tugas sebagai sekretaris mu, tidak lebih."


Aku tidak peduli dengan ucapannya. Yang aku tau, kini dia semakin cantik dan imut.


"Hey! Aku bicara dengan mu, Zico."


"Ah iya, apa?"


"Astaga kau benar-benar tidak mendengarkan aku? Maaf aku mengatakan ini. Tapi, hari ini aku ingin cuti. Jika kau tak suka, kau bisa pecat aku. Permisi." Lalu, dia pergi begitu saja ketika sebuah mobil taksi berhenti tepat di depannya.


"Tunggu. Aku tidak bermaksud. Ah ada apa dengannya. Apa dia sedang ada masalah?"


Aku jadi kesal. Aku tak bisa pecat dia begitu saja. Selain aku butuh seorang sekertaris, aku juga tak ingin dia pergi.


Hari yang sial. Sangat sial. Aku harus kembali ke mansion untuk rencana selanjutnya. Aku tak ingin menunda pekerjaan yang bisa menghiburku,- membunuh.


Aku kini sedang berkumpul dengan anak buah ku, membahas tentang rencana pembunuhan kakak ipar Zico.


"Informasi apa saja yang sudah kau dapat Mark?" Sambil ku teguk segelas anggur.


"Eliza Fransisca Geuro. Kakak ipar Zico dan istri dari kakak Zico. Dia hanya wanita karir biasa. Pernikahannya hanya semata untuk bisnis saja. Dia punya satu anak perempuan. Dia bekerja sebagai direktur perusahaan UCGroup. Dia sekarang berada di kota ini. Suaminya, Marco Louie Geuro — kakak Zico, sedang di luar kota untuk bisnis baru yang sedang dia kelola."


"Bagus, rencana akan kita mulai. Kita lakukan pembunuhan dengan alami. Bunuh dia ketika dia di mansion nya. Pastikan anaknya tidak di dalam mansion itu. Sabotase mansion itu. Kurung dia di dalamnya. Dan bocorkan gas. Jangan tinggalkan jejak, buat segalanya seperti alami. Aku akan menyerahkan tugas kecil ini padamu Mark."


"Tentu bos. Akan aku beri kabar baik untuk mu nanti."


Aku segera keluar dari mansion ku. Aku muak berada di dalam mansion ini meski aku merasa sangat lelah.


Saat seperti ini aku hanya akan mencari udara segar di bibir pantai dengan sebotol anggur dari Paris.


Club? Kenapa tidak kesana?


Sudah ku bilang aku muak di tempat yang ramai untuk saat ini. Apalagi saat para pria brengsek itu menggodaku seperti ******.


Aku sampai di pantai. Angin sejuk menghempas. Di temani anggur yang begitu nikmat dan yang penting tidak ada yang mengganggu ku. Ini daerah yang sepi. Aku sering kesini saat aku merasa stress.


"Ah aku ingin makan. Ah aku sangat lapar. Aku belum sarapan," gumam ku walau tak ada yang mendengarnya.


"Astaga sepertinya aku mulai mabuk. Aku lupa kalau aku bawa mobil sendiri." Gumam Ku lagi.


"Aku ingin makan" kali ini ... bukan aku. Ah tunggu jadi, siapa?


"Zico? Kenapa kamu bisa disini? Aha! Kau penguntit! Aku mulai menyesal bekerja padamu." Tak aku lihat wajahnya, aku minum lagi anggur itu daripada dia.


"Kau menyesal? Hanya karena aku tak sengaja melihatmu disini? Ais yang benar saja wanita ini." Dia duduk di atas pasir di sampingku.


Aku diam. Sebenarnya aku tak ingin dia disini. Karena aku disini karena aku menghindar darinya.


Ku tatap dia. Dia menghadap ke depan. Melihat hamparan air berwarna biru itu. Dengan sedikit gelombang yang membuat angin menerpa kami.


"Bukankah sebaiknya kau pergi ke kantor?" Maksudku mengusir dia.


"Aku akan pergi jika kau juga ikut." Dia tersenyum padaku. Dalam hati aku ingin berteriak padanya tepat di depan wajahnya, 'Dasar Bodoh'.


Aku berdiri. Meninggalkan anggur yang sudah habis ku minum. Yeah, aku memang sedikit mabuk. Ah tidak yeah aku mabuk.


Aku lihat dia juga ikut bangkit, dengan memungut botol anggur itu. Dia mendekati aku.


"Aku akan mengantarkan mu."


"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Sudah aku bilang untuk tidak mengganggu ku. Apa sebenarnya mau mu?" Ucapku setengah sadar.


"Mau ku? Uumm... aku hanya ingin kau, Anastasia."


Dia mencium bibirku. Melumatnya. Entah ada setan masuk dalam tubuhku atau kerasukan apa. Aku membalasnya. Membalas ciumannya.


Aku tak menikmatinya. Hanya saja, aku merasa sangat kacau dengan diriku dan akhirnya ini pelampiasan ku.


Zico memegang pinggang ku dan menarik menempel ke tubuh. Tangan ku hanya di diam di dadanya.


Lalu, dia menggendong tubuh ku masuk ke dalam mobilnya. Namun, selama aksi mereka, Mark terus menghubungi Anastasia. Berulang kali, karena....


***To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!