
32
Peluru melayang. Namun, peluru itu melayang ke atas. Karena, seseorang mencegahku untuk melakukan pembunuhan terhadap Zico karena dikontrol oleh amarahku.
Mark yang mencegahku. Dia mengarahkan tanganku keatas. Zico membalik melihat arah suara tembakan itu. Dia seperti sudah mengetahui rencana ku. Dia kembali berjalan santai dan pergi menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" Kesal ku pada Mark.
"Sadarlah Anastasia. Kau bisa dalam masalah," ucap Mark sembari memegang bahuku.
"Kenapa? Aku sudah muak dengannya. Tak peduli siapa dia,"
"Walau sebenarnya kau ada rasa padanya?" Ucap Mark tiba-tiba.
Aku terdiam. Mencerna kata-katanya.
"A..apa maksudmu? Rasa? Sudahlah kali ini akan aku biarkan dia."
Aku dan Mark kembali pulang ke apartemen. Dan semalaman itu aku tidak bisa tidur karena ucapan Mark tentang perasaanku tadi.
Morning!
Zico's POV
Pagi ini aku tidak bekerja karena ini weekend. Biasanya weekend seperti ini aku harus bekerja mengerjakan pekerjaanku di kantor. Karena masalah kebocoran data itu sudah mulai reda.
Pagi ini aku ada janji dengan seseorang. Aku bergegas membawa mobilku ketempat tujuan. Pagi ini jalanan cukup ramai. Aku sudah cukup terlambat, mungkin dia sudah menungguku.
Mobilku berhenti di depan mansion yang mewah. Di sana ada mobil lain yang hendak di pakai, kurasa. Aku masuk ke dalam mansion itu.
"Paman Zico!" Anak kecil, bernama Daisy itu sudah lari di pelukanku.
Sungguh aku merindukannya. Hari ini adalah hariku dan Daisy. Karena Kak Marco akan pergi entah kemana juga. Dia tengah sibuk berbicara di ponselnya.
Aku menghampirinya. Dia tampak kesal setelah selesai menerima panggilan itu.
"Ada apa?"
"Pembunuhan. Kematian Eliza adalah pembunuhan. Anak buah ku sedang menyelidikinya. Aku akan pergi, tolong jangan beritahu Daisy apapun, jaga dia untuk sementara."
"Kau yakin dengan itu?"
"Tentu saja. Ada yang janggal sejak awal. Jangan biarkan ayah dan ibu tahu tentang ini. Aku akan memberitahu mereka jika semua sudah terungkap."
Kak Marco berlalu setelah memeluk Daisy. Dia membawa mobilnya yang terparkir di depan tadi. Dia berlalu begitu saja.
"Paman, hari ini kita mau ke mana?" Ucap Daisy seraya menarik pakaianku.
"Uumm kita akan ke taman bermain, bagaimana?" Aku jongkok untuk menyeimbangkan tingginya.
"Mau! Tapi aku ingin kak Tasya ikut. Dia sudah berjanji bukan?"
"Kak Tasya? Siapa?"
"Itu loh, Paman, wanita cantik yang ikut ke taman waktu lalu. Kalau tidak salah namanya, Kak Anastasia."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuk Daisy. Tapi dengan Anastasia? Aku tidak yakin dengan adanya dia. Lagipula, belum tentu dia mau.
"Dengar, Kak Anastasia sedang pergi jauh. Dia belum pulang. Jadi hari ini kita akan pergi berdua saja ya?"
Aku berusaha membujuk Daisy. Aku merasa bersalah telah membohongi Daisy.
"Tapi, aku ingin dengan Kak Tasya!"
Daisy terus merengek sebelum berangkat. Dia tidak ingin pergi. Apa aku harus membuat kebohongan lainnya.
"Dengar Daisy. Kak Tasya nanti akan menyusul kalau sudah pulang. Kita pergi dulu ya?"
"Benarkah? Janji?"
"Baiklah janji!"
Aku dan Daisy sudah berangkat. Sebelum berangkat, aku mengajak Daisy untuk makan dulu. Dia menginginkan es krim. Aku membelikannya di sebuah mall.
Aku dan Daisy duduk di bangku untuk menghabiskan es krim tersebut. Daisy tampak gelisah tidak jelas. Menengok kanan dan kiri.
"Ada apa denganmu Daisy? Apa kau tidak suka disini?"
"Bukan itu, Paman. Daisy mencari Kak Tasya. Kenapa belum datang?"
"Sepertinya Kak Tasya sedang sakit. Jadi tidak bisa ikut. Lain kali saja ya."
"Sakit? Sakit apa? Paman, ayo kita jenguk saja," alasan Daisy lagi.
Aku menolaknya. Aku terus berbohong tentang Anastasia. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jika dibilang rindu, memang iya. Aku begitu merindukannya.
Semalam aku tidak bisa tidur hanya karena memikirkan Anastasia. Dan ciuman itu. Aku tahu dia begitu membenciku. Tapi, perasaanku masih tidak berubah kepadanya.
Anastasia's POV
Pagi ini aku pergi menjalankan tugas dari klien. Yeah sehari ini aku akan sibuk. Sebenarnya, ini tugas sepele yang bisa di lakukan oleh Mark. Sebenarnya ini tugasnya Mark tapi aku menggantikannya.
Karena Mark aku liburkan supaya bisa mendapat waktu bersama Selena. Mereka harus akrab sebagai sebuah keluarga. Yeah harus.
Aku pergi dengan beberapa anak buah ku. Aku hanya perlu memberikan perintah untuk mereka. Melakukan ini dan melakukan itu.
Setelah selesai, aku pergi ke restoran. Aku pergi sendiri karena anak buah ku harus berjaga di mansion.
Disaat menyantap makananku, seseorang tanpa izin duduk di depanku. Aku lihat dia.
"Hai Anastasia. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau pulang ke Las Vegas belum lama ini."
Nafsu makan ku langsung hilang karena orang ini, Nicholas.
"Apa mau mu?"
"Hanya ingin memberitahu. Seseorang bernama Marco Louie Guero, dia sedang mencari anak buah mu."
"Apa maksudmu? Kau ikut campur dengan urusanku?"
"Tidak. Tapi masalahmu yang membawaku. Dengar, temanmu bernama Dave, dia melarikan diri karena sudah di curigai. Kau bermain kurang bersih kali ini, Anastasia."
Sial! Kenapa juga Nicholas bisa tau tentang semuanya. Bahkan melebihi ku.
"Kenapa kau begitu tertarik dengan kasus ini?"
Dia mendekat ke arahku. Semakin dekat dengan wajahku. Namun, hal itu tidak menjadi perhatian pelanggan di sana.
"Kau benar ingin tahu? Karena aku mencintaimu, Anastasia," bisik nya.
"Apa? Kau gila? Memangnya, apa hubungannya?"
"Mereka mengincar mu Anastasia. Kau terlalu sibuk dengan urusan yang lain, tanpa kau sadari. Aku ingin membantumu, jika bukan sebagai seorang pria bagimu, aku akan menjadi kakakmu."
Dia berbicara seakan serius. Aku tidak bisa langsung percaya padanya. Kami memiliki otak yang sama denganku. Licik. Aku terlalu bimbang dengan pilihan ini, jika dia tidak berkhianat aku bisa diuntungkan dengan ini.
"Kenapa kau susah-susah untuk membual? Sebagai kakak? Punya hak apa kau menjadi kakakku?"
"Ya, memang aneh karna aku mencintaimu. Jika kau berubah pikiran, temui aku di unit sebelah mu. Aku di sana."
Dia berlalu dan meninggalkan kebingungan untukku. Unit apartemen sebelahku? Tunggu! Dia pindah ke sana? Apa?
Astaga kenapa hal buruk terus terjadi padaku. Aku tidak menghabiskan makananku. Aku segera pergi setelah aku habiskan minumanku.
Aku kendarai mobil menuju mansion. Aku tidak pergi ke apartemen karena aku tidak ingin mengganggu kakak-beradik, Mark dan Selena.
**Bersambung
Terimakasih sudah membaca!
TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!