The Big Boss

The Big Boss
Tiga Puluh Empat



34


Pagi datang. Sinarnya memasuki ruangan dan mataku. Silaunya membuat mataku terbangun dengan sendirinya. Kepalaku pusing entah mengapa.


Aku tidak ingat terakhir kali aku sedang apa. Namun, sebuah tangan berhasil membuatku berteriak dan reflek aku menendangnya.


Bug!


Tubuhnya ikut terjatuh dari ranjangku.


"Sedang apa kau? Kenapa kau tidur disini?"


Dia masih berusaha bangun dari jatuhnya dan dari tidurnya. Dia telanjang dada di depanku.


"Ada apa denganmu, Anastasia? Bukankah kau yang mengajakku?"


"Apa? Tidak mungkin!"


Aku menolak pernyataan dari Nicholas. Aku berusaha mengingat terakhir kali yang aku lakukan. Benar, Nicholas semalam membawa wine ke sini. Aku minum dan apa mungkin aku merancau tidak jelas.


Tapi satu hal yang pasti. Aku tidak akan mengajak atau melakukan hal itu dengan siapapun.


"Tenanglah. Wajahmu pucat. Aku hanya bercanda tentang itu," ucapnya dengan santai.


"Pergi dari sini!" Usirku.


Dia kembali mendekatiku. Dengan wajah bangun tidurnya yang jarang sekali aku lihat. Yeah Nicholas memang tampan. Dia juga terkenal di kalangan para gadis dulu.


"Aku belum sarapan. Aku lapar," ucapnya dengan menaruh dagunya dipundakku.


"Beli makan sendiri, aku bukan ibumu!"


Apa aku terlalu kasar padanya?


Dia menjauh dariku. Keluar dari kamarku. Aku membiarkannya. Terserah dia akan pergi atau tinggal di dapur untuk sarapannya.


Aku mengambil ponselku yang berbunyi itu. Disana Mark tengah menghubungi aku.


"Hallo Mark. Ada apa pagi-pagi menelpon?"


"Ini tentang Dave. Anak buahku sudah mengetahui keberadaannya. Dia melakukan balas dendamnya sendiri."


"Bagus kalau begitu. Aku tidak perlu susah-susah untuk melakukannya."


"Tapi itu bisa membahayakan organisasi kita. Dia terlalu ceroboh dalam bertindak."


"Awasi saja dia. Dan aku memerintahmu secara langsung untuk kali ini. Setiap gerakan dan tindakan Dave atau Marco. Aku akan menyusul keberadaanmu setelah aku selesai dengan masalahku."


Aku menutup telpon. Aku sedikit kesal dengan kabar itu. Dave dia temanku yang selalu ceroboh dalam bertindak. Apalagi dalam menjalankan tugas rahasia penting atau sejenisnya.


Sebelum aku menyusul Mark untuk tugasnya, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Nicholas. Aku tidak bisa jika harus diganggu olehnya terus menerus.


Aku keluar dari kamarku menuju dapur. Hanya untuk mengambil minuman untuk meredakan bau alkohol. Aku lihat Nicholas sedang duduk di meja makan. Kepalanya dia taruh di atas meja.


Aku mendekatinya. Matanya tertutup. Dia tertidur dengan pulas di ruang makan ini. Aku heran kenapa dia bisa tidur secepat itu. Apa semalam aku mengganggunya tidur? Lagipula dia sendiri yang datang, jadi bukan salahku juga.


Aku membiarkan dia karena dia tampak kelelahan. Asal dia tidak menggangguku, aku baik-baik saja. Aku membuat sup untuk meredakan wine yang semalam itu. Itu mungkin bisa membuatku merasa lebih baik.


Suara dari peralatan masak dan memotong sayuran membuat Sang Putri Tidur terbangun. Nicholas terbangun dengan tersentak.


"Pulanglah. Setelah ini aku harus pergi dan Selena akan segera pulang juga."


"Kenapa kau mengusirku? Aku bahkan belum sarapan," ucapnya dengan lembut.


Dia mendekatiku dan memelukku dari belakang. Aku berpikir dia sedang mabuk, tapi dia tidak minum apapun. Aku merasa risih dengan perlakuannya.


"Lepas atau aku usir paksa?" Ancamku.


"Baiklah. Jangan terlalu kasar dengan kakakmu."


Dia menjauh dariku lagi dan kembali di meja makan. Dia terus menatapku saat aku sedang memasak. Beberapa menit setelahnya, sup sudah siap. Hanya sedikit porsi yang aku buat karena hanya ada beberapa bahan yang ada di kulkas.


"Kenapa aku mendapat sedikit?"


"Berhenti merengek dan makanlah. Masih mending aku memberikanmu makan. Dan ini yang terakhir, setelah ini aku harus pergi dan kau juga harus pergi dari sini."


"Cepatlah! Aku harus segera pergi!" Ucapku dengan keras agar dia mendengarnya.


"Jika kau ingin mandi, masuklah. Aku juga akan memandikanmu."


"Apa? Kau gila? Aku tidak akan melakukan itu."


Pesan masuk dari ponselku. Itu adalah tiket untuk keberangkatan aku dan Mark. Seperti di jadwal aku bisa terlambat jika harus menunggu si koala, Nicholas.


"Cepat Nicholas! Aku harus segera pergi!" Aku begitu kesal dengannya.


Posisiku membelakangi pintu kamar mandi.


Tiba-tiba pintu itu terbuka dan aku hampir terjatuh. Namun, Nicholas menangkapku. Tapi, ini bukan waktu yang pas. Dia hanya memakai handuk yang menutupi pinggang hingga atas lututnya.


Dia belum selesai mandi karena terlihat air masih menyala hingga sedikit mengguyurku. Nicholas menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Dia memegang pinggangku dan menariknya mendekat pada tubuhnya yang begitu seksi. Terlebih karena air yang masih mengalir dan mengguyur tubuhnya itu.


"Bukankah ini waktu yang bagus?"


Aku masih memandang ketampanannya tanpa berpaling. Aku gugup dan aku sedikit takut. Kurasa wajahku memerah.


Dia mendekat dan menempelkan bibirnya di hidungku. Mengecupnya singkat. Aku masih terdiam. Dia kembali dangan ******* lembut bibir ranumku.


Bibir kami saling bertarung. Terasa sangat lembut dan licin, mungkin karena basah. Aku membalasnya. Sungguh dia benar-benar membuatku terpanah hanya dengan tatapan itu tadi.


Tapi, bagaimana bisa? Kami juga saudara jika secara hukum.


Bisa aku rasakan dibawah sana Nicholas menegang. Tangannya mematikan air yang membasahinya. Yang terdengar hanya kecupan kami.


Kaus yang aku kenakan ikut basah dan terlihat bra yang aku kenakan kala itu. Dia memasukan tangannya di dalam kausku. Tangan satunya masih di tekukku untuk memperdalam ciuman.


Nafasku mulai terengah-engah. Aku mengerang karena tangan nakalnya meremas dadaku.


Aku berteriak dan membalikkan badanku. Menghindari untuk menatap Nicholas. Aku langsung membuka pintu yang terkunci dan segera keluar. Aku sudah basah kuyup.


"Cepat pakai bajumu! Kau tahu aku sudah terlambat."


Cerita pagi itu membuat aku merasa canggung dengan Nicholas. Tapi sepertinya tidak dengan dia. Dia tampak santai. Aku kini masih di daerah bandara. Aku ketinggalan jadwal penerbanganku dan Mark.


Aku sebenarnya ingin menyusul tapi tadi sudah benar-benar terlambat. Ini terjadi karena Nicholas. Aku sedang duduk tidak ada tujuan di ruang tunggu bandara. Disampingku ada Nicholas. Dia bilang ingin mengantarku tapi justru dia yang membuatku semakin terlambat.


"Kau harus makan Anastasia."


"Kenapa?"


"Karena aku juga lapar. Ini sudah siang."


"Nah tahu juga! Kenapa kau melakukan itu saat tahu kalau hal itu membuatku terlambat. Penerbangan pagi ini sudah habis!"


Aku berteriak terlalu kencang. Membuat orang di sekitarku memperhatikan kami. Aku terlalu kesal padanya.


"Kenapa? Bukankah kau juga menikmatinya? Perlu kita ulangi?"


Wajahku panas. Kurasa wajahku merah saat ini. Aku benar-benar malu karena itu. Kenapa harus aku bahas itu sih.


"Sudahlah. Jika kau ingin makan kau bisa makan dulu sana. Aku tidak ingin terlambat lagi untuk penerbangan selanjutnya karenamu."


Dia menatapku. Masih menatapku dalam-dalam.


"Kau pucat Anastasia. Apa kau baik-baik saja? Kau sakit?"


Aku memang sedikit merasa sakit di bagian perut. Terutama daerah ginjal. Apa mungkin karena wine semalam? Aku juga tidak teratur minum obat. Aku harus bagaimana.


Tiba-tiba, hendak aku akan berdiri, semuanya gelap. Gelap tidak ada cahaya. Samar-samar aku mendengar suara seseorang meneriakkan namaku, itu suara Zico.


**Bersambung


Terimakasih sudah membaca!


TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA**!