
28
Aku menangis. Lagi dan lagi.
Hal ini membuatku teringat tentang dia yang melarang ku menangis di depan orang lain. Itu membuatku terlihat lemah.
Aku menangis dihadapan Mark. Mark terus memelukku. Aku merasa bersalah karena membuatnya melihat diriku yang lemah. Karena aku adalah seseorang yang terlihat kuat di depannya setiap saat.
"Katakan, kenapa kau menangis lagi?"
"Anak laki-laki yang aku cari itu. Dia.. hiks.. dia Zico. Dia Zico, si brengsek itu. Aku harus bagaimana?"
Aku mengatakannya. Aku merasa sangat yakin dengan apa yang aku lihat. Anak laki-laki itu mempunyai tanda berbentuk hati dan aku melihatnya untuk kedua kalinya saat Zico memeluk dan mencium ku tadi.
Tidak banyak yang mempunyai tanda seperti itu yang begitu serupa. Aku yakin dengan itu. Tapi, kenapa Zico tidak mengenaliku? Kenapa dia bersikap seolah ini adalah pertemuan kami yang pertama.
"Tenanglah Winny. Kau harus berpikir dengan baik dulu."
Mark masih mencoba membuatku tenang kembali. Saat ini aku seperti orang bodoh. Tidak! Aku memang bodoh dan aku gila.
Benar, itu aku.
Beberapa saat kemudian, aku baru bisa tenang. Mark memberikan air kepadaku lagi.
"Istirahatlah dulu. Pikiranmu masih kacau. Kau juga baru sembuh dari sakit, bukan?"
Aku berbaring. Mark menasehati ku seperti anak kecil. Dia menarik selimut untukku. Aku lihat dia menghilang di balik pintu. Perlahan mataku mulai tertutup. Cahaya mulai menghilang dari pandanganku. Aku tertidur karena terlalu lelah. Ini hari yang panjang.
***
Sudah satu bulan tepatnya. Ketika Anastasia menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Zico. Anastasia tidak tahan dengan semua sikap bahkan atmosfer disekitar Zico.
Serta, sudah lama Dave menghilang. Perjalanan bisnis menjadi alasannya untuk tidak bertemu dengan Anastasia.
Anastasia ingin mengundurkan diri dari misi yang Dave berikan. Dia lebih memilih masa depannya daripada uang dari Dave. Tapi, dia belum bisa dihubungi hingga sekarang.
Anastasia sudah memberikan pesan kepada tangan kanan Dave tapi sepertinya Dave belum menerima pesan darinya itu. Jika sudah, dia pasti akan menemui Anastasia secepatnya.
Hari ini, musim dingin masih berlangsung. Salju masih turun dan udara begitu dingin. Dengan mengenakan mantel tebal Anastasia keluar untuk melaksanakan misi yang dia terima dari klien lain.
Yeah membunuh orang adalah hal yang mudah bagi Anastasia. Mungkin karena sejak dulu Anastasia sudah sering disakiti?
Mereka bertemu disebuah gang kecil. Di sana sangat dingin. Mereka sempat kejar-kejaran. Target Anastasia kali ini begitu mudah.
Hanya membunuh mantan pacar dari klien. Seorang perempuan. Kliennya merasa terganggu dengan wanita ini karena dia merupakan ancaman bagi kliennya. Yeah antara tahta, harta, dan wanita. Ah racun yang sangat dahsyat.
Yeah, Anastasia beruntung karena mereka berhadapan di tempat yang sepi. Anastasia bisa leluasa membunuh wanita itu.
"A...a..apa mau mu? Si..siapa kau?"
Anastasia menyamar, wanita itu tidak akan tahu dan sekalipun ada yang kenal dengannya, dia tidak akan mengenali Anastasia karena kemampuan menyamar Anastasia tidak bisa ditandingi.
"Berhenti mengoceh yang tidak penting. Katakan saja pesan terakhirmu. Mungkin ini terakhir bisa melihat dunia, ah itu pasti, bukan mungkin."
"A..apa kau pembunuh bayaran dari mantan pacarku? Dia yang menyuruhmu?"
"Uumm mungkin. Tapi untuk apa kau tahu, kalau kau akan mati?"
Senyum picik keluar dari wajah Anastasia. Wajah penuh kegembiraan.
"To..to..tolong biarkan aku hidup. Aku masih mencintainya. Aku ingin bertemu dengannya, kumohon."
Wanita itu masih gemetar hebat karena takut.
"Ah omong kosong. Kau akan bertemu maut mu," cuek Anastasia.
"Apa kau tidak pernah mencintai seseorang, huh? Ka..kau.. tidak pernah dicintai atau mencintai?"
Anastasia terkejut dengan perkataannya. Anastasia mendekati wanita itu dengan ada pistol ditangannya. Menatap tajam wanita yang ketakutan itu.
"Cinta? Jika kalian memang ditakdirkan, dia tidak akan membunuhmu! Pria itu tidak pernah mencintaimu, tidak pernah!"
Emosi Anastasia meluap. Dia mengarahkan pistolnya dihadapan wanita itu. Menaruhnya tepat di depan dahinya. Anastasia bisa kapan saja meluncurkan peluru itu.
"Ada permintaan terakhir?" Ucap Anastasia dengan senyum gilanya.
"Ji...jika kau bertemu dengan pria yang kau cintai, aku bisa menjamin kau akan mempertaruhkan apapun bahkan nyawamu untuk dia."
"Berhenti membual kubilang!"
Bang! Bang!
"Dasar wanita bodoh!"
Anastasia menghilangkan jejak di TKP dan segera pulang ke mansion nya. Anastasia kini lebih sering pulang ke mansion nya daripada di apartemennya. Di apartemen, dia hanya menemani Selena.
Anastasia di jemput oleh Mark. Di perjalanan pulang, Anastasia masih memikirkan perkataan bodoh wanita itu. Dia terus melamun, padahal Anastasia berusaha membuang pikiran tentang perkataan wanita yang baru saja dia bunuh.
"Kau melamun lagi? Apa kau terluka?"
Mobil sudah memasuki hutan, jalan menuju mansion.
"Ah tidak. Ah ngomong-ngomong, apa kau menemukan wanita yang kau cintai?"
"Ah aku? Uumm dia disini. Tidak perlu ditemukan lagi."
Anastasia salah tingkah. Dia mengerti maksud Mark.
"Ah bukan itu. Sudahlah lupakan saja dan lebih cepatlah."
Anastasia masih melamun hingga dia sampai di mansion. Dengan perasaan yang tidak begitu menyenangkan. Anastasia tidak memiliki mood karena ucapan wanita itu.
"Kau sakit? Istirahatlah. Aku akan pergi apartemen menemui Selena."
"Ah aku baik-baik saja. Lagipula ini baru jam 9. Uumm aku ikut denganmu."
"Tidak. Aku tahu keadaanmu. Kali ini kau tidak boleh keluar dari kamarmu. Aku pergi dulu."
Mark pergi ingin menemui Selena di apartemennya. Dengan menggunakan mobil yang berbeda lagi, dia pergi dengan kecepatan rata-rata.
*Sore tadi di apartemen Selena*
Samuel mendorong tubuh Selena saat setelah Selena baru pulang dari kampusnya. Akhir-akhir ini Samuel lebih bebas untuk menemui Selena di apartemennya. Karena Selena tinggal sendiri.
Bahkan Samuel tahu password untuk unit Selena. Samuel dan Selena saling menatap dalam jarah wajah mereka yang saling dekat.
"Kenapa kau pulang begitu lama? Aku merindukanmu," ucap Samuel.
"Benarkah? Lalu, supaya kau memaafkan aku, aku harus berbuat apa?"
"Uumm malam ini kau adalah milikku sepenuhnya."
Samuel langsung mencium dan ******* bibir ranum Selena. Tangan Samuel meraba perut hingga ke payudara Selena. Selena mengerang karena tangan nakal Samuel.
"Bagaimana jika seseorang datang?" Khawatir Selena.
"Aku tidak peduli. Aku begitu merindukanmu dan tubuhmu."
"Kau tidak dengan wanita lain, bukan?"
"Hanya kau satu-satunya, Selena. Hanya kau."
Samuel kembali beraksi dengan menyentuh setiap bagian tubuh Selena. Tanpa terkecuali.
*skip
Malam hari tiba. Mereka masih istirahat karena terlalu bersemangat melakukan senam ranjang.
"Apa kau lapar?" Tanya Selena.
"Aku sudah memakan mu. Tapi aku belum kenyang. Apa kita lanjutkan lagi?" Ucap Samuel ketika keduanya telanjang dan hanya berbalut satu selimut yang sama.
Ting tong!
Suara bel berbunyi dan pintu apartemen terbuka.
"Selena, kakak datang. Apa kau sudah pulang?"
Suara yang tidak diinginkan terdengar. Membuat kedua pasangan yang tengah telanjang itu salah tingkah. Mereka seperti tertangkap basah melakukan kejahatan besar.
Satu persatu ruangan Mark buka. Mungkin pikirnya Selena sudah tertidur disalah satu kamar di sana. Tapi Mark menemukan sesuatu yang janggal.
Jas seorang pria dewasa!
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!