The Big Boss

The Big Boss
Dua Puluh Tiga



23


Sepasang kekasih itu tengah sarapan bersama. Ya kegiatan semalam membuat mereka lelah di pagi harinya.


Dimeja makan pun, mereka masih bermesraan layaknya suami istri. Padahal belum menikah.


"Ngomong-ngomong, kakakmu masih sering marah denganmu?" Ujar Samuel ketika sedang melahap makanan dari sendoknya.


"Kak Mark? Dia tidak pernah memarahi aku. Aku menyayanginya lebih dari apapun."


"Benarkah? Kalau disuruh pilih, kamu milih aku atau kakakmu?"


"Tentu saja kakakku."


"Huh setidaknya pura-puralah sedang berpikir keras. Kamu seperti sudah yakin sekali."


"Tentu saja. Jika bukan kakakku, mungkin aku tidak bisa bersamamu. Karena kakakku yang merawatku."


Ketika Selena dan Samuel sedang bersenda gurau, suara telepon dari ponsel Selena berbunyi.


"Siapa?" Tanya Samuel penasaran.


"Kak Zico," jawab Selena, lalu mengangkat telponnya.


"Hallo?"


"Kak Zico? Ada apa?"


"Aku mencari Anastasia. Apa dia bersamamu?"


"Tidak."


"Beritahu aku dimana dia. Aku ada perlu dengannya. Katakan dimana kamu, aku akan menemui mu saja."


"Ah itu... umm baiklah. Kita bertemu di taman kota saja."


Selena menaruh kembali telponnya. Dia menatap Samuel yang melihatnya dengan penasaran.


"Aku akan pergi sekarang. Kak Zico memintaku untuk bertemu dengannya."


Selena berdiri dari duduknya. Diikuti juga oleh Samuel.


"Aku akan mengantarmu," ucap Samuel bersikeras.


"Tidak. Bagaimana jika Kak Zico tahu hubungan kita?"


"Percayalah dengan Zico. Aku kenal dengan dia. Dia tidak akan membiarkan aku atau dirimu dalam bahaya."


Selena mengangguk agak ragu. Akhirnya, Selena mengikuti perintah Samuel untuk mengantarnya bertemu dengan Zico.


Ketika sampai di tempat tujuan, mereka turun dari mobil. Bergegas menjumpai Zico yang sudah menunggu.


"Samuel? Bagaimana?" Keheranan Zico mulai muncul ketika melihat Samuel dan Selena sedang bersama.


"Maaf terlambat aku memberitahumu. Selena ini pacarku," ungkap Samuel terangan.


"Ah selamat untuk kalian. Ah iya Selena, aku butuh informasi tentang Anastasia."


"Sebenarnya, Kak Anastasia melarang ku untuk memberitahumu," ujar Selena sedikit ragu dan takut.


"Jangan pedulikan dia. Katakan saja dimana dia?!" Nada bicara Zico seperti membentak.


"Jangan kasar dengan Selena!" Samuel membela.


Tidak terima jika kekasihnya dibentak oleh laki-laki lain. Dia tak ingin gadisnya tersakiti secara batin atau fisik.


"Maafkan aku. Tapi aku tak bisa tahan lagi. Kumohon, Selena katakan kepadaku."


Zico mulai memohon pada Selena demi mengetahui keberadaan Anastasia.


"Kak Anastasia pergi ke rumah bibi di Las Vegas dengan Kak Mark. Hanya itu yang aku tahu," ucap Selena dengan ketakutan.


Tangan Anastasia digenggam oleh Samuel. Ya Samuel tahu perasaan Selena saat ini. Dia terlalu takut untuk berhadapan dengan Zico dengan tatapan yang menurut Selena sangat menyeramkan.


"Las Vegas? Dengan Mark? Kirim alamatnya. Aku akan menemuinya," ucap Zico dengan yakin.


"Baiklah," jawab Selena.


"Dan Samuel, aku minta tolong padamu. Aku percayakan perusahaan ku padamu untuk sementara waktu. Aku akan pergi sekarang juga."


"Tentu Zic."


Zico sangat ingin bertemu dengan Anastasia. Dia begitu rindu dengan sosok wanita yang membuatnya jatuh hati. Serta, sosok wanita yang begitu ingin Zico sentuh.


Zico segera pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan dari Washington ke Las Vegas dengan penerbangan pribadi.


Beberapa informasi telah diberikan oleh Selena. Nama, keluarga, alamat, semua diberikan.


Mobil mewah Zico sudah berada di daerah pedesaan. Udara dingin sudah sangat terasa di sana. Salju hampir menutup jalan.


*(maaf guys kalo aku lupa ngasih waktu. Intinya ini tuh di Bulan November hampir Desember gitulah.)


Zico masih kebingungan mencari alamat bibinya Anastasia. Akhirnya dia turun dari mobil agar mudah mencari alamat tersebut.


Lalu, dia melihat dua anak kecil yang tengah berjalan berdua. Padahal udara begitu dingin. Zico menghampiri dua anak itu untuk bertanya alamat yang akan ditujunya.


"Hei adik kecil. Kalian sedang apa di udara yang dingin ini?" Tanya Zico berusaha ramah pada kedua anak itu.


"Kami baru pulang sekolah paman. Kalau paman sedang apa?" Tanya salah seorang anak laki-laki.


"Nama paman siapa?" Tanya lagi seorang anak perempuan.


"Nama paman, Zico. Nama kalian siapa?"


"Aku Sandy dan adikku Andy," ujar Sandy.


"Oh begitu, boleh paman bertanya? Kalian tahu alamat ini tidak?"


Zico memperlihatkan tulisan yang merupakan alamat yang diberikan oleh Selena.


"Ini rumah kami paman," Sandy menjawab.


"Benarkah? Kalau begitu, paman antar sekalian saja kalian ke rumah kalian ya? Bukankah kalian kedinginan diluar seperti ini?"


Zico merasa kasihan kepada kedua anak yang baru pulang sekolah ini dan harus berjalan kaki untuk pulang ke rumah dalam keadaan cuaca yang ekstream.


Zico akhirnya mengantar Sandy dan Andy ke rumahnya. Sekalian diarahkan petunjuk rumah mereka. Tak jauh dan tak lama akhirnya mereka sampai. Rumah sederhana yang ditutupi salju tebal.


Sandy dan Andy mengajak Zico masuk ke dalam rumah. Lalu, disambutlah kedua anak itu oleh ibunya, kecuali Zico.


"Anda siapa?" Tanya Bibi Katt pada Zico.


"Maaf saya lancang, saya bertemu dengan mereka di jalan dan mengantar mereka pulang. Dan apakah benar ini rumahnya Bibi Katt?"


"Iya, itu saya. Apa saya mengenal Anda?" Ucap Bibi Katt mencoba mengenal pria di depannya itu.


"Saya rasa tidak. Saya temannya Anastasia. Saya mencari Anastasia, apa dia ada disini?"


"Temannya Anastasia? Oh silahkan duduk dulu. Maaf saya tidak tahu."


Bibi Katt membuatkan kopi panas untuk Zico. Karena udara dingin seperti ini, pasti cocok dengan sesuatu yang hangat.


"Ada perlu apa dengan Anastasia?"


"Umm mungkin tentang pekerjaan. Apa saya bisa bertemu dengan dia?"


"Maaf tapi dia sedang tidak disini. Memang, kemarin Anastasia dan Mark beekunjung di sini, tapi mereka sudah kembali ke hotel."


"Hotel?"


"Iya mereka menginap di hotel. Katanya mereka akan mengunjungi tempat yang lain."


Zico terdiam. Dia masih berpikir tentang Anastasia. Mengabaikan ocehan Bibi Katt yang menurutnya tidak terlalu penting.


.....*-*........


Di hotel, Anastasia masih menunggu kepulangan Mark. Mark pergi tanpa tahu kemana dia dan tidak membawa ponselnya. Anastasia begitu mencemaskannya. Terutama, dia adalah tanggungjawabnya Anastasia.


"Kemana anak itu?" Kesal Anastasia menengok keluar jendela hotelnya.


Saat itu, badai salju turun agak cepat. Anastasia semakin khawatir karena perkiraan cuaca mengatakan akan terjadi badai salju dan jalan akan ditutup sementara.


Anastasia memutuskan untuk keluar dengan mantel tebalnya untuk mencari Mark sebelum badai salju terjadi di kota itu.


Ketika itu, Anastasia tidak tahu pasti dimana Mark bisa kabur tak memberi kabar. Pikir Anastasia, Mark marah padanya.


Salju semakin lebat. Jalan-jalan mulai tertutup salju yang tebal itu. Jarak pandangpun, semakin berkurang. Anastasia berteduh disebuah gereja.


Tak sedikit orang disana. Sepertinya mereka adalah korban penutupan jalan karena badai salju. Anastasia duduk disebuah bangku paling belakang-jauh dari mimbar-.


Dia begitu kedinginan. Anastasia baru ingat kalau Mark keluar dengan mengenakan pakaian casual. Mark bisa sakit, pikir Anastasia.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!