The Big Boss

The Big Boss
Tigabelas



13


Jam makan siang. Anastasia membereskan berkas dan kertas di meja dan segera pergi ke cafe. Dia melakukannya untuk menghindar dari Zico.


Namun, hal lain di lakukan oleh Zico. Dia menyamar. Membuntuti Anastasia yang menurutnya sangat mencurigakan.


Anastasia bertemu dengan orang yang menulis surat untuknya. Anastasia duduk berhadapan dengan orang itu.


"Apa mau mu?" Ketus Anastasia.


"Kenapa kau jadi dingin begini? Apa yang membuatmu berubah? Apa karena keluargamu? Ah tidak, maksudku keluarga kita, Anastasia."


"Katakan apa mau mu, Nicholas. Aku tak punya banyak waktu untuk bicara dengan ******** sepertimu," kata itu hampir membuat Nicholas marah tapi dia berusaha menahannya.


"Hanya ingin berjumpa dengan adik kesayanganku. Aku sedih setelah ayah meninggal kau tak pernah muncul. Dan apa kau ingin mendengar kabar yang lebih bagus lagi?"


Anastasia sedikit meliriknya. Ya Anastasia penasaran dengan kabar baik yang ingin Nicholas sampaikan.


"Aku tahu, kau pasti akan senang mendengar kabar ini. Ibu meninggal. Ah bukan ibu tiri mu meninggal. Benar, ibu kandungku meninggal Anastasia. Kau senang dengan kabar ini? Sebenarnya aku akan memberi tahu mu ketika kita bertemu di jalan saat itu, tapi kau membuat tubuhku sakit."


Benar sekali. Ayah Anastasia menikah dengan seorang janda yang memiliki anak laki-laki bernama Nicholas yang sekarang menjadi kakaknya.


Ayah Anastasia orang yang sangat tegas dan pemarah. Masa kecil Anastasia hanya dia habiskan untuk menerima hukuman dari ayah dan ibu tirinya.


Ibu kandung Anastasia meninggal saat Anastasia kecil karena sakit kata ayahnya. Dan tak lama, Anastasia mendapat ibu tiri yang sama jahatnya dengan ayahnya. Hidup Anastasia tak pernah tenang ketika di rumah.


Begitu juga kakaknya yang sama seperti dia. Namun, Nicholas selalu menyalahkan Anastasia ketika dia kena marah oleh ibu atau ayahnya.


Sekarang mereka telah meninggalkan dunia. Anastasia turut bahagia.


"Sudah hanya itu? Kalau begitu, sebaiknya kau segera pergi dan juga dari kota ini. Jika kau ingin selamat, bergegaslah." Anastasia masih tak suka dengan kehadiran kakaknya.


Anastasia berdiri dari duduknya hendak pergi. Dia muak dengan Nicholas walaupun sudah memberikan kabar yang begitu melegakan. Namun, dia harus tetap berhati-hati dengan Nicholas, dia bisa berbuat apa saja pada adik tirinya, Anastasia.


"Tunggu dulu. Aku ingin tahu siapa pria yang bersamamu waktu itu? Dan kenapa dia membuntuti mu?" Nicholas menunjuk pada meja yang di tempati oleh Zico.


Benar sekali, dia ketahuan. Sepertinya, sepintar pintanya Zico, dia tetap bodoh di hadapan Anastasia dan Nicholas.


"Dia milikku. Jangan berani kau menyentuhnya. Dan jangan ikut campur dalam pekerjaanku." Anastasia pergi berlalu. Dia melewati Zico. Tapi dia pura-pura tak melihat walau sebenarnya sudah ketahuan dari tadi.


Anastasia mendapat telepon dari Mark mengenai misi keduanya. Anastasia akan bertemu Mark untuk sekalian makan siang. Dengan Zico yang mengikutinya walau kali ini Anastasia tak mengetahuinya.


....


Di sebuah restoran.


"Bagaimana Mark?"


"Kabar baik, Anastasia. Ini mengenai tangan kanan target kita. Aku berhasil melacak keberadaan dan identitas nya."


"Bagus sekali. Tapi kita tak bisa membicarakan hal itu disini. Zico ada disini. Oke, dengarkan aku. Kita akan bersikap layaknya orang pacaran. Aku serahkan itu padamu karena aku tak pernah pacaran."


"Tapi apa kau yakin?" Mark agak ragu. Apalagi ini dengan Anastasia.


Mark mengangkat tangannya ragu dan menaruhnya di atas kepala Anastasia. Mengelusnya lembut. Mark juga mulai merasa nyaman dengan yang dia lakukan.


Kepala Anastasia bersandar di pundak Mark. Anastasia yakin ini akan membuat Zico kesal dan tidak berbuat hal yang aneh lagi padanya.


"Mark." Panggil pelan Anastasia.


"Hm apa?"


"Lakukan yang lebih dari ini." Perintah tanpa ragu dari Anastasia.


"A.. Apa maksudmu?"


Lalu mata Anastasia melirik Mark dengan tatapan membunuh. Seperti saat Anastasia akan membunuhnya jika tidak melakukan perintah darinya.


Mark agak ragu. Tapi dia melakukannya. Mark mencium kening Anastasia dengan mesra dan penuh kasih sayang.


Wajah Anastasia merah merona. Saat di cium oleh Mark. Perasaan malu dan perasaan aneh muncul di pikiran Anastasia kala itu.


Di restoran yang cukup ramai itu mereka membuat hal yang cukup mengesankan juga. Walau tak banyak yang memperhatikannya.


Lalu, beberapa waktu kemudian. Anastasia melihat Zico sudah pergi. Syukurlah rencana yang mendadak itu berhasil. Anastasia dan Mark kembali bersikap biasa.


"Uumm kau baik-baik saja, Anastasia?" Khawatir Mark.


"Ah, itu.. iya, aku baik-baik saja."


"Tapi, wajahmu merah. Apa kau demam?"


"Uumm.. itu," Anastasia mencari alasan dan dia menemukannya, "Mark, wajahmu juga memerah. Apa kau juga demam?"


Yeah mereka saling sadar. Dan keheningan dan kecanggungan melanda mereka berdua. Hingga mereka berpisah. Dan Anastasia kembali ke kantor.


Saat itulah dia langsung di panggil Zico untuk menghadapnya. Tentu saja Anastasia tahu apa yang akan Zico bicarakan.


Ketika itu Zico tidak ada di mejanya. Dia berbaring dia kasur. Ah iya, di ruangan milik Zico terdapat ruangan kecil yang sebenarnya kamar untuk istirahat saat Zico bergadang di kantor.


"Ada yang bisa saya bantu?" Anastasia menghadap Zico yang berbaring santai.


"Mendekatlah. Aku tak bisa mendengar mu." Pinta Zico.


Anastasia mendekat lagi ke arah Zico dan seketika Zico menarik tangan Anastasia hingga ambruk di kasur serta tubuh Anastasia sudah di kunci oleh tubuh kekar Zico.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu?" Ucap Zico dengan wajah kecewa dan sedih.


Anastasia berpikir, apa mungkin ...


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!