
27
"Zic! Hentikan! Kau sudah gila?"
Samuel menghentikan aksi Zico yang sudah ia lakukan dan masih Zico lanjutkan. Bau minuman beralkohol itu mengisi seisi rumah Zico, terutama disekitarnya.
Samuel tidak ingin Zico berbuat yang lebih lagi. Terutama, bunuh diri. Yeah Zico tidak sebodoh itu. Samuel tahu, tapi saat Zico dalam pengaruh alkohol, Zico tetap pria bodoh.
Samuel mulai membereskan botol-botol yang berada di sekitar Zico.
"Apa? Anastasia lagi?"
Samuel menatap Zico sedih. Yang sedang Samuel lihat adalah sahabatnya yang kini patah hati. Melihat keadaan kacau yang dialami Zico membuatnya merasa empati.
"Dia memanggilku brengsek! Dia bilang aku suka mempermainkan wanita. Hahaha iya itu aku. Bukankah aku hebat? Huh?"
Ocehan Zico tidak dipedulikan oleh Samuel. Samuel duduk di depan Zico yang terus melantur dan mengoceh tidak jelas.
"Ah... ambilkan aku minuman lagi. Kau harus mengerti keadaanku, Samuel. Kau dulu juga seperti aku. Hahaha..."
"Hentikan Zic, kau suka menghabiskan 14 botol sendiri. Bukankah seharusnya kau sudah pingsan? Kenapa masih bisa mengoceh?"
"Huh? Kau menyumpahi ku pingsan? Teman macam apa kau ini?"
Setelah ocehan yang terakhir itu, Zico pingsan. Samuel membawanya ke sofa dengan posisi tidur yang benar. Serta Samuel mengambil selimut untuk Zico.
Malam itupun, Samuel tidur juga di sofa. Tidur di sofa sudah menjadi kebiasaan seorang yang sibuk karena pekerjaan kantornya.
....
Selena pulang dari kuliahnya di sore itu. Setelah di antar pulang oleh pacarnya, Samuel. Selena langsung pulang ke apartemennya.
Ketika Selena masuk, barang-barang di ruang tengah berantakan. Semua benda tidak berada ditempat semestinya. Beberapa benda juga pecah.
Selena begitu kaget, dia pikir ada penjahat. Tapi dia baru ingat, itu tidak mungkin karena Anastasia berada disini seharian.
Selena melihat sekeliling. Dia lihat seseorang di pojok ruangan. Anastasia dengan rambut acak-acakan tengah menangis. Selena segera menghampirinya.
"Kak.. kakak baik-baik saja? Kakak sakit? Kak, apa yang terjadi?"
Anastasia tidak menjawab semua pertanyaan Selena. Selena merasa takut dengan keadaan Anastasia. Dia segera bertindak dengan menghubungi kakaknya, Mark.
Beberapa menit setelahnya, Mark telah sampai. Begitu terkejutnya dia melihat ruangan yang berantakan dan terutama, Anastasia.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Mark.
"Aku tidak tahu, Kak."
Mark segera mengangkat Anastasia untuk dipindah ke kamarnya. Wajah takut meratapi Anastasia. Dia masih menangis.
"Selena, ambil air," pinta Mark.
Selena segera bergegas ke dapur membawa air. Selena datang dengan segelas air putih yang diminta Mark.
Mark menyodorkannya pada Anastasia. Memintanya untuk minum, agar merasa lebih tenang. Sedikit air Anastasia telan.
"Tenang Anastasia. Tidak perlu takut. Kami disini. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Mark memeluk Anastasia erat. Rasa takut Anastasia berkurang. Tangisnya tidak sekeras seperti tadi lagi. Beberapa menit kemudian, Anastasia sudah merasa tenang.
Namun, Anastasia masih terdiam. Melamun, dengan memeluk kakinya yang terlipat. Rambutnya yang masih berantakan.
"Selena, bisa beri kami waktu?" Pinta Anastasia yang sudah mulai bisa berbicara.
Selena mengangguk dan keluar dari kamar Anastasia. Sekarang hanya ada Anastasia dan Mark dalam satu ruangan.
"Kau ingat anak laki-laki yang aku ceritakan itu?"
"Iya, aku ingat. Apa apa? Kau sudah menemukan dia?"
"Anak laki-laki yang kala itu menyelamatkanku dari maut dan kebodohan ku. Dia yang telah sepertiĀ membuatku ini. Ada sesuatu yang harus aku tunjukan padamu."
Anastasia sedikit meniupnya karena debu. Anastasia duduk kembali di sebelah Mark. Anastasia menatap buku itu dengan rasa gelisah dan takut.
Anastasia membuka salah satu halaman di buku itu. Mark melihat gambar seorang anak laki-laki di halaman yang Anastasia buka.
"Ini buku harian ku saat aku kecil. Aku selalu bercerita dengannya. Lihat anak ini, dia adalah anak laki-laki yang aku ceritakan."
Flashback on!
Anastasia tengah menangis kala itu karena ejekan dari teman-temannya. Mengatakan Anastasia gila. Namun, anak laki-laki datang untuk membelanya.
"Kau sudah membaik?" Tanya anak laki-laki itu padaku.
Saat itu pula, aku melihat tanda lahir unik di belakang telinganya. Berbentuk seperti hati, tapi tidak terlalu jelas.
"Siapa namamu?"
"Winny. Itu nama panggilanku khusus untuk orang-orang yang menyayangiku."
"Kenapa dibedakan?"
"Karena mereka tidak mengenalku dengan baik. Hanya orang yang menyayangiku yang boleh memanggilku Winny. Dan kau juga."
"Huh? Mungkin kau benar. Katakan kenapa kau menangis?"
"Itu manusiawi. Apa aku tidak boleh menangis? Kau pasti juga pernah menangis, bukan?"
Anak laki-laki itu berpindah di depanku. Dia menatapku. Satu hal yang membuat dia beda dari yang lain, dia tidak takut padaku.
"Dengar Winny, aku tentu pernah menangis. Tapi hanya karena satu alasan, tapi alasannya bukan seperti yang kamu lakukan. Dengarkan baik-baik, jangan pernah menangis di depan orang lain.
Jadilah kuat. Jika mereka mengejek mu, jangan balas dengan ejekan juga, itu membuatmu terlihat seperti mereka. Balas mereka diakhir, tahan untuk sekarang. Balas mereka jika kau sudah berpikir dewasa."
"Tapi, bibi bilang Winny tidak boleh membalas dendam. Itu tidak baik."
"Dengar, kau ingin diperlakukan seperti tadi?"
"Tidak!"
"Tentu saja. Karena itu, kau harus kuat. Dan jangan sekalipun untuk melakukan bunuh diri. Aku tidak ingin kau terluka, mengerti?"
"Kenapa? Kau bisa melindungi aku, bukan? Kenapa aku tidak kau lindungi? Atau kita harus menikah?"
"Menikah? Kita masih anak kecil. Dengar, aku akan menikahi mu, dan akan melindungi mu, aku janji."
"Benarkah?"
"Dengan syarat! Kau harus kuat. Suatu saat nanti, aku akan datang dan menikahi mu. Dan kau harus mengenaliku, oke?"
Anastasia mengangguk paham. Kemudian anak laki-laki itu pergi. Dia berjalan. Anastasia melihat dia pergi.
Namun, dari kejauhan sana, ada sepeda motor yang melaju kencang. Anastasia sempat berteriak, tapi terlambat. Anak itu terguling, kepalanya terbentuk batu dipinggir jalan dan mengeluarkan darah.
Anastasia hendak lari menghampirinya. Tapi, sebuah tangan mencegahnya.
"Kemana saja kau?! Kau tidak tahu ayah dan ibu akan memarahiku kalau kau pulang terlambat!" Bentak Nicholas kala itu dengan menyeret paksa Anastasia.
"Tunggu dulu, dia jatuh."
Anastasia melihat anak itu sudah dibantu oleh orang-orang di sana. Dan orang tuanya juga mengkhawatirkannnya. Anastasia pulang dengan Nicholas dengan paksa.
Sejak saat itu, dia tidak pernah menemuinya lagi. Saat itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya Anastasia.
Flashback off!
To be continued
Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!
Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!