The Big Boss

The Big Boss
Dua Puluh Lima



25


Anastasia dan Mark kini tengah makan. Pesanan yang telah mereka tunggu saat badai tadi, telah lenyap. Makanan cepat saji itu telah tinggal diperut mereka.


Sedangkan, hujan salju masih turun walau tidak selebat tadi. Perkiraan cuaca mengatakan akan ada badai salju lagi hari ini. Penduduk kota Las Vegas hanya bisa berdiam di dalam rumah.


Tak ada yang bisa dilakukan. Begitu juga dengan Anastasia dan Mark sekarang. Mereka hanya terdiam setelah menghabiskan makanannya.


Anastasia iseng membuka kulkas. Layanan hotel memberikan minuman kaleng alkohol untuk mengisi kulkas besar itu.


Anastasia mengambil satu kaleng. Dia buka tutupnya. Dia tidak peduli dengan penyakit ginjal yang dia derita. Yang hanya peduli, hanya Mark.


Mark mengambil kaleng yang hendak menyatu dengan bibir Anastasia. Mark langsung meminumnya hingga tetesan terakhir. Tanpa sisa dan langsung dibuangnya kaleng itu ke tempat sampah.


"Apa yang kau lakukan?" Kesal Anastasia.


"Itu pertanyaanku. Aku sudah mengizinkanmu untuk membeli makanan cepat saji, dan kau akan berulah dengan minuman ini?"


"Hanya satu kaleng saja, oke? Aku tidak tahan untuk meminumnya. Sudah sangat lama aku merasakannya. Bahkan aku lupa rasa minum wine ataupun alkohol."


Anastasia mengambil lagi kaleng yang sama di kulkas lalu di tutup kembali pintu kulkas itu. Dia tidak mengindahkan nasehat berharga dari Mark.


"Anastasia, sudah aku bilang bukan?" Mark kesal.


Hendak mengambil kaleng dari tangan Anastasia, dia terkecoh dengan permainan tangan wanita dewasa ini.


Dilemparnya dari tangan kanan ke kiri, dan dari kiri ke kanan guna menggoda Mark. Saat akan merebutnya, Mark tak sengaja terjatuh dan mendorong tubuh Anastasia dan menimpanya di sofa.


Wajah mereka tidak memiliki jarak. Hidung mancung mereka bersentuhan. Sedikit lagi bibir mereka bisa bersentuhan juga. Anastasia hanya bisa terdiam sesaat. Begitu juga dengan Mark yang menatap mata indah Anastasia.


Dia tatap mata bulat indah Anastasia tanpa sadar posisinya. Lalu, tanpa pikir lagi, dia raup bibir ranum Anastasia. Melumatnya dengan lembut. Merasakan dengan betul rasa bibir yang selama ini Mark inginkan.


Anastasia mencoba berbicara dengan Mark. Tapi tak bisa karena bibirnya dikuasai oleh Mark. Anastasia hendak menyadarkan perbuatan Mark.


"Mmmpp.. Mark...mmpp..."


"Mark lepaskan!" Kali ini Mark sadar.


Dia langsung menjauh dari tubuh Anastasia. Anastasia mengambil nafas. Dia menatap Mark yang terus memalingkan wajahnya.


"Katakan yang sebenarnya. Kita selesaikan sekarang juga, Mark."


Anastasia berbicara seolah tahu perasaan Mark sebenarnya. Iya, Anastasia semalam mendengarnya dari mulut Mark, namun belum pasti dengan hal itu.


"Kemarilah Mark. Kita perlu membahas ini."


Mark duduk di depan Anastasia.


"Aku mencintaimu Anastasia. Sudah lama."


"Sebagai kakakmu, bukan?"


"Sebagai seorang wanita, Anastasia. Benar, jika aku menganggap mu sebagai kakakku. Yang menjaga dan mengurus adik-adiknya dengan begitu baik. Tapi, kita tidak memiliki hubungan darah Anastasia. Aku menganggap mu juga sebagai seorang wanita biasa. Aku bisa mencintaimu.


Aku tahu ini akan menjadi beban untukmu, tapi sekali lagi, aku berhak untuk mencintaimu."


"Aku mengerti Mark. Tapi, aku tidak akan menggantungkan perasaanmu. Jawabanku, tidak bisa. Maaf, aku rasa sebaiknya kita seperti dulu saja. Aku menyayangimu, aku juga mencintaimu, tapi sebagai kakakmu. Aku harap kau tidak membenciku. Dan ini untuk yang terakhir."


Anastasia ******* bibir Mark. Mark membalasnya juga walau awalnya sedikit terkejut. Mereka menikmatinya. Setiap kecupan dan lumatan.


Tangan Mark kini berada di pinggang Anastasia. Mark merapatkan tubuh Anastasia ke tubuhnya. Tangan Anastasia meringkup rahang pipi Mark.


Anastasia melepas ciumannya di bibir. Menatap sekejap Mark lalu memberikan kecupan di kening Mark.


"Tahan dirimu, Mark. Aku kakakmu." Anastasia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


Meninggalkan Mark seorang diri di sofa itu. Anastasia mengambil ponselnya yang satunya. Dia memiliki dua ponsel, salah satunya untuk pribadi dan satunya untuk pekerjaannya.


Dia menghidupkannya karena sudah mati beberapa hari ini. Mengecek apa ada pesan atau berita baru apa yang masuk.


Ternyata, dia mendapat banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Zico. Beberapa pesan yang isinya sama dan panggilkan tak terjawab yang sangat banyak, bisa ratusan.


Karena misi dari Dave, dia harus mengorbankan kehidupan pribadinya. Anastasia tidak menyangka kalau akan terjadi hal seperti ini setelah mendapat misi itu.


Lalu, ponsel berdering di ponsel pribadi Anastasia. Di sana tertulis Bibi Katt. Anastasia mengangkatnya.


"Hallo Bi."


"Sudah bertemu dengan Mark? Dia baik-baik saja, bukan? Kalian tidak bertengkar, kan?"


"Tentu tidak, Bi. Kami bukan anak kecil. Kami baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Syukurlah. Ah ngomong-ngomong soal temanmu yang mencari mu, dia sedang dalam perjalanan ke hotel mu. Katanya ada perlu mendadak denganmu. Maaf bibi langsung memberikan alamat hotel mu."


"Siapa dia Bi?"


"Laki-laki, tampan, tinggi, dan kaya. Dia teman kerjamu. Apa benar?"


"Apa? Kenapa memberikan alamat hotel ku?"


"Kenapa? Ada apa? Dia bukan temanmu? Dia berniat jahat padamu? Katakan, akan aku telpon polisi."


"Tidak apa bi. Sudah ya aku tutup. Doakan aku akan baik-baik saja."


Anastasia menutup telponnya. Dia melemparnya di ranjangnya. Berdecak kesal.


Anastasia akan menduga Zico pasti akan datang mencarinya. Dia benar-benar pria yang nekat. Jika bukan karena misi dari Dave, sudah Anastasia bunuh sejak awal.


Tiba-tiba, Mark masuk ke dalam kamar. Mark hanya menatap Anastasia keheranan. Mark benar tahu raut wajah Anastasia ketika kesal.


"Ada apa?" Mark duduk di samping Anastasia.


"Zico, dia kesini untuk mencari ku. Aku harus bagaimana?"


Anastasia tak menatap Mark saat bicara. Dia terlalu sibuk untuk memikirkan cara agar tidak bertemu dengan Zico yang tergila-gila padanya.


Mengacak rambutnya dengan kasar karena terlalu kesal.


"Aku akan bilang padanya kalau kau tidak disini," saran Mark.


"Itu tidak akan berhasil. Bibi Katt sudah memberitahu semuanya pada Zico. Akh! Kenapa dia mencari ku, sih?" Anastasia mengamuk seperti anak kecil.


Tiba-tiba suara bel berbunyi di unit milik Anastasia. Sontak mereka terkejut dan saling memandang. Rasa khawatir mulai menghantui Anastasia.


Terpaksa tak ada jalan lain, satu hal yang hanya bisa Anastasia lakukan. Yakni menghadapinya. Bertemu dengan Zico layaknya ketidaksenangan Anastasia. Mungkin ketakutan seperti menjinakkan sebuah bom?


"Biar aku saja jika kau tak ingin bertemu dengannya," iba dari Mark.


"Tidak apa. Aku baik-baik saja."


Anastasia membuka pintu perlahan. Dilihatnya dari bawah balik pintu, kaki seorang pria. Naik keatas dan dilihatnya wajah seorang Zico yang begitu ia benci.


Hal pertama yang membuat Anastasia terkejut adalah pelukan dari Zico yang tiba-tiba.


Anastasia tak membalas dan tak memberontak. Dia hanya diam dengan tangannya dibelakang. Memberikan syarat pada Mark bahwa dia baik-baik saja.


Setelah beberapa lama memeluk Anastasia, Zico melepaskannya. Melihat wajah yang begitu dia rindukan. Wajah yang begitu ia ingin lihat dengan begitu lama.


"Uumm masuklah," Anastasia mempersilahkan.


Zico duduk di sofa. Di sana ada Mark yang tengah duduk di depannya juga. Mereka belum berbicara sejauh ini. Sedangkan, Anastasia sedang berada di dapur membuat minuman untuk Zico.


Zico dan Mark saling bertatapan. Pertengkaran mereka seperti dilakukan dalam tatapan tajam mata. Mata elang mereka keluarkan. Tak satupun yang mengalah, hingga Anastasia datang di tengah-tengah mereka.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!