The Big Boss

The Big Boss
Limabelas



15


Anastasia POV


Aku tak percaya kami saling bertemu disini. Ini bukan waktu yang tepat. Dan juga, aku sedang ingin menghindarinya.


Astaga, kenapa harus Zico yang berada disini. Kami hanya saling menatap dalam waktu yang lama.


Namun akhirnya kami sadar dan saling membuang muka. Dan berjalan melewati seperti orang tak saling mengenal satu sama lain. Kami seperti orang asing yang saling bertemu dengan tak sengaja di sebuah toko.


Dan lebih sialnya, kami di kasir secara bersamaan. Di toko itu ada dua kasir dan kami saling bersebelahan. Aku lihat keranjang belanjaannya.


Entah apa yang terjadi. Kedua keranjang kami berisi hal yang sama. Terdapat minuman kaleng dengan merek yang sama. Serta makanan lainnya.


Setelah membayar, dan membawa barang ku, aku segera pergi dari tempat itu dan kembali ke kamarku. Astaga, kenapa timingnya bisa seperti itu. Apa ini adalah hari sialku.


Aku lihat dari balik pintu, Selena dan Mark sepertinya sudah baikan. Aku bersyukur memiliki mereka. Jika tidak, aku bisa membayangkan diriku yang begitu kesepian ini.


"Wah sudah ada yang baikan ini. Kalau begitu mari kita rayakan. Aku membeli banyak minuman." Ucapku dengan mengangkat barang belanjaan ku tadi.


Kami akhirnya minum dengan di dampingi camilan serta menonton film. Hingga menjelang malam.


Selena sudah tak kuat untuk minum. Karena dia harus bangun pagi dan berangkat kuliah, dia sudah tertidur di dalam kamar. Hanya tinggal aku dan Mark. Sejujurnya aku begitu canggung dengannya.


"Ah aku punya sesuatu untukmu, Mark." Aku mengambil tas yang berisi jaket yang aku beli tadi untuk Mark. Aku berikan tas itu padanya.


"Terimakasih Anastasia. Tapi, aku ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu."


"Hm? Apa itu?"


"Selena bilang, kita sudah ketahuan karenanya. Aku minta maaf tentang itu. Apa perlu kita melanjutkan pacaran itu?"


"Ah aku rasa itu sudah berakhir. Kita sudahi saja. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana tentang tangan kanan Zico?"


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Yeah aku rasa pembicaraan tadi terlalu memalukan untuk di perbincangkan.


"Ah itu ya. Tangan kanan Zico adalah sahabatnya. Dia seorang penerus perusahaan besar, namanya Samuel Louren Martine. Dia sudah dianggap sebagai adik kandung oleh Zico. Hanya saja mereka sedang berpisah untuk sementara karena Samuel sibuk dengan pekerjaannya. Dan kabarnya Samuel akan datang dalam waktu yang tidak lama."


Aku berpikir kritis mengenai kasus ini. Yeah pikiranku seperti seorang jenius yang terlalu bodoh. Ya begitulah.


"Aku rasa terlalu beresiko jika kita menghabisi tangan kanan Zico. Baiklah, rencana pembunuhan tunda dalam jangka waktu yang lama. Aku akan melakukan pekerjaan dalam."


"Baik Anastasia. Aku kagum padamu, saat kau sedang dalam masalah, kau masih bisa berpikir jernih." Aku merasa malu entah kenapa. Sepertinya wajahku merona. Ah jangan sampai dia melihatnya.


"Anastasia, apa setelah makan siang tadi kau baik-baik saja saat di kantor? Apa Zico membuatmu merasa terganggu?" Tanyanya khawatir.


"Ah itu... dia pantas melakukan itu padaku. Sudahlah lupakan tentang Zico. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur dulu disini saja. Selamat malam Mark." Aku bergegas menuju pulau kapuk.


"Selamat malam juga Anastasia. Pastikan kau bermimpi indah."


Kami segera menuju tempat masing-masing untuk tidur.


.....


Aku hanya akan bersiap-siap pergi ke kantor dan tak lupa menyiapkan sarapan untuk mereka. Serta aku tinggalkan note kecil di meja makan. Setelah itu aku pergi.


Bukan ke kantor juga sih. Pagi ini aku akan menikmati pagi. Aku membawa roti isi yang aku buat dan aku makan saat aku sampai di taman kota.


Kebanyakan orang sedang berolahraga dan jogging. Sedangkan aku sudah memakai pakaian kerja dan tak mungkin aku berlari untuk jogging pagi.


Setelah sekiranya selesai menikmati pagi dan menjernihkan pikiran, aku segera pergi bekerja. Kantor masih sepi. Mungkin aku yang pertama masuk dan aku langsung di tempatku.


Pagi ini tak ada yang spesial walau suasana sedikit berbeda dengan sebelumnya, aku berusaha untuk membuat semuanya terlihat alami.


Pagi ini sama dengan pagi berikutnya. Tak ada yang berbeda. Zico yang tak ingin bicara selain pekerjaan, biasanya dia yang paling cerewet. Entah kenapa aku rindu dirinya yang dulu.


Beberapa minggu berlalu dengan cepat dan dengan suasana yang sama. Perusahaan sedang mengalami krisis. Siapa dalangnya? Siapa kalau bukan Anastasia. Anastasia melakukan dengan rapih tanpa celah.


Dan pagi ini tiba. Pagi ini Anastasia merasa akan ada yang berbeda di kantor. Entah apa itu, Anastasia tetap biasa saja dan menjalankan tugasnya.


Anastasia mengantarkan kopi untuk CEO. Seperti biasanya.


"Anastasia, jadwal siang nanti apa?"


"Akan ada makan siang bersama dengan perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita, Tuan."


"Baiklah. Dan pastikan kau juga datang dan jangan sampai ada yang terlupakan."


"Baik tuan. Saya permisi." Anastasia keluar dari ruangan dan kembali ke meja kerjanya lagi.


Beberapa saat setelah ia duduk, bunyi dering telpon terdengar dari handphone milik Anastasia. Layar itu tertulis nama Mark. Hubungan Anastasia dan Mark kini tak canggung lagi malahan mereka tambah dekat.


"Iya halo, ada apa Mark?" Anastasia sambil tersenyum senang ketika Mark telpon.


"Mari makan siang bersama Anastasia."


"Aduh maaf Mark. Siang ini aku ada pertemuan. Maaf ya lain kali ya."


"Baiklah. Semangat untuk hari ini ya Anastasia." Anastasia masih tersenyum bahagia. Setiap saat Anastasia selalu senang ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan Mark atau dia sendiri.


Anastasia kembali bekerja. Hingga jam makan siang tiba.


Anastasia POV


Mereka telah menyiapkan tempat khusus. Restoran mewah yang sudah dipesan secara pribadi.


Kami datang dan melihat kedatangan seorang pria dan seorang wanita. Pria itu adalah pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Zico.


"Apa kabar Samuel?" Yeah siapa sangka Zico akan bekerja sama dengan sahabatnya. Yeah pasti akan menyangka seperti itu.


To be continued


Silahkan berikan saran atau kritik terhadap cerita ini!


Jangan lupa juga untuk Vote atau berikan dukungan kepada Author!