
"Ayo, mak, pak! Ito juga cepat! Jangan sampai kita terlambat!" teriak Alex, memberi arahan agar semua bergegas masuk ke dalam mobil.
Kedua orang tua Alex berjalan tergopoh-gopoh lantaran sudah mulai renta. Mereka masuk ke dalam mobil sesuai perintah sang anak.
Sopir melajukan mobil, bergegas menuju gereja tempat pemberkatan dilakukan. Hari martupol digelar, di satu gereja terpasang karpet merah yang menjuntai panjang di tengah lantai untuk menyambut pasangan tiba.
Di dalam gereja, Jesika sudah diapit oleh kedua orangtuanya. Kecantikan Jesika sangat paripurna. Make-up tipis natural, dengan alis tipis, bibir seksi dibalut lipstik merah muda. Rambut depan dibentuk seolah-olah seperti disanggul, padahal ekor rambutnya menjuntai cantik ke samping.
Tampilannya sangat berkesan, penampilan mewah tetapi terlihat sederhana. Ia menggunakan anting yang panjang, dengan bros bunga berwarna kecoklatan. Seperti yang dipesan, ia sudah memakai baju kebaya dengan rok songket yang sangat cantik.
Jesika memandang kedua orangtuanya. Rasa jantung berdebar tak kunjung mereda. Tatapan matanya penuh binar, menunggu hari ini tiba.
visual Jesika yang sangat cantik ...
"Mak, deg-degan kali aku!" lirih Jesika, seraya menelisik penampilannya yang sempurna tanpa kurang sesuatu apapun.
"Sabar, mana ini keluarga si Alex! Kok belum datang juga!" ujar Ayah Jesika—Bernard.
"Nggak tahu, pak! Lima menit lagi acara berlangsung loh!" seloroh Jesika, mengedarkan pandangan mencari sosok kedatangan calon suaminya.
Di perjalanan, keluarga Alex tengah berpacu pada kepadatan kendaraan yang melintas. Alex pun menggerutu sehingga sopirnya juga tergesa-gesa ingin segera tiba.
"Ck! Pak, buruan! Saya bisa berlambat!" keluh Alex, mencebikkan bibir lantaran kesal.
"Sabar, pak, semoga kita tidak terlambat!" balas sang sopir, menaikkan laju kendaraan dengan kecepatan kencang.
Dua menit kemudian, Alex beserta keluarga tiba di halaman gereja. Terlihat ketenangan diraut wajah kedua orang tua Alex ketika tiba di Gereja.
Alex beserta keluarganya segera masuk ke dalam. Seorang pendeta telah memulai sambutan untuk acara martupol pagi ini.
"Kita sambut kedua calon, untuk maju ke depan altar."
Jesika yang didampingi kedua orangtuanya berjalan menuju altar, begitupula dengan Alex, didampingi kedua orangtuanya berjalan dengan santai. Hingga tiba di depan altar, Jesika dan Alex ditinggalkan berdua.
Dalam acara martupol ini dilakukan perjanjian untuk melakukan pernikahan antara sepasang calon pengantin di hadapan pendeta gereja. Alex sempat menatap Jesika, ia tak berkutik saat menatap kecantikan itu.
Huh ...
Alex membuang nafas kasar, ia semakin gugup melihat kecantikan calon istrinya saat berdiri bersama di depan altar. Tak sabar rasanya mengemban status sebagai seorang suami.
Namun, butuh waktu sehari lagi untuk mencapai status tersebut. Hari ini, hanya pengesahan untuk mencapai tingkat pernikahan, kini mereka mengikat perjanjian untuk menuju jenjang tersebut.
Pendeta mengucapkan pengesahan martupol. Pasangan itu diberkati, setelah itu, pendeta memberikan warta untuk jadwal pernikahan yang esok digelar.
Acara martupol berlangsung dengan khidmat, sampai kedua mempelai menandatangani sebuah surat berisi pengesahan untuk acara pernikahan yang akan digelar besok untuk meresmikan dalam ikatan pernikahan.
Fyi: pernikahan sesungguhnya, harus digelar minimal setelah 15 hari acara martuppol dilaksanakan. Namun, karena ini hanyalah cerita fiksi semata, pernikahan digelar langsung tanpa adanya jeda. Ingat ini adalah novel, bukan cerita sebenarnya hehe ... mohon pengertiannya ...
Alex tersenyum bangga setelah menandatangani surat pengesahan tersebut. Begitupula kedua keluarga, tersirat kebahagiaan yang mendalam setelah adanya pengesahan acara martuppol yang digelar.
Usai penyelenggaran martupol, keluarga Alex memberikan pilihan untuk Jesika. Mereka menawarkan pada Jesika mau tinggal di rumah calon mertuanya sampai acara pernikahan digelar atau kembali pulang mengikuti kedua orangtuanya.
"Jes, kau mau ikut keluarga calon pengantin pria atau mau ikut pulang sama keluargamu?" tawar Mama Alexander—Ima.
"Ehm ... aku pulang ke rumah mamak saja, Namboru! Tersisa satu hari lagi untuk kami bersama. Namboru kan tahu kalau aku adalah boru sasada!" jawab Jesika, dengan nada yang sangat lembut.
"Iya, Namboru!"
Keluarga Jesika dan keluarga Alex berpisah. Alex hanya menatap tajam calon istrinya. Sementara Jesika melambaikan tangan dengan malu-malu pada calon suaminya meski disambut denga senyuman tipis.
****
Di kediaman Jesika, kedua orang tua Jesika memeluk tubuh putrinya dengan erat. Sehari ini, akan mereka gunakan waktu bersama sebelum berpisah untuk waktu yang lama.
Makan besar-besaran di gelar, pada keluarga inti Jesika. Semua saudara dari keluarga ayah dan sang mama telah berkumpul. Menyambut kedatangan Jesika sebagai calon pengantin baru.
****
Di kediaman Alexander, hanya kesunyian. Tidak ada acara makan-makan. Semua keluarga lelah dan ingin beristirahat.
Alex membuka jas, duduk di sofa ruang tamu. Terlihat jelas kemeja putih pada lekukan tubuh yang kekar dan gagah. Ia sengaja membuka dua kancing teratas lantaran merasa gerah.
Kegantengannya tiada tara, rambut yang disisir menyamping, memiliki rahang tegas, hidung mancung, bibir yang seksi, membuat ia dijuluki sebagai dokter tampan di perantauan.
visual Alex yang aduhai
Setelah melepas kancing baju, Alex berjalan gontai, menuju kamar. Merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia mengingat kembali kecantikan calon istrinya yang sangat sulit untuk dilupakan.
Saat menatap langit-langit kamar, terbayang wajah Jesika yang cantik bak bidadari yang turun dari khayangan. Tak sabar rasanya menanti hari esok, setelah acara pemberkatan pernikahan dilaksanakan.
****
Hari berlalu cepat, sore berganti malam, malam berganti pagi. Alex membuka mata dengan tak sabaran. Menatap langit-langit kamar, ia semakin tak sabar untuk melalui hari ini.
Memiliki istri yang cantik dan sempurna. Pagi-pagi, ia sudah terbangun, menghampiri orangtuanya yang sedang duduk di kursi makan.
"Mak, pak, kok belum siap-siap?" cecar Alex, menatap penuh selidik.
Saat itu, sudah jam 6 pagi, keluarga Alex sangat malas untuk terburu-buru. Mereka melakukan hal dengan santai.
"Sabarlah, acara nanti kan jam 9 pagi! Masih lama kok!" sahut Ima, menikmati sarapan paginya.
"Astaga! MUAnya sudah datang belum? Suruh ito-itoku dulu yang di dandanin! Nanti kita terlambat kayak kemarin!" ucap Alex, menyeringai.
"Udah kok, itu kan itomu lagi di dandanin sama dua orang. Mamak nunggu giliran saja!" sahut Ima, kembali menyantap sarapan.
"Makan dulu, Lex!" timpal Maruli, menarik sebuah kursi di sebelah.
"Iya, pak!" Alex yang masih memakai baju rumahan, hanya kaos dalam dan boxer, menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan para maid.
Keluarga itu tampak santai meski sudah mendekati acara. Kalau Alex hanya cukup mandi dan memakai setelan jas dan tuxedo yang sudah disiapkan.
Kemudian, bergegas pergi menuju gereja untuk acara pemberkatan yang akan digelar hari ini.
Namun, suatu keadaan tidak terduga terjadi di kediaman Alex. Setelah ia mandi, memakai baju, dia hendak meminum secangkir kopi.
Bajunya ketumpahan kopi saat disenggol seorang maid. "Sial! Pakai matamulah!" umpat Alex, berjingkat lalu mengipasi bajunya agar noda kopi hitam itu memudar.