Sinamotku

Sinamotku
kasih sayang



"Halo, Jes kau di mana? tanya Alex, mengulangi lagi pertanyaannya, sebab pertanyaannya belum mendapat jawaban dari Jesika karena ia sangat sibuk memberi makan buah hatinya.


Jesika hanya meletakkan ponsel itu di lantai dengan loudspeaker dinyalakan dengan keras.


"Oh, aku di rumah, Bang! Sorry tadi aku lagi nyuapin makan Alea!" ucap Jesika.


"Alamatmu di mana? Biar aku ke sana sekarang untuk menjemput kalian berdua. Aku ingin mengajak kalian berdua berjalan-jalan sekaligus aku ingin mencoba mendekati Alea," pinta Alex.


"Kalau begitu aku akan kirimkan melalui pesan, sekaligus aku akan siap-siap. Abang, ke sini aja," titah Jesika.


"Iya, Sayang aku tunggu sekarang!" balas Alex, lalu memutus sambungan telepon itu.


Alex bergegas membuka jas dokter yang ia kenakan, untung saja ia mengenakan pakaian kemeja serta celana bahan yang formal, dengan menenteng tas kerja, Alex pun langsung keluar dari ruangannya.


Saat berjalan melintasi lorong, Rumah Sakit Alex sempat beberapa kali bertemu dengan rekan sejawatnya. Ia menyapa dan tersenyum dengan sumringah, sehingga membuat beberapa orang itu terheran-heran dengan sikapnya yang aneh.


"Sore, Dok!" sapa seorang dokter saat berpapasan dengan Alex.


"Sore!" Alex mengulum senyum lebar di wajah, sehingga membuat orang yang berpapasan dengannya merasa kebingungan.


Orang yang melihat Alex pun hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, karena ia merasa kebingungan melihat ekspresi dokter gigi itu berubah drastis.


Kemudian, Alex juga bertemu beberapa orang perawat yang baru berganti shift, para perawat itu pun disapa dengan baik walaupun mereka adalah seorang wanita tapi Alex tak segan untuk menyapa bahkan menyematkan senyum yang lebar di wajah.


"Sore, dokter Alex!" sapa seorang perawat senior.


"Sore, Sus saya duluan." Alex pun tersenyum dengan lebar, lalu ia berjalan dengan cepat menuju perparkiran.


Tak lama, sebuah pesan baru saja masuk ke dalam ponsel. Ia melihat bahwa ada pesan Jesika di sana yang berisikan alamat rumah istri dan anaknya.


Dengan buru-buru, Alex segera pergi menuju rumah tersebut. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, lalu menembus jalanan di pusat kota Jogja yang tampak sepi dan tak ada kepadatan di jalan.


Tak berselang lama, hanya butuh waktu 10 menit, Alex sudah berada di lokasi alamat yang diberikan oleh Jesika. Ia pun bergegas memarkirkan mobil di halaman rumah.


Jesika dan Alea sudah mengenakan pakaian rapi. Bahkan, Jesika sengaja berdandan sedemikian rupa untuk memperlihatkan kecantikannya yang sangat mencolok, sontak kecantikan itu membuat Alex sempat menatapnya dengan penuh binar dan tak berkedip.


"Ternyata secantik ini istriku!" puji Alex dalam gumamannya.


Ia tak menyangka, kecantikan Jesika tak pernah pudar walaupun mereka sudah terpisah sejak 5 tahun yang lalu.


Jesika melambai pada Alex, begitu juga dengan putri mereka yang melambaikan tangan dengan penuh semangat. Perempuan kecil itu nyatanya sangat menerima kehadiran Alex, namun rasa kedekatan mereka masih berjarak dan terasa canggung saat Alex menghampiri gadis kecil itu.


"Hai ... aku Papa Alex!" Alex memperkenalkan diri seraya berjongkok menatap lekat wajah mungil putrinya.


"Om, aku mau jalan-jalan sama Om dan mama," celetuk gadis kecil, sehingga membuat Jesika dan Alex paling menatap karena Alea justru tidak mau menyebutkan kata Papa sebelum ada kedekatan yang terjalin di antara mereka berdua.


"Aleandra, dia adalah papamu bukan om kamu. Panggil lah dia dengan sebutan papa!" titah Jesika, sembari mengelus pucuk kepala Alea.


"Nggak mau, Alea nggak mau manggil dia dengan sebutan papa karena selama ini sejak Alea lahir, dia tidak pernah ada di sini!" gerutu anak kecil itu dengan bijak, entah mengapa gadis kecil sepertinya justru bersikap layaknya orang dewasa.


Jesika dan Alex hanya bisa mengelus dada dengan rasa sedikit kecewa karena putrinya belum menerima kehadiran sang papa.


Padahal, Alea selama ini mencari sosok papanya tapi saat berada tepat di dekatnya, Alea justru belum menerima kehadiran laki-laki itu.


"Ngak papa, Jes mungkin aku juga yang salah karena selama ini aku tidak ada di dekatnya. Jadi dia belum bisa menerimaku, aku akan mulai memperbaiki situasi ini," keluh Alex, tak bisa membohongi tatapan penun kecewanya.


"Yasudahlah, kalau begitu ayo kita berangkat," ajak Alex dengan semangat,menggandeng tangan Jesika serta tangan Alea hingga menempatkan posisinya berada di tengah-tengah.


Alex membukakan pintu mobil untuk Jesika dan Alea. Lalu, ia menyakan arah tujuan mereka.


"Om, aku mau ke mall, mau ke tempat permainan anak-anak, pengen main perosotan, mandi bola, dan mobil-mobilan di sana," kata Alea dengan suara anak khas anak kecil yang manja.


"Sudah berapa kali mama bilang kalau dia itu bukan om kamu tetapi papa kamu!" tegas Jesika semakin berang dan kesal.


Entah mengapa, Alea tak kunjung merubah nama panggilan terhadap Alex, apalagi panggilannya dengan sebutan om karena mereka tinggal di Jogja. Bahkan, Alea tidak terbiasa dengan panggilan khas penyebutan orang batak, dia justru hanya mengetahui panggilan-panggilan yang umum saja.


"Nggak mau, Ma! Alea pengen manggil om aja. Kalau benar dia Papa Alea harusnya dia bisa membujuk Alea hingga akhirnya kami benar-benar dekat dan merubah panggilan itu," desah Alea, seraya memalingkan wajahnya saat Alex menatap melalui broadway mirror.


"Yasudahlah, terserah kamu saja, nak Yang penting kamu senang," sosor Jesika dengan pasrah.


Alex hanya menggeleng, lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ia akan menuruti keinginan putri semata wayangnya untuk pergi ke mall. Kali ini, ia akan mengajak putrinya bersenang-senang.


Sementara Jesika sesekali mencuri-curi pandang menatap wajah Alex yang berseri-seri karena tengah berada diantara mereka, lalu Jesika tiba-tiba mengucap untuk menanyakan tentang keadaan Alex selama ini.


"Bang, selama 5 tahun terakhir, kau melakukan apa saja?" tanya Jesika, saat menoleh dan menatap lekat wajah suaminya.


"Selama 5 tahun terakhir ini, aku hanya gila bekerja, aku tidak sempat melakukan apapun. Namun setiap tahun aku selalu menyempatkan untuk pulang kampung agar aku bisa mendengar kabar tentangmu tetapi itu adalah hal yang sia-sia karena kabarmu seolah-olah tenggelam dan tidak ada sama sekali," seloroh Alex dengan nada yang datar.


"Oh ... apakah ada perempuan yang pernah mendekatimu?" tanya Jesika, dengan penasaran seraya dengan jantung yang berdegup kencang menanti jawaban suaminya.


Sebenarnya, rasa cinta si Jesika memang belum sebesar itu, apalagi ia masih memendam rasa sakit hati pada Alex karena telah diusir dari kediaman Maruli. Bahkan ia sangat merasa sesak jika mengingat kejadian saat malam pertama yang mereka lakukan berdua, di saat itu juga Jesika pernah mengucap suatu saat akan membalaskan dendam pada Alex.


Namun, seiring waktu berjalan, rasa benci dan rasa dendam itu seperti memudar. Apalagi sudah ada putrinya yang lahir ke dunia sehingga dia pun ingin sekali menghadirkan Alex di tengah-tengah mereka agar Aleandra bisa mengenal papanya hingga mendapatkan rasa kasih sayang.