Sinamotku

Sinamotku
akurat



Beberapa pekan lalu, keluarga Jesika memang dikabari oleh keluarga Alex, kalau Jesika sudah berangkat mengikuti suaminya kembali ke Jakarta. Namun, Irma tidak yakin lantaran Jesika tidak pernah sekalipun meninggalkan kedua orang tuanya tanpa permisi.


Tok tok ...


Irma yang berada di depan pintu rumah kediaman Maruli, mengetuk pintu dengan keras. Anehnya, tidak ada satupun yang membukakan pintu, sementara kedua orang tua Alex hanya berani mengintip dari dalam dengan rasa deg-degan saat melihat kedatangan besannya.


"Gimana ini, pak? Mungkin, Edak itu mau menanyakan keadaan Jesika!" lirih Ima, merasa khawatir, sebab kedatangan Irma tidak dikabari lebih dulu.


"Entahlah, biarkan saja dulu. Mungkin dia akan pergi lagi kalau tidak ada yang membukakan pintu!" sahut Maruli.


Maruli sebenarnya juga merasakan kepanikan saat disambangi oleh besannya. Ia khawatir bahwa kepergian Jesika akan terungkap dan permasalahan rumah tangga Alex semakin mencuat kepada orang-orang sekitar.


"Permisi! Edak? Ada di rumah?" teriak Irma karena pintu tak kunjung dibuka, yang ia tahu rumah itu memiliki banyak pembantu dan seharusnya telinga mereka pun mendengar saat ada tamu yang datang.


Irma juga menekan tombol bel rumah berkali-kali agar ada orang yang menyahuti kedatangannya. Namun usahanya sia-sia, tak ada satupun orang membukakan pintu itu dengan lebar.


"Mana sih mereka, aku hanya ingin mengunjungi anakku," sesal Irma seraya menatap penuh selidik kediaman yang tampak sunyi dan tidak ada terdengar suara-suara dari dalam.


Dengan rasa kesal, Irma pun akhirnya memutuskan kembali, ia menaiki mobil yang distir oleh supir pribadinya. Lalu pulang ke rumah, di mana ia langsung bertemu dengan suaminya dan menceritakan tentang kejadian hari ini mengenai besan mereka.


"Pak, kenapa sudah sebulan ini Jesika tidak terlihat sama sekali!" protes Irma, karena suaminya tampak tenang dan tak mengkhawatirkan boru mereka.


"Ya, mungkin memang benar kalau Jesika itu sudah pergi ke Jakarta bersama suaminya. Atau dia lupa untuk berkunjung ke sini untuk berpamitan dengan kita berdua!" sahut Bernard.


"Nggak mungkin lah, Pak. Dia melupakan kita begitu saja, dia itu anak satu-satunya yang kita miliki. Bapak tahu sendiri, dia sangat perhatian apalagi padaku. Dia sangat menyayangi kedua orang tuanya, nggak mungkin dia pergi begitu saja," ungkap Irma.


"Hubungi saja nomor teleponnya, mungkin masih masih aktif. Lagipula, dia tidak ke luar negeri, masih di negeri ini seperti kita. Tentu saja ia masih menggunakan nomor ponselnya!" titah Bernard, menatap lekat istrinya.


Irma pun menghubungi anaknya lalu melakukan panggilan ke nomor lama Jesika. Dan ternyata, nomor itu masih tersambung, sepertinya masih digunakan oleh anaknya.


Disisi lain, Jesika mengangkat telepon dari mamanya dalam waktu yang cepat.


"Halo, Mak apa kabar?" sapa Jesika.


"Astaga, boru ke mana saja kau? Mamak sampai datang ke rumah mertuamu tapi tidak ada yang bukakan pintu," desah Irma, sekaligus merasa haru lantaran borunya menjawab telepon.


Memang sudah sebulan ini, ia tidak pernah mengingat nomor telepon Jesika bahkan tidak ada niatan untuk menghubungi putri semata wayangnya.


"Mungkin semua orang sedang pergi, Mak. Bagaimana keadaan Mamak dan Bapak? Apakah sehat-sehat saja?" tutur Jesika, memastikan kondisi kedua orang tuanya.


Saat itu, Bernard langsung tersenyum karena idenya justru membuahkan hasil. Jesika masih mengangkat telepon dari kedua orang tuanya, tidak mungkin seorang anak benar-benar menjauh dari keluarganya.


"Sehat aku, Boru! Kau di mana sekarang? Kata keluarganya hela itu, kau sudah mengikuti hela itu ke Jakarta," seloroh Irma.


"Maaf, Mak! Waktu itu aku buru-buru berangkat, sehari setelah pernikahan kami selesai. Bang Alex langsung mengajakku pergi ke Jakarta karena dia ada kerjaan mendadak, jadi aku tidak sempat berpamitan dengan mamak," kilah Jesika, memberi alasan.


"Syukurlah, Boru! Mamak, kira terjadi apa-apa samamu, sampai tidak pernah menemui kami bahkan tidak ada menghubungi kami sekalipun!" timpal Irma.


Ibu dan anak itu saling meluapkan rasa kerinduannya. Tiba-tiba terdengar suara muntahan Jesika, lantaran ia masih merasakan mual di pangkal kerongkongan.


Suara itu terdengar ke gendang telinga Irma, sehingga ia menyangka bahwa anaknya kini telah hamil.


"Kok muntah-muntah kau, Boru?" ucap Irma karena mendengar suara Jesika yang meluapkan muntahan.


"Udah seminggu ini aku merasa mual dan pusing," balas Jesika polos, karena ia memang tidak mengetahui tanda-tanda kehamilan.


"Apa kau hamil? Berarti kami akan segera menimang cucu dong!" tampik Irma.


"Hah ... hamil?" lirih Jesika, serasa dirinya merasa tertampar dengan celetukan sang mama.


Ia menjadi termenung memikirkan perkataan itu, bahkan dirinya semakin curiga bahwa rasa mual yang tak kunjung menghilang itu memang penyebabnya dari kehamilan.


"Boru, jangan-jangan kau memang hamil, coba periksakan dulu pakai tespek!" saran Irma.


Jesika menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali, tak terima dengan perkataan sang mama. Ia tak mau benar-benar terjebak dalam kehamilan, bahkan dirinya berkali-kali menyadarkan kalau rasa mual itu memang hanyalah karena masuk angin biasa.


"Nggak mungkinlah hamil, Mak kayaknya ini cuma masuk angin aja," sanggah Jesika.


"Kalau masuk angin nggak mungkin selama seminggu apalagi mual dan pusing!" sela Irma.


"Coba periksakan dulu siapa tahu memang benar dugaan, Mamak!" sosor Irma lagi.


"Yaudahlah, Mak! Nanti aku periksakan. Sehat-sehatlah, Mamak dan Bapak di sana."


Jesika mengakhiri percakapan itu, ia enggan menyampaikan semua yang terjadi dalam rumah tangganya karena takut mengkhawatirkan kondisi kedua orang tuanya.


****


Irma tampak bahagia menyampaikan apa yang sudah dibicarakannya dengan Jesika. Semua yang didengar Bernard melalui sambungan telepon, kembali diceritakan Irma pada suaminya.


Namun, saat Irma memberikan kabar bahwa boru sasada mereka telah hamil dan mereka akan segera memiliki cucu.


"Kayaknya Jesika hamil, Pak!" ungkap Irma, merasa bahagia dan haru karena akan segera menyandang status sebagai seorang opung, tak terasa bening di ujung pelupuk mata telah menetes.


"Yang benar, Mak?" sambar Bernard, merasa tak percaya karena masih satu bulan pernikahan berlangsung tiba-tiba sang anak telah hamil.


"Sepertinya sih, masih dugaan saja karena dia mual-mual sudah satu minggu. Bahkan pusing juga tapi itu jelas ciri-ciri hamil!" beber Irma antusias.


"Mudah-mudahan saja benar, biar ada penerus di keluarga kita," tandas Bernard, yang juga merasakan haru, ia tak menyangka bisa segera menimang cucu.


"Doakan saja lah, Pak!" pungkas Irma.


****


Jesika berlari ke kamar Rini, menyampaikan pendapat dari sang mama soal prediksinya yang menyatakan kalau dirinya telah hamil. Oleh karena itu, Jesika meminta Rini untuk menemani ke Apotek membelikan sebuah tespek.


"Rin, ada kabar buruk, tadi aku mendapat telepon dari orang tuaku, tiba-tiba mamakku mengatakan kalau aku sepertinya sedang hamil karena selalu muntah-muntah dan pusing," celetuk Jesika, merasa panik kalau ada kehadiran anak yang tidak diinginkan.