
Usai memberikan penanganan, akhirnya Alex memiliki kesempatan untuk berbicara langsung dengan Jesika, keduanya duduk saling berhadapan tepat dimeja kerja Alex.
Awalnya, keduanya masih terdiam dengan saling menatap satu sama lain tapi akhirnya Alex memberikan satu resep yang harus ditebus oleh Jesika untuk meredakan rasa nyeri yang ada pada gusi Alea.
Namun saat Jesika hendak pergi, Alex mencegah perempuan itu, ia menyuruh sang perawat dan guru paud membawa Alea keluar untuk sementara waktu. Sehingga kini, dia memiliki waktu untuk berbicara empat mata langsung pada Jesika.
"Aku ingin berbicara denganmu, tolong dengarkan aku," ungkap Alex seraya memohon.
Jesika duduk di hadapan Alex, ia hanya terdiam terpaku menatap pria itu tengah mengungkapkan isi hatinya. Namun, tiba-tiba Alex beranjak dan mengitari meja, lalu duduk bersimpuh memohon di depan Jesika. Ia mengaitkan kedua tangan, lalu mengatakan permintaan maaf pada Jesika.
"Aku ingin memperbaiki hubungan diantara kita, aku sudah salah selama ini menuduhmu kalau kau tidak suci. Selama 5 tahun terakhir aku susah payah mencarimu. Tapi tak kunjung kutemukan hingga akhirnya kita berada di tempat ini, mungkin ini seperti takdir yang sudah tersirat!" ungkap Alex, dengan bersimpuh di kaki Jesika.
Jesika hanya terdiam mendengarkan secara serius tapi ia merasa tak tidak tega saat Alex bertekuk lutut di depannya. Namun, ia masih terdiam dan terpaku menatap hingga mendengar semua apapun yang diucapkan oleh Alex.
"Maaf, aku sudah salah menuduhmu bahwa kau tidak menjaga kehormatanmu, padahal akulah yang bodoh, aku terlalu kaku dan terlalu awam untuk mengetahui semua yang terjadi pada seseorang perempuan sepertimu," imbuh Alex, menatap nanar manik Jesika.
"5 tahun ini aku selalu mencarimu, Jes. Aku tidak pernah menyerah, aku berharap suatu saat kita di pertemukan. Dan hari inilah tepatnya, kita bertemu dan memiliki waktu untuk berdua!" ujar Alex.
"Kumohon, maafkan aku. Tolong kembalilah padaku," ungkap Alex sembari memohon dan menitikkan buliran bening di kedua pelupuk mata.
"Bang, Alex tolong jangan begini, berdirilah! Aku malu jika Abang sampai bertekuk lutut di hadapanku," kata Jesika, seraya mengamati pria yang terus saja memohon padanya.
Jesika tak menyangka bahwa Alex berani bersikap seperti itu, bahkan ia tak malu meruntuhkan harga dirinya sendiri. Selama ini, Jesika mengira kalau Alex tetap akan menuduhnya memiliki pria lain bahkan hingga memiliki anak seperti sekarang.
"Bang Alex, aku sudah memaafkanmu sejak malam pertama kita. Aku sudah melupakan kejadian yang menurutku sangat kelam, tetapi aku takut untuk menghampirimu, sebab kau sepertinya belum bisa menerima keadaanku," ucap Jesika.
"Tidak, tidak benar! Setelah aku ketahui kenyataan dibalik semua itu, ternyata sekarang aku tersadar bahwa kau benar-benar menjaga kehormatanmu. Mungkin akulah yang salah karena sudah menuduhmu sejak awal malam pertama kita," tandas Alex.
"Iya, Bang Alex aku sudah memaafkanmu sejak dulu," lirih Jesika.
Alex kemudian beranjak dan memeluk Jesika, tangisnya luruh di dalam pelukan istrinya. Namun setelah pelukan itu mengendur, Alex sontak mengingat anak yang dibawa oleh Jesika ke rumah sakit.
"Jes, apakah dia anak kita?" tanya Alex to the point, ia tak ingin lagi berbasa-basi ataupun menuduh Jesika yang nggak-nggak.
Karena ia khawatir akan merusak hubungan yang sudah mulai diperbaiki antara dirinya dan sang istri yang baru saja bertemu. Tanpa berpikir lama, Jesika mengangguk dengan tatapan nanar untuk menjawab pertanyaan Alex.
"Jadi benar dia anak kita?" tanya Alex seraya meyakinkan kembali dirinya bahwa ternyata ia kini sudah memiliki anak yang berusia 4 tahun.
"Iya, Bang dia borumu! Aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun semenjak malam itu, aku selalu menjaga tubuhku dan menjaga kehormatanku demi dirimu," sahut Jesika.
"Maaf, Bang aku tidak berani untuk meminta pertanggungjawabanmu karena saat itu aku sangat kalut. Aku juga takut jika kau tidak akan menerima keadaanku yang sudah berbadan dua," tukas Jesika, menatap wajah Alex yang terlihat sangat sendu.
"Maaf!" Tiba-tiba tubuh Alex runtuh, tubuhnya terjatuh lagi, ia berlutut pada Jesika dengan tangis yang mulai pecah.
Kali ini, Alex melantunkan permintaan maaf berkali-kali pada istrinya, ia merasa bersalah sudah membiarkan Jesika melahirkan bahkan mengurus anaknya hingga sebesar itu seorang diri.
"Maaf, Jes karena aku, kau harus bersusah payah hidup sendiri dan mengurus anak itu sendiri, aku ingin memperbaiki semuanya," kata Alex.
"Memperbaiki bagaimana caranya, Bang sebenarnya selama ini Alea selalu mencarimu dan menanyakanmu!" sergah Jesika.
"Aku ingin bertanggung jawab, aku ingin kita kembali lagi membina rumah tangga bersama."
"Lalu bagaimana dengan kedua orang tua kita? Bukannya mereka sudah tahu kalau kita sudah berpisah sejak lama?" Jesika menarik tubuh suaminya agar segera berdiri.
"Tidak, aku selalu mengatakan kepada orang tuaku agar tidak ikut campur tentang rumah tanggaku. Mereka bahkan berkali-kali menyuruhku untuk menikah lagi tapi aku selalu menolaknya," tegas Alex.
"Apa? Menikah lagi? tanya Jesika, merasa tak percaya jika mertuanya tega melakukan hal itu.
"Iya, aku dituntut oleh kedua orang tuaku untuk menikahi perempuan lain, tetapi aku sudah katakan dengan tegas bahwa suatu saat kau pasti akan kembali!"
"Tapi, Bang kita tidak bisa bersatu begitu saja sementara Alea belum mengenalmu, apalagi dia akan kaget jika mengetahui bahwa kau adalah Papanya!"
"Aku akan berusaha mendekatinya. Di mana kalian tinggal? Aku ingin tinggal bersama kalian atau kau ikut saja denganku tinggal di apartemen yang sudah kusewa selama 1 tahun ke depan." Alex merengkuh tubuh Jesika, mendekapnya dengan hangat.
"Jadi Abang bakal tinggal di sini selama 1 tahun?"
"Ya, aku akan tinggal 1 tahun di sini karena tugas praktekku. Selama itu pula, aku akan selalu mendekatimu dan selalu berada di sisimu!" sosor Alex, merasa mantap ingin mengembalikan keutuhan rumah tangga mereka.
"Kalau begitu, mulailah dekati aku tapi kita tidak bisa langsung tinggal serumah karena aku masih tinggal dengan sahabatku—Rini!"
"Apa? Rini? Dulu aku menghubunginya dan menanyakan tentangmu tapi dia selalu menolak untuk membicarakannya. Bahkan dia mengatakan tidak tahu apapun mengenai kau," sela Alex
"Aku memang sengaja berpesan padanya agar Abang tidak menghubungiku lagi karena aku ingin memulai hidup baru, aku khawatir Abang tidak akan bisa menerima keadaanku yang telah berbadan dua." Jesika menatap lekat suaminya, setelah melonggarkan pelukan Alex.
"Jes, kau tahu kan aku tidak mungkin menyia-nyiakan istri sepertimu apalagi kau mengandung anakku." Alex menangkup wajah Jesika, lalu menariknya ke dalam dekapan dada Alex.