Sinamotku

Sinamotku
Seorang sampah



Alex sangat kecewa, pikiran buruk langsung menghantui. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Setelah melakukan penyatuan, meski ia merasa puas lantaran benihnya sudah menghangat di dalam rahim istrinya tapi rasa kecewa itu tidak bisa ditutupi.


Ia ingin terus terang mempertanyakan tentang hal itu pada Jesika. Namun, diurungkan niatnya sampai ia membersihkan diri dari dalam kamar mandi.


Sebelum berlalu pergi, ia memastikan kembali area sekitar pangkalan paha ataupun keintimann istrinya. Memang tidak ada setetes darah pun yang membasahi.


"Sial! Apa aku ditipu? Tapi di dalam sana terasa sesak mengapa tidak ada darah setetes pun?" gumam Alex, mengedarkan pandangan saat memastikan kembali.


Jesika hanya terdiam pasrah di atas kasur. Dirinya merasakan kelelahan serta sakit diarea pangkal paha. Bahkan, untuk beranjak dari kasur pun terasa begitu perih dan sakit.


Namun, sikap Alex membuatnya terus bertanya-tanya. Jesika mempertanyakan hal yang sama seperti pada pemikiran Alex.


"Katanya kalau pertama kali akan keluar darah, kenapa aku tidak?" tanya Jesika dalam hati.


Ia terduduk, menyilangkan kakinya untuk memperhatikan area kedua pangkal pahanya. Memang tidak ada sedikit pun darah yang keluar.


"Apa karena itu Bang Alex kecewa?" sesal Jesika membatin.


"Tapi mengapa aku tidak berdarah?" tanyanya lagi saat menggumamkan hal itu.


***


Di dalam kamar mandi, Alex tengah meratapi dirinya sendiri. Rasa kecewa serta pikiran buruk terus menggeluti pikirannya. Ingin saja ia memaki istrinya, menuduhkan bahwa sang istri sudah tak suci lagi saat menikah dengan dirinya.


Bugh ... Bugh!!!


"Shittt! Apa si Rinto yang merenggut kesuciannya pertama kali?" gerutu Alex, meninju dinding kamar mandi lantaran kesal yang menggebu.


Tanpa sadar, tangan Alex yang mengepal ternyata telah terluka saat mengenai dinding kamar mandi. Dia meracau dengan rasa kesal yang merebak di dada.


Dengan pikiran serta tatapan yang tenang, ia akan segera mempertanyakan tentang kesucian istrinya yang tak terlihat secara kasat mata.


Buru-buru Alex bergegas menyudahi pembersihan dirinya setelah melakukan penyatuan. Ia berjalan gontai keluar dari kamar mandi.


Di atas ranjang, Jesika seolah meratapi dirinya sendiri. Ia takut kalau Alex akan mempertanyakan hal yang yang paling intim dalam dirinya.


Apalagi ini adalah malam pertama bagi mereka berdua. Jesika ketakutan, takut memikirkan bagaimana nasib pernikahan ini. Sebab, saat melihat raut wajah Alex yang merasa kecewa membuat hatinya seketika bergetar dan diselimuti rasa kalut.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku jawab pada suamiku? Tapi aku tidak pernah melepaskan kesucianku selama ini. Namun mengapa mengapa ... mengapa, tidak ada setetes darah pun yang keluar, menandakan kalau kesucianku memang benar-benar tidak pernah terenggut." Jesika menyesali semua hal yang terjadi pada dirinya dengan kepala yang menunduk serta raut wajah yang sendu.


Tubuh polosnya yang mulus ditutupi dengan selimut tebal yang ada di atas ranjang. Ia menunggu amukan suaminya saat akan menemui dirinya setelah membersihkan diri di kamar mandi.


Jesika kemudian beranjak dari kasur memberanikan diri dengan kaki yang terasa sakit pada kedua pangkal pahanya. Rasa sakit seperti ada yang tengah merobek sesuatu inti miliknya.


"Awwww!" rintih Jesika, saat berjalan dengan kedua kaki yang ditekuk rapat karena intinya merasa perih dan sesak.


Ceklek ...


Suara handel pintu terbuka, Alex muncul dari balik daun pintu keduanya saling bertatap-tatapan dengan mata yang seolah-olah dapat berbicara.


Namun saat melihat mata elang Alex yang menatap dirinya dengan tajam membuat Jesika semakin takut. Mulutnya masih terkunci rapat sampai pria itu benar-benar menanyakan tentang apa yang ada di dalam benak Jessica dari tadi.


"Ada yang perlu aku bicarakan," celetuk Alex, saat keduanya terdiam hingga akhirnya pria itu membuka suaranya.


Jessica mengangguk tapi batinnya meracau kalau Alex akan membicarakan tentang apa yang sudah menggeluti dalam pikirannya sejak tadi.


"Sebelum kita bicara, bersihkan dulu dirimu dan kenakan pakaianmu," ujar Alex.


Jesika menyetujui saja apa yang dikatakan pria itu. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan bergegas membersihkan seluruh tubuhnya. Saat ia membersihkan bagian bawah inti tubuhnya, memang terasa sakit dan perih.


Ia bertanya-tanya, apakah ini yang dirasakan seorang gadis jika baru pertama kali melakukan hubungan suami istri dengan suaminya sendiri. Tapi anehnya, mengapa tidak ada darah yang menandakan kalau kesuciannya itu benar-benar masih ada.


"Selama ini aku tidak pernah neko-neko, aku tidak pernah melakukan hal buruk apalagi yang menyangkut tentang kesucianku," batin Jesika yang larut dalam pikirannya.


Tak berselang lama, Jesika memberanikan diri keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan pakaian rumahan, yang sebelumnya sudah diambil dari dalam lemari. Sebab, ia malu untuk menggunakan lingerie yang sama saat sebelum berhubungan intim dengan suasana yang tegang seperti saat ini.


Jesika mendekati suaminya dan duduk di tepian ranjang. Mereka duduk bersebelahan dan saling menatap.


"Aku ingin menanyakan sesuatu yang seharusnya sudah terjawab sejak kita mulai melakukan itu. Maaf sekali aku tidak berniat menuduhmu sudah melakukan hal itu dengan pria lain, tetapi aku tidak melihat setetes darah pun yang menandakan kalau kesucianmu memang benar-benar ada," beber Alex dengan suara parau lantaran merasa kecewa.


Jesika pun menunduk, dengan penuh rasa malu tetapi ia menjawab rasa penasaran Alex yang telah menyelimuti sejak tadi.


"Bang, aku benar-benar masih gadis. Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya dengan pria lain! Sebanyak apapun mantan kekasihku sewaktu kuliah tapi aku selalu menjaga kesucianku," ungkap Jessica secara jujur.


"Aku tidak percaya karena tidak ada bukti nyata," ketus Alex sembari memalingkan wajahnya.


Jesika pun menatap wajah Alex yang sudah berpaling dari tatapannya. "Sungguh, Bang! Aku serius, aku tidak pernah menodai diriku sendiri, menodai tubuhku, aku benar-benar masih suci," tampik Jesika.


Jesika memgakui, tidak ada satupun mantan kekasihnya yang berani menyentuh tubuhnya. "Jangankan menyentuh tubuhku, mencium pipiku saja mereka tidak berani. Aku hanya berpacaran secara sehat!" lanjut Jesika lagi.


Alex menatap manik indah Jesika dengan tatapan menyeringai. Ia bahkan merutukki istrinya sendiri dalam hati.


Rasa kecewa semakin memupuk dalam. Apapun jawaban Jesika, tak ada satupun yang dipercayai olehnya. Suaranya menjadi semakin parau, kesedihan mulai menyelimuti di hatinya. Ia ingin membatalkan pernikahan ini meskipun baru sehari setelah resmi menikah.


"Maaf, aku tidak bisa menerimamu! Aku ingin bercerai atau batalkan saja pernikahan ini!" tegas Alex dengan suara lirih.


Sontak, perkataan Alex membuat Jesika terkejut. Bahkan, rasa peluh dan sesak tak terelakkan lagi. Bagaimana mungkin suaminya benar-benar tak mempercayai pengakuannya. Jesika bak disambar petir, baru kali ini ada pria yang mencampakkan dirinya seperti seorang sampah.