
Namun, lagi-lagi wajah Jesika seakan-akan terbayang terus didalam pikirannya. Alex bak dihantui oleh perempuan itu, entah mengapa Alex jadi merasa bersalah, rasa itu terus mencuat di dalam hati.
"Kenapa sih aku selalu memikirkannya," gerutu Alex.
****
"Rin, apa kamar sebelahmu kosong?" tanya Jesika, saat ia keluar kamar kosan Rini, kamar sebelah tampak kosong.
"Eh, kemarin sih ada orangnya, sebelum aku pergi ke desamu tapi nggak tahu deh kalau sekarang. Tapi memang nggak ada kelihatan siapa-siapa!" sahut Rini.
Rupanya penghuni kamar kos di sebelah Rini, baru saja keluar tadi malam. Penghuni itu tak memperpanjang kontrak sewa.
Kesempatan bagi Jesika pun datang, ia tak perlu susah payah mencari kamar lain apalagi harus berjauhan dengan Rini. Dia hanya perlu menyewa kamar sebelah.
"Coba pastikan dulu, Rin. Siapa tahu memang kosong, lebih baik aku menempatinya!" tambah Jesika.
Rini beranjak, lalu segera mencari pemilik kos. Tak lama, ia bertemu pemilik kosan, menanyakan langsung sebenarnya kamar itu sudah terisi atau memang benar kosong.
"Pak, apakah kamar di sebelah saya ada orangnya atau tidak?" ujar Rini, menatap wajah pemilik kos dengan datar.
"Kosong, Mbak soalnya orangnya baru keluar tadi malam."
"Bolehkah teman saya yang menempatinya?" tanya Rini lagi.
"Boleh saja, kapan temanmu akan datang? Barang-barangnya juga sangat lengkap dan kamarnya tidak kotor, tinggal dibenahi sedikit saja," terang Pemilik Kos.
"Baiklah, Pak teman saya akan mengisinya hari ini juga." Rini pun memberikan panjar untuk penempatan kamar, sebelum memberi uang sewa secara penuh.
Untung saja ATM Jesika masih bisa digunakan, uang di dalamnya pun tak akan pernah habis lantaran kedua orang tuanya terus mengisi rekening itu. Jesika tak perlu khawatir akan membebani Rini hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meskipun Jesika nantinya tidak bekerja, justru tabungannya di dalam ATM itupun tidak akan menghilang. Saat ini, ia malah merasa menikmati kehidupan barunya saat berada di Jogja.
"Jes, berapa banyak baju yang ingin kau beli?" ujar Rini, mengambil beberapa helai kaos untuk dipakai oleh Jesika agar mempercepat proses belanja mereka.
"Secukupnya saja lah, Rin!" balas Jesika.
Tak lama, Jesika melakukan pembayaran untuk belanjaan bajunya. Lalu, melanjutkan menyusuri mall yang ada di Jogja. Mereka berdua menikmati belanja hari itu, meski sudah sore hari, keduanya sibuk melanjutkan untuk mencari perabotan lain yang diperlukan di dalam kosan baru Jesika.
****
Pesawat Alex baru saja take off dari bandara. Alex menatap kaca jendela pesawat. Namun, bayangan wajah Jesika justru mengacaukan pikirannya.
"Apa aku salah mengusirnya?" gumam Alex, saat mencoba membuyarkan pikirannya tentang tentang istrinya itu.
"Bagaimana ini kalau aku terus berada di dalam bayang-bayang perempuan itu?" tanyanya lagi membatin.
Alex pun mencoba memejamkan mata. Namun, lagi-lagi pikirannya masih berada pada wanita itu.
"Sedang apa dia? Apakag dia ketakutan hidup sendiri ataukah dia memilih pulang ke rumah orang tuanya?" tanya Alex dalam hati.
Selama 2 jam perjalanan, Alex tidak bisa tertidur di dalam pesawat suasana yang dingin pun kerap ia rasakan dari kucuran AC yang menyala dengan kencang.
Di sisi lain Alex juga rasa senang bisa kembali lagi ke ibukota, tempat di mana ia bekerja. Mulai esok ia akan memulai rutinitasnya sebagai seorang dokter gigi.