
"Oh, ya karena kau merasa mual dan pusing terus. Bisa jadi memang ciri-ciri hamil, apalagi kau pernah berbuat dengan suamimu walaupun hanya satu kali!" jawab Rini, semakin membuat Jesika panik.
"Bagaimana ini, kalau aku benar-benar hamil?" tanya Jesika, sembari meratapi nasibnya.
"Kau mau langsung diperiksakan oleh pacarku?" usul Rini.
"Pacarmu dokter kandungan, ya? Tapi mungkin lebih baik pemeriksaan awal menggunakan tespek saja dulu, aku belum siap untuk hasil yang mengejutkan. Tolong temani aku ke apotek," ajak Jesika.
"Baiklah, kita periksakan menggunakan tespek dulu baru ke dokter!" sahut Rini.
Keduanya keluar dari kos-kosan, selain tujuan utama ke apotik, sekaligus mereka mencari untuk makan malam.
Di apotik, Jesika membeli 2 buah tespek untuk memastikan kalau hasil dari tespek itu tidaklah salah.
Apoteker menyarankan untuk pemeriksaan kehamilan lebih baik dilakukan di pagi hari karena air saat buang air kecil (BAK) yang pertama setelah baru bangun tidur memberikan hasil yang akurat.
*****
Matahari telah menukik ke arah jendela dengan tajam, sinarnya pun menyorot kedua pada sela-sela jendela kamar, Alex tersentak melihat sinar matahari yang mulai menyinari ruangan kamarnya.
Kedua matanya membelalak lebar, ia baru ingat kalau pagi itu sudah terlambat untuk berangkat ke kantor. Disisi lain, ia tampak frustasi lantaran baru tidur selama tiga jam saja. Sejak malam, ia memang kerap memikirkan Jesika hingga membuatnya merasakan insomnia berat.
Tepat pada pukul 9 pagi, Alex beranjak dari tidurnya. Oleh karena itu, jam prakteknya sudah terlewat pada satu jam terakhir. Alex bergegas mengecek ponsel, ada beberapa pesan masuk di sana. Tak hanya itu, ada juga beberapa panggilan tak terjawab karena Alex baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
"Sial!" maki Alex, seraya menatap ponsel dengan tajam.
Ia berlari ke dalam kamar mandi, lalu membersihkan tubuhnya yang sedikit berkeringat. Sejak semalaman, Alex tak bisa tidur, ia baru bisa memejamkan mata saat jam 6 pagi.
Usai buru-buru mandi, akhirnya Alex bergegas keluar dari apartemen. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan lagi bagaimana nasib keadaannya.
Pagi itu, pasien yang mengantri untuk mendapatkan penanganan dari dr. Alex sudah membludak. Sedikitnya, ada 20 orang yang sudah menunggu sejak jam 8 pagi, bahkan pasien itu terus bertambah.
Alex disapa oleh beberapa perawat, salah satu asistennya yang shift hari itupun masuk ke dalam ruangan setelah melihat sang dokter buru-buru masuk ke dalam ruangan. Antrian nomor satu pun dipersilahkan masuk.
"Maaf, menunggu lama!" ucap Alex, penuh sesal menyampaikan permintaan maafnya pada pasien yang pertama sudah menunggunya hingga dua jam terakhir.
****
Jesika tampak diam di sudut ruangan kamar. Dua buah tes pack untuk menguji kehamilannya menandakan garis yang sama. Ya, garis dua yang diprediksinya sejak awal ternyata muncul pada kedua test pack itu.
Berkali-kali, Jesika memastikan, bahkan dirinya hingga mengguncang-guncang test pack berharap hasilnya akan berubah. Namun, usahanya sia-sia.
Garis dua berwarna merah sudah terlihat dengan sempurna. Sebelumnya, setelah terbangun dari tidurnya, Jesika langsung membuang air kecil, menampungnya sebagian untuk menguji kehamilannya.
Sesuai pesan apoteker, air kecil setelah bangun tidur memang manjur dipakai untuk mengetes kehamilan. Oleh karena itu, setelah melihat hasilnya, Jesika semakin dilanda rasa pusing dan semakin stress menatap test pack tersebut.
"Sialan!" maki Jesika, menatap lekat kedua test pack yang masih berada di dalam genggamannya.
Jesika meremat test pack tersebut dengan rasa kesal, bahkan tak lama melemparkanya ke lantai. Ia duduk bersimbah di lantai, seraya menangisi hasil test pack tersebut.
Jesika merasa kesal, marah, dan mengamuk pada Alex. Pria yang sudah berhasil menghamilinya meski hanya sekali tembak pada malam pertama.
Tok ... tok ...
Seseorang berada di depan batas ambang pintu tentah mengetuk pintu kamar Jesika. Pagi-pagi, pada jam 7 pagi, Rini telah datang menjemput Jesika untuk berangkat bersama.
Selain itu, Rini juga penasaran dengan hasil test pack yang sudah mereka beli tadi malam. Setelah menunggu hampir 10 menit di depan pintu, Jesika akhirnya membukakan pintu dengan lebar.
Tubuhnya yang lemah, dengan mata sembab menatap nanar wajah Rini. Tangisnya mulai pecah, saat Jesika merengkuh tubuh Rini, memeluknya dengan erat.
Rini hanya terdiam kaku, mengelus punggung sahabatnya. Ia tahu, pasti hasilnya mengecewakan Jesika. Tak banyak kata yang diucapkan oleh Rini, untuk mencecar Jesika.
Suara tangis itu sudah mengisyaratkan hasil test pack yang sudah diuji oleh Jesika sendiri.
"Mau ke dokter?" tawar Rini, mengendurkan pelukan itu, lalu menyeka wajah Jesika yang sudah dibasahi oleh buliran bening yang terus menetes dari pelupuk mata.
Jesika hanya mengangguk, meski ia tak mengharapkan kehadiran bayi itu, setidaknya Jesika berusaha untuk menjaga sang bayi. Sosok mungil yang belum diketahui wujudnya tidaklah bersalah.
Oleh karena itu, Jesika ingin memastikan kondisi sang bayi tetap baik-baik saja di dalam perut.
Rini pun ikut masuk ke dalam kamar Jesika, menunggu Jesika bersiap-siap untuk berangkat ke dokter. Ia juga mengajukan izin pada atasannya dengan alasan ada acara keluarga yang tak bisa dipungkiri.
Tak berselang lama, Jesika sudah keluar dari kamar mandi. Memakai setelan formal untuk berangkat ke kantor. Namun, Rini protes dan meminta Jesika mengganti bajunya dengan pakaian kasual.
"Izin saja dulu untuk hari ini, Jes! Aku juga sudah minta izin pada atasanku. Hari ini, kita fokus untuk mengontrol keadaan bayimu!" ujar Rini, menatap lekat manik indah Jesika yang sendu dan membalas tatapannya dengan nanar.
"Bolehkah?" balas Jesika, raut wajahahnya tak berubah dan masih terlihat sendu.
"Tentu saja boleh, bulan kemarin kau sudah full masuk keria tanpa hari libur!" sahut Rini.
Jesika melakukan satu panggilan telepon pada bosnya. Tak perlu menunggu waktu lama, Fay langsung menjawab telepon dari sekretarisnya.
"Halo, Bos!" sapa Jesika melalui sambungan telepon.
"Halo, Jes! Tumben pagi-pagi begini, menghubungi saya?" tanya Fay, ia baru saja terbangun dari tidurnya lantaran ponsel berdering dengan kencang.
"Saya mau minta izin untuk hari ini saja, Bos! Ada kejadian tidak terduga!" ungkap Jesika, penuh harap.
"Ada kejadian apa?" sahut Fay, makin penasaran dan khawatir pada kondisi Jesika bila ia tengah sakit.
"Saya lagi kurang enak badan, Bos!" akunya, dengan memberikan alibi tak sesuai dengan kenyataan.
"Baiklah, istirahatlah untuk hari ini!" kata Fay, seraya mematikan sambungan telepon tersebut.
Tak berselang lama, Rini dan Jesik segera berlalu pergi. Keduanya, menaiki taksi online menuju rumah sakit terdekat. Untuk pagi ini, jadwal praktek pacar Rini tidak ada, ia baru mendapat jadwal praktek pada sore hari.