Sinamotku

Sinamotku
merawat



Rini melakukan pendaftaran untuk sahabatnya saat berada di poliklinik kandungan. Ia mendapatkan antrian yang ternyata masih panjang dan lama hingga gilirannya tiba.


Dengan rasa degupan jantung yang berpacu dengan kencang, akhirnya Jesika menunggu antrian dengan rasa khawatir, ia berharap kalau hasil tespek itu tidaklah benar.


Jesika juga tampak termenung setelah mengingat kejadian yang menimpanya saat malam pertama terjadi. Maka dari itu, dirinya masih memikirkan apakah pernikahannya telah berakhir atau tidak, meski kini ia ditetapkan tengah mengandung anak Alex.


"Rin, kalau aku benar mengandung anak ini, apa yang harus aku lakukan?" tanya Jesika, menatap manik indah Rini.


"Kalau memang kau mengandung anak ini, rawatlah dia sepenuh hatimu karena meskipun kau tidak menginginkannya tapi dia juga tidak pernah meminta untuk dihadirkan di dunia ini!" jawab Rini, dengan bijak.


"Iya, tapi apakah dia bisa hidup tanpa sosok seorang Papa?" balas Jesika.


"Bisa saja kalau kau merawatnya dengan baik, kau bisa melakoni dua peran sekaligus, sebagai seorang mama dan juga seorang Papa!" sambung Rini, memberikan pendapat.


"Tapi aku tidak mungkin melakukan itu, anak ini pasti selalu akan mempertanyakan di mana Papanya! Kalau dia sudah besar bagaimana aku harus menjelaskan semua ini?" timpal Jesika.


"Katakanlah apa adanya atau mungkin sebelum dia besar, kau sudah menemui Alex dan mempertanyakan, apakah dia mau mempertanggungjawabkan tentang anak ini!" lontar Rini dengan ketus, sebab ia merasa kesal pada Alex yang bersikap bodoh.


"Entahlah, Rin aku semakin bimbang dan merasa kalut, entah apa yang akan terjadi kedepannya!" pungkas Jesika.


Obrolan keduanya pun terhenti saat memasuki giliran nama Jesika yang telah dipanggil seorang perawat.


"Ibu Jesika, silakan masuk!" ucap seorang perawat.


Jesika didampingi oleh Rini, berjalan menuju ruangan dokter yang tengah melakukan praktek pemeriksaan kandungan. Untungnya hari itu adalah seorang dokter perempuan sehingga Jesika tak malu untuk menceritakan kisahnya yang terjadi hingga mendapatkan hamilan itu.


"Mau USG, ya, Bu?" tanya seorang dokter setelah Jeesika dan Rini duduk berhadapan dengan sang dokter.


"Iya, Dok tapi saya belum yakin saya benar-benar hamil oleh karena itu saya ingin melihatnya langsung melalui layar USG."


Dira berbaring di atas ranjang dan perawat membantu mengangkat bajunya agar perut bagian bawah bisa dioleskan oleh gel yang berwarna transparan untuk sebagai bahan memperlancar pengecekan USG.


Sang dokter menghampiri Jesika dan duduk di samping perempuan itu, lalu ia meletakkan sebuah benda yang berbentuk seperti setrikaan kecil di atas perut bawahnya. Tak lama, ia mengitari perut Jesika, lalu nampak seorang bayi mungil yang terdeteksi melalui layar USG.


Saat diarahkan ke bagian jantungnya, jantung itu berdenyut dengan kencang dan disaksikan langsung oleh Jesika. Ia pun merasa haru setelah menatap bayi mungil yang belum diketahui wujudnya.


"Itu anak saya, Dok!" tanya Jesika dengan mata berbinar.


"Iya, Bu itu masih janin dan karena ini masih 5 minggu jadi ibu harus merawatnya dengan baik, jangan terlalu lelah dan mengerjakan pekerjaan yang berat karena khawatir janinnya belum kuat. Ibu juga harus sering memeriksakannya!" pesan sang dokter.


Jesika pun mengangguk, lalu ia bingung larena mulutnya terasa kelu. Bahkan tak bisa mengucap apapun.


"Apakah kelaminnya sudah bisa diketahui?" celetuk Rini karena ia juga penasaran dengan anak sahabatnya


"Belum, Bu! Sekitar sudah mencapai 12 minggu, baru diketahui jenis kelaminnya. Oleh karena itu ibu harus bersabar! Kalau anak laki-laki lebih repot, ya!" timpal perawat.


"Apapun jenis kelaminya, tidak masalah bagi saya, Dok!" sambung Jesika.


"Baiklah, suaminya mana?" sanggah sang dokter, menatap penuh selidik kedua wanita itu.


"Di rumah, Dok! Kalau disini justru saya tidak perlu membantu Jesika untuk mengecek kahamilan ini!" kilah Rini, menolak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


Rini dan Jesika pun berlalu pergi, setelah sang dokter merepkan vitamin untuk Jesika. Rini membantu mengambil obat dna melakukan pembayaran.


Sementara Jesika masih syok dengan yang terjadi padanya, ini bukanlah keinginannya tetapi ia harus menerima keadaan ini.