Sinamotku

Sinamotku
tabrakan



Jesika akhirnya berhasil mendapatkan sebuah taksi setelah menunggu hingga 15 menit lamanya, ia segera mengantarkan anak perempuannya kembali ke rumah agar diasuh oleh pembantu. Sementara dirinya akan kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus dia urus.


"Dah, Sayang mama balik ke kantor dulu, ya!" pamit Jesika seraya melambaikan tangan pada anaknya yang menatap kepergian Jesika di halaman rumah.


Sepertinya Jesika akan terlambat 10 menit saat jam kerja mulai berlanjut, bahkan ia melewatkan makan siang karena merasa sangat lelah.


Jesika bergegas menuju kantor dengan penuh harap bahwa bosnya belum datang sebelum kedatangannya di kantor itu. Namun, ternyata itu semua hanyalah harapan karena kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Fai—sang Bos sudah menunggu di meja kerja untuk jadwal selanjutnya.


Sejak 10 menit yang lalu, Fay berhasil membuat komitmen dengan perempuan yang dijodohkan dengannya bahwa mereka akan bertemu hingga dua kali lagi untuk saling mendekatkan diri hingga saling mengenal satu sama lain. Setelah itu, Fay memutuskan agar segera kembali ke kantor dan berpamitan pada Mutia.


Saat berada di kantor, ia justru tak melihat wajah Jesika padahal seharusnya sekretarisnya sudah duduk di meja kerja, menunggu waktu kedatangan sang bos hingga tiba di kantor.


Nyatanya, Jessika pun tak diketahui ada di mana, tidak ada izin dari Fay dan mengabari pada bosnya kalau ia akan datang terlambat. Entah apalagi yang akan menjadi alasan Jessika mengapa ia bisa lalai bekerja hari ini.


Dari lobby kantor, Jesika berlari menuju lantai teratas tempat di mana kantor bosnya berada. Ia tertatih agar segera sampai di lantai tertinggi seraya menyematkan doa agar ia tak terkena amukan dari Fay.


Jesika tahu bahwa Fay sangat tidak suka pada orang yang bekerja asal-asalan sesuka hati apalagi bermain dengan waktu dan sering terlambat, sepertinya sang Bos tidak akan mentolerir lagi keterlambatannya kali ini.


Setelah sampai di ruang depan ruangan Fay, sebelumnya Jesika merapikan kemeja serta rok pendek yang ia kenakan, lalu ia mengetuk pintu ruangan untuk menjelaskan jadwal yang selanjutnya yang harus di lakukan oleh bosnya.


"Permisi, Pak." Jesika langsung menarik handle dan membuka daun pintu dengan lebar, lalu ia menatap Fay yang sedang memicingkan mata.


"Dari mana saja kau, Jes?"tutur Fay, dengan tatapan yang tajam.


Sementara, Jesika hanya terdiam kaku, tak berani menjawab pertanyaan sang Bos. "Maaf, Bos saya terlambat datang karena tadi tiba-tiba ada kejadian tidak terduga yang tak bisa dilewatkan," ucap Jesika dengan suara yang masih terenggal-enggal.


"Kejadian apa?" cecar Fay semakin penasaran.


Jesika tampak sedang berpikir, semakin larut dalam pikiran. Ia masih merasa lelah, bahkan sudah tak memiliki ide lagi untuk menjelaskan alasannya kali ini.


Entah apa yang akan menjadi alasannya, sebab tidak mungkin ia mengaku dengan kejadian yang sebenarnya dialami, bahwa tidak mendapatkan taksi hingga menunggu selama 15 menit lamanya.


"Jesika, kenapa diam? Kejadian apa?" sosor Fay, dengan mata memicing.


Jesika benar-benar menyerah kali ini, ia mengucapkan alasan dengan asal. "Ada tabrakan di jalan bos, taksi yang saya naiki keserempet!"


"Hah ... kau tidak apa-apa?" Fay malah justru panik mendengar alasan Jesika. Ia berlari menghampiri Jesika hingga membuat perempuan itu kebingungan dengan respon sang bos.