
"Bos, jangan lupa hari ini ada jadwal kencan buta saat jam makan siang jadi bos harus segera ke sana. Biarkan saya pulang sendiri," titah Jesila, lantaran ia tak ingin bosnya berdalih hingga membatalkan rencana yang sudah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya untuk menjodohkan Fay.
"Astaga hampir saja aku lupa," ucap Fay berpura-pura, nyatanya ia tak pernah melupakan momen perjodohan yang kerap didesak oleh kedua orang tuanya.
Jesika pun segera merapikan kemeja, jas serta dasi yang dikenakan oleh bosnya. Perempuan itu tak ingin melihat ada noda maupun baju yang kusut.
Namun, saat Jesika merapikan baju bosnya, wajahnya saling berhadapan, ia tengah sibuk menyeka jas tersebut serta merapikan dasi yang melilit di leher tapi Fay justru merasakan ada sesuatu yang berbeda saat Jesika sibuk mengurus dirinya.
Padahal, Jesika sudah sering melakukan hal seperti itu pada bosnya, baik sebelum memulai rapat atau acara lainnya. Saat ini, Jesika fokus merapikan kemeja, sedangkan bosnya justru menatap dengan dalam meski wanita itu sedang menunduk.
Ibu satu anak itu sangat fokus membenahi jas yang dipakai oleh bosnya sebelum bertemu dengan calon yang dijodohkan, sedangkan Fay merasakan getaran yang berbeda saat ia menatap pucuk kepala Jesika. Entah mengapa, sepertinya benih-benih cinta terus menyeruak di dalam hati Fay.
Suara degupan jantung Fay berpacu dengan kencang. Ia bahkan takut denyut jantung itu terdengar hingga ke gendang telinga Jesika. Oleh karena itu, Fay hanya berekspresi dengan datar, ia tak ingin ketahuan bahwa merasakan suatu getaran saat Jesika tengah menyentuh tubuhnya.
"Sial!" umpat Fay menggerutu karena getaran itu semakin kuat menguat.
Jesika tiba-tiba mendongak ke atas, kedua manik mereka saling beradu. Sontak saja, Fay merasa gugup dan tiba-tiba merasa kikuk dengan keadaan yang terjadi saat ini. Saat saling menatap, Jesika hanya memandang wajah Fay yang tampak aneh dalam diamnya.
Sementara Fay langsung memalingkan wajah karena sudah semakin salah tingkah, bahkan ia tak mau raut wajahnya ditatap lebih dalam oleh Kesika.
"Sudah, Bos!" ucap Jesika, memecahkan keheningan saat itu, ia menghempaskan tangannya dari kedua bahu Fay karena sudah selesai merapikan jas dan dasi milik bosnya.
"Oh... iya, kalau begitu aku pulang sendiri saja!" celetuk Jesika tapi langkah kakinya langsung dihadang oleh Fay.
"Ehm ... mending kau ikut saja bersamaku, jangan pulang sendiri karena kita kan searah, nanti aku bisa menurunkanmu di depan kantor, sementara aku bisa lanjut ke restoran itu!" sergah Fay, mencegat Jesika agar tidak segera pergi dari sekolahan itu.
"Apa nggak masalah, Bos? Nanti waktunya malah terulur loh!" sela Jesika, menatap lekat CEOnya.
"Nggak papa lah, dari pada kau harus pulang sendiri," sergah Fay, menatap sinis wajah Jesika.
Akhirnya, Jesika mengekori CEO itu, ia duduk mendampingi bosnya saat menyetir mobil. Lalu, tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk ke ponsel, mengabarkan bahwa anaknya baru saja pulang dari sekolah dan sedang menunggu kedatangannya.
Fay sebagai CEO belum tahu bahwa status Jesika sudah menyandang status sebagai seorang istri. Apalagi ia memiliki anak, selama waktu 9 bulan mengandung, perut Jesika justru tidak terlihat membuncit bahkan dia juga sengaja menggunakan baju yang lebar dan besar dengan alih-alih menggunakan baju over size agar tidak ketahuan sedang hamil.
Oleh karena itu sang Bos pun tidak mengetahui kalau sekretarisnya itu sudah pernah mengandung selama 9 bulan lamanya. Jesika masih menyembunyikan keberadaan putrinya dari Fay karena ia tidak ingin persoalan pekerjaan merembet kepada masalah pribadi.
Siang ini, Jesika mendapatkan pesan dari guru paud anaknya. Pesan itu langsung dibaca oleh Jesika, sebab ia sedang memegang ponsel. Dengan cepat, Jesika mengirimkan pesan pada Rini agar sahabatnya menggantikan dirinya untuk sementara waktu, menjemput anak perempuannya.
Sayangnya Rini tengah sibuk menghadiri meeting yang sangat penting untuk perusahaan sehingga ia tidak bisa melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Jesika.
^^^Jesika^^^
^^^Rin, tolong bantu aku untuk jemput anakku di paud. ^^^
Rini
"Duh gimana ini?" batin Jesika seraya menghentak-hentakkan ponsel yang membentur tas sembari berdoa agar ia segera tiba di kantor dan bisa pergi menjemput putri kecilnya.
Namun, perjalanan masih panjang, butuh sekitar 10 menit lagi untuk tiba di sana. Jesika juga tidak punya alasan untuk diturunkan di tengah jalan.
Berbagai ide telah ia pikirkan untuk alasan agar Fay menurunkan di lokasi yang saat ini mereka lintasi. Akhirnya Jesika, mendapatkan ide cemerlang bahwa ia akan berpura-pura sakit perut dan kebelet ingin mencari toilet.
Jesika menepuk-nepuk pundak bosnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lain tengah berakting memegang perut, lalu ia meminta pada Fay agar segera diturunkan.
"Bos, turunkan aku di sini, soalnya sedang sakit perut dan ingin buang air!"
Sontak saja, Fay semakin panik dan ia tidak tega jika harus menahan Jesika di mobil lebih lama karena perjalanan untuk sampai ke kantor masih lama.
"Nggak papa kalau kau turun di sini?" tanya Fay kembali meyakinkan Jesika.
Perempuan itu hanya mengangguk seraya mengerang kesakitan agar bosnya percaya kalau ia tengah dilanda sakit perut.
"Bos, saya udah nggak tahan!" balas Jesika semakin merintih kesakitan.
Seketika, Fay menginjak pedal remnya, dan menghentikan mobil itu secara mendadak di pinggiran jalan. Tak butuh waktu lama, Jesika langsung turun dari mobil, dan berpamitan pada bosnya.
"Bos, ingat jangan sampai bikin ilfeel calon istrinya!" pesan Jesika, lalu menutup pintu mobil dengan cepat.
Sebelumnya, Fay sudah menjawab dengan malas saat Jesika berpesan seperti itu. Lalu, ia segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Jesika seorang diri.
"Jesika ... Jesika, ada saja tingkahmu!" lirih Fay seraya bergeleng-geleng kepala dengan senyum tipis, tanpa sadar ia telah terjebak perasaan pada sekretarisnya.
"Astaga, aku kenapa sih, malah mikirin dia!" batin Fay meracau.
***
Di pinggiran jalan, Jesika menghadang sebuah taksi saat mobil Fay sudah pergi jauh tak terlihat lagi. Ia pun segera meminta sopir taksi untuk melajukan mobil menuju paud tempat di mana anaknya bersekolah.
"Paud Permata, ya, Pak!" titah Jesika, saat sudah duduk dengan santai di kursi penumpang paling belakang.
"Mbak mau jemput anak atau ponakan?" tanya Sopir itu, karena wajah Jesika sangat awet muda dan sangat cantik, rasanya tidak mungkin kalau perempuan itu sudah memiliki anak.
Sopir juga tidak percaya begitu saja jika melihat kecantikan Jesika secara langsung.
"Saya mau jemput anak, Pak!" sahut Jesika tanpa pikir panjang.
"Tapi kok nggak kelihatan kalau Mbaknya ternyata sudah memiliki anak!" canda Sopir itu seraya terkekeh kecil.