
Alea akhirnya lelah bermain meskipun gusinya terasa sakit, ia merasa senang ditemani oleh kedua orang tuanya. Sebenarnya gadis kecil itu ingin sekali memanggil Alex dengan sebutan Papa tetapi ia masih merasa enggan dan malu, bahkan khawatir bahwa pria itu belum bisa menerimanya sebagai seorang anak.
Alea berlari menghampiri kedua orang tuanya yang tengah mengobrol. Terlihat jelas, sepasang suami istri itu tampak serius membicarakan sesuatu sampai-sampai Alea memberhentikan permainannya.
Alea bergegas berlari menuju keberadaan Alex dan Jesika, tiba-tiba saja ia memeluk erat tubuh sang mama.
"Loh ... kok nggak main lagi? Emangnya udah puas?" seru Jesika, saat mendekap putrinya di depan dada, sementara Alex hanya terdiam menatap keindahan yang menjadi pemandangannya di sore ini.
"Bosan, Ma! Nggak ada yang nemenin Alea, om sama mama malah asik ngobrol," sela Alea, seraya menatap Jesika dan Alex secara bergantian.
"Oh ... yaudah, kalau gitu papa bakal temenin Alea!" Alex pun beranjak dari tempatnya, lalu meraih tangan Alea, keduanya berjalan dengan tangan yang saling menggenggam.
Alea hanya tersenyum-senyum sendiri karena ini baru pertama kali ia lakukan bersama sang papa.
"Oh, begini enaknya punya Papa," batin Alea, gadis kecil itu memang sangat pintar walau usianya masih 4 tahun.
Selama ini, Alea nggak pernah berada di samping papanta, akhirnya ia merasa ternyata punya papa memiliki sesuatu yang berbeda, sangat diperhatikan apalagi sering dipegang tangan seperti saat ini.
"Mau main apa?" tawar Alex, menundukkan kepala agar bisa menatap anaknya yang terlihat tampak bahagia.
"Permainan itu om!" Gadis kecil itu menunjuk salah satu permainan yang ada di dekatnya, yaitu permainan dengan balon yang bisa berguling.
"Kalau main itu sih, papa pasti nggak muat, nggak bakal bisa masuk lah ke dalam karena kan itu buat anak-anak," hardik Alex sembari terkekeh.
"Oh gitu, Om lihatin aku aja, aku yang akan guling-guling di balon itu," pinta Alea, lalu kembali mendekati permainan itu, ia masuk ke dalam untuk berguling-guling di sana.
Alex tetap berada di sekitar serta membantu untuk memutar balon tersebut agar Alea bisa bergerak dan mengguling-gulingkan badannya.
Bahkan, Alea sangat kegirangan bermain tanpa henti karena merasa baru kali ini ia mencoba permainan tersebut.
Jesika menatap dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang sangat benar-benar tidak pernah sangka-sangka. Bahkan hal ini tidak pernah terlintas di pikirannya akan terjadi.
Alex dan Alea tampak sangat akrab walaupun dirinya hanya melihat dari kejauhan. Namun, karena bosan sendiri, tak lama Jesika pun beranjak untuk menghampiri suami dan anaknya, lalu ikut bergabung bersama mereka.
"Ah, kok seru sekali mainnya! sambar Jesika setelah duduk bersampingan dengan Alex.
Ia pun ikut mendorong bola tersebut agar anaknya berputar-putar dan larus dalam permainan itu. Bahkan, permainan itu sangat seru bagi Alea yang merupakan anak kecil berusia 4 tahun.
Setelah lelah bermain, lalu Alea mengajak Alex untuk bermain perosotan karena permainan itu memang bisa dinaiki oleh orang dewasa.
Alea duduk di depan Alex, sementara Alex mendorong tubuh anaknya dan dia ikut juga terdorong, keduanya berseluncur bersama-sama dengan gembira.
"Huh!!!" teriak Alea, saat merasakan hal yang menyenangkan baginya.
Gadis kecil itu tak menyangka bisa bermain bersama sang papa berdua. Alea jadi merasa menyesal saat pertama kali datang ke area permainan itu tidak melibatkan Alex maupun mamanya untuk bermain perosotan.
Lantaran merasa sangat girang, sampai-sampai Alea salah mengucap. Namun, mendengar panggilan itu, mata Alex serasa berbinar. Ia tak menyangka dalam waktu sesingkat itu, Alea sudah bisa memanggilnya dengan sebutan papa.
"Apa tadi kamu bilang, Nak?" sambar Alex, seraya menatap penuh nanar, hampir saja buliran bening terjatuh dari pelupuk matanya.
Alea enggan mengulangi ucapannya. Ia tiba-tiba meralat perkataannya dengan mengajak Alex untuk bermain di tempat lain.
"Ayo kita ke situ, Om!" pinta Alea.
Saat itu juga, raut wajah Alex seketika berubah. Tak lagi ada tatapan binar, ia merasa kecewa. Entah kenapa anak itu seperti memberikan harapan palsu baginya. Setelah tadi dipanggil papa kini berubah lagi menjadi dengan panggilan Om.
Di sisi lain, Jesika juga ikut berlari menghampiri Alex dan Alea. Saat itu, suamindan anaknya sedang sibuk bermain mobil-mobilan kecil. Alex mendorong Alea agar gadis kecil itu tak perlu mengeluarkan tenaga untuk mendorong mobilan sendiri.
Lagi-lagi, Jesika hanya terdiam, ia menatap dengan penuh rasa haru, air matanya seketika luruh dari pelupuk mata. Entah mengapa keadaan itu sangat benar-benar membuatnya bahagia sekaligus sedih.
"Jes, sini! Ayo bantu aku untuk mendorong Alea," teriak Alex, karena ia melihat wanita itu tengah mengusap ujung sudut mata sehingga Alex tak mau membuat Jesika berlarut-larut dalam kesedihan.
Alex ingin mengalihkan pandangan Jesika, salah satunya cara dengan mengajaknya untuk bermain bersama sang anak.
Jesika langsung berlari menghampiri Alex dan Alea. Ia juga ikut mendorong mobil-mobilan milik Alea, mereka bermain dengan sangat gembira.
"Ayo, Ma, Om dorong yang kenceng!" sahut Alea dengan sedikit berteriak.
Ia pun terkekeh geli karena mobilnya melaju sangat kencang. Setelah lelah bermain di kidzone, akhirnya mereka pindah untuk mencari makan malam.
Tak terasa selama sejam bermain di sana, perut Alex dan Jesika memberontak dan terasa lapar. Tapi tidak dengan Alea karena sudah diberikan makan oleh sang mama saat sore tadi.
Gadis kecil itu tidak merasakan kelaparan, namun ia ingin membeli satu cup es krim untuk cemilan malam ini setelah usai bermain.
"Om, aku mau es krim, belikan aku dong," ujar Alea dengan wajah yang memelas seketika hati Alex merasa luluh.
Alex ingin langsung membelikan dan memenuhi permintaan gadis kecil itu.
"Yaudah ayo, Papa belikan!" balas Alex, sejak tadi ia sengaja mengubah panggilannya sendiri agar Alea terbiasa untuk menyebutnya sebagai papa.
Ia tak mau lagi mengucap kata Om lantaran terasa menyakitkan dengan panggilan tersebut. Apalagi, kenyataannya bahwa dialah ayah kandung Alea.
Alea hanya terdiam dan tiba-tiba tangannya masuk ke dalam genggaman tangan Ale. Sang papa menyambutnya dengan senyuman dan menggenggam erat tangan Alea. Mereka berjalan beriringan. Tak hanya Alea, kemudian Alex juga meraih tangan Jesika ke dalam genggamannya.
Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia, sangat menikmati acara liburan mendadak yang dilakukan secara singkat. Lalu, mereka pergi ke salah satu outlet untuk penjualan es krim. Alex membelikan 3 cup es krim agar mereka bisa mencicipi dengan rasa yang berbeda-beda.
"Mau rasa apa?" tanya Alex pada Alea.
"Kau juga, Jes mau rasa apa?" lanjut Alex lagi, sembari menatap kedua perempuan itu secara bergantian.