Sinamotku

Sinamotku
cemburu



"Baiklah aku akan mengirimkan uang itu ke rekeningmu, nanti aku akan mengirimkan pesan kalau aku sudah transfer uang itu." Mutia langsung menutup panggilan telepon secara sepihak, ia malas mengobrol panjang lebar dengan pacar miskin yang selalu menjadi benalu baginya.


"Dasar laki-laki mokondo, kenapa aku bisa memacari pria seperti itu!" geram Mutia.


Sementara, tangan Mutia bergerak cepat membuka m-banking yang berada di ponsel, ia segera mengirimkan 100ribu sesuai permintaan lelaki itu. Baginya itu adalah uang recehan tapi tidak bagi Brian yang menganggap uang itu sangat besar karena sehari-harinya memang dia adalah pria pengangguran. Orang tuanya sudah lepas tangan bahkan tidak mau memberikan uang untuknya.


Sering kali, dengan makanan yang ada di rumah pun selalu sengaja dihabiskan sendiri oleh orang tua serta adik-adiknya. Apalagi, setelah mengetahui tabiat Brian adalah pria yang pemalas.


Dia sangat malas bergerak malas untuk melakukan apapun. Tidak hanya itu, dia pun sangat malas mencari kerja sehari-hari. Setiap harinya, Brian hanya tidur, malas-malasan dan makan saja. Itupun untuk makan mengandalkan hasil uang yang dipinta dari sang pacar.


Mutia langsung mengirimkan pesan tanda screenshot yang baru diambilnya dari ponsel kepada Brian. Padahal pria itu berharap dikirimkan lebih dari 100 ribu, tetapi nyatanya Mutia hanya mengirimkan sesuai dengan nominal yang diminta oleh pria itu.


"Ah ... sial, diminta 100 ribu ngasihnya segitu juga," gerutu Brian saat menatap layar ponsel, terlihat pesan yang baru dikirimkan oleh Mutia.


Dengan berat hati, Brian pun segera meminjam motor milik sang ayah. Ia langsung bergerak menuju ATM untuk mengambil uang tunai yang baru saja dikirimkan oleh Mutia. Dalam beberapa bulan terakhir, Brian memang selalu saja meminta uang pada Mutia. Meski Mutia tidak pernah mempermasalahkan, ia selalu mengirim sesuai permintaan sang pacar dengan dalih asalkan Brian tak pernah menolak jika diajak untuk nongkrong dengan teman-temannya.


***


Mutia langsung menghempaskan ponsel ke atas ranjang, ia tak mau lagi berhubungan dengan pria mokondo yang sering memerasnya untuk kebutuhan sehari-hari.


"Aku harus putuskan saja hubungan dengan lelaki mokondo itu, aku kesal kalau tiap hari di porotin terus," sesal Mutia dengan penuh penyesalan.


****


Alex, Jesika dan Alea baru saja duduk di sebuah restoran eropa, makanan itu memang sudah menjadi makanan favorit Jesika seiaknlama. Oleh karena itu, berdasarkan permintaan Jesika yang ingin memakan makanan khas Eropa akhirnya dipenuhi oleh Alex.


Kebetulan saja di dalam Mall itu ada salah satu restoran yang Jesika sukai. Salah satunya makanan khas dari Italia yaitu pizza adalah menjadi makanan favorit dari Jesika. Setibanya di restoran, Alex segera memesankan satu pizza dengan ukuran yang besar agar mereka merasa puas saat menyantap makanan tersebut.


"Mau pesan apa lagi, Jes?" tanya Alex sebelum menyelesaikan pesanannya karena seorang pelayan telah menunggu untuk menerima pesanan mereka.


"Aku ingin pesan fried herring sandwich asal swedia, sepertinya enak deh ini kalau dari tampilannya," kata Jesika, ia ingin mencoba untuk pertama kalinya menu baru tersebut.


Biasanya kalau ke sini, Jesika selalu memesan kroketten tapi dia sudah merasa bosan dan akhirnya memilih menu yang lain. Sementara, Alex memesan frites bruges makanan asal dari Belgia dan dia memang menyukai makanan itu.


"Ini, Mbak pesanannya." Alex memberikan selembar kertas yang ia bertuliskan isi pesanan mereka, seorang pelayan mengambilnya lalu segera berpamit pergi dan meminta untuk mereka menunggu hingga pesanan tiba.


Tiba-tiba ponsel Jesika bergetar, ia melihat ada sebuah panggilan dari kedua orang tuanya yang memang biasanya setiap malam seperti ini mereka selalu berkomunikasi apalagi kedua orang tuanya ingin mendengar kabar dari cucunya, Alea.


"Kenapa tidak diangkat?" tegur Alex, menatap penuh selidik ke arah Jesika yang tampak terdiam saat melihat panggilan telepon tersebut.


"Nanti saja lah, Bang," sahut Jesika beralibi bahwa ternyata panggilan itu dari atasan di tempat kerjanya.


"Oh, yasudah, emang dari siapa?" cecar Alex.


"Dari bos di kantor," jawab Jesika, singkat.


"Kamu serius nggak mau makan, Alea?" tanya Alex pada putrinya.


"Iya, Om, Alea masih kenyang sekali," jawab gadis kecil itu.


Lagi-lagi ponsel Jesika bergetar. Kali ini bukan panggilan dari kedua orang tuanya, melainkan panggilan benar-benar dari atasannya.


***


10 menit yang lalu ...


Fay masih bingung ingin menghubungi sekretarisnya atau tidak. Ia masih merasa bimbang, takut hingga khawatir bahwa panggilan darinya justru akan mengganggu aktivitas Jesika malam itu.


Akhirnya karena Fay ingin mendengar kabar dari Jesika, ia takut perempuan itu mengalami hal khawatirkan. Sembari mondar-mandir di kamar, akhirnya ia membuat satu panggilan telepon dan ternyata langsung diangkat oleh Jesika.


****


"Angkat saja, tidak apa-apa," seru Alex, tak ingin membuat Jesika merasa tidak nyaman untuk menjawab panggilan telepon yang berada di sekitarnya.


Kebetulan Jesika memang ingin mengangkat panggilan telepon itu karena memang benar-benar berasal dari bosnya. Apalagi, ia tak ingin membuat curiga dari suaminya.


Sementara untuk panggilan pertama, Jesika tidak mau mengangkat panggilan dari kedua orang tuanya. Sebab Alex belum mengetahui kalau sebenarnya Jesika masih terus berkomunikasi dengan kedua orang tuanya.


Ia tak mau membuat Alex merasa kecewa lantaran yang selama ini Alex tahu bahwa kedua orang tuanya memang tidak tahu keberadaan Jesika. Padahal nyatanya mereka memang selalu berkomunikasi hanya saja Jesika tidak mau mengungkapkan lokasi tempat tinggalnya.


"Halo, Bos ada apa?" tanya Jesika langsung pada intinya, apalagi di sana ada suaminya. Ia tak mau membuat suaminya cemburu dan berpikiran aneh-aneh bahwa dirinya memiliki hubungan dengan atasannya di kantor.


"Halo, Jes bagaimana kabarmu? Bagaimana keadaan hari ini? Katanya ada kegiatan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan!" ujar Fay.


"Oh tidak papa, Bos semuanya sudah diselesaikan hanya permasalahan keluarga saja karena ada tadi kejadian yang tidak mengenakkan," balas Jesika memutar-mutar pembicaraan secara gamang.


"Memangnya kau ada masalah apa?" tanya Fay penasaran.


"Biasalah, Bos masalah keluarga. Oh ... mohon maaf sekali, Bos aku tidak bisa berbicara lama-lama karena aku masih bersama keluargaku," tandas Jesika, seraya memutus panggilan telepon itu secara sepihak.


Jesika tak ingin ada terdengar keakraban antara dia dan Fay apalagi sampai membuat Alex merasa cemburu.


"Halo ... Jes, Jes?" Fay menatap layar ponsel ternyata panggilan telepon itu sudah terputus.


"Padahal saya belum selesai berbicara!" protes Fay.


Fay awalnya ingin menanyakan apakah besok Jesika akan bekerja dan datang ke kantor tapi nyatanya telepon itu sudah diputuskan langsung oleh Jesika.