
Acara resepsi berlangsung selama satu hari penuh. Pesta sangat meriah, usai sepasang mempelai di pasu-pasu oleh kedua orang tua masing-masing.
Tak hanya itu, kerabat dari keluarga masing-masing juga memadati gedung resepsi. Selama acara, uang sinamot setengahnya habis dihambur-hamburkan untuk memberikan kepada tulang-tulang serta kerabat-kerabat lain sesuai dengan aturan peradatan batak.
Dalam kesempatan upacara adat itupun, disampaikan doa-doa untuk kedua pengantin yang diwakili dengan pemberian ulos.
Tibalah kesempatan Jesika, di mana ia diharuskan mengambil tumpak.
Sebelumnya, Jesika dan Alex sudah mendapat arahan dari raja parhata. Usai makan siang, bahkan menerima tamu undangan di pelaminan, kini saatnya Jesika bersemangat mengambil tumpak yang dikumpulkan di dalam sebuah bokor.
Tumpak itu bisa digunakan untuk apapun oleh pengantin. Namun, sesuai arahan, tumpak hanya bisa diambil menggunakan dua ruas jari saja.
Beberapa jam yang lalu saat briefing ...
"Nanti ada acara khusus untuk pengantin, pemberian ulos hela dan pengambilan tumpak yang disediakan. Kalian ambil lah sesuai dengan adat. Ingat untuk tumpak, ambil secukupnya hanya menggunakan dua ruas jari," jelas Raja Parhata.
"Iya, Amang," jawab Jesika, sedangkan Alex hanya mengangguk.
Oleh karena itu, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Jesika. Ia memang bergelimang harta tetapi jika disuruh mengambil beberapa tumpak yang diberikan, justru semakin membuatnya semangat.
Hasil tumpak yang diambil, Jesika berniat akan menyerahkan untuk warga-warga miskin disekitar rumahnya. Niatnya sangat mulia, tidak digunakan untuk kebutuhan pribadi. Uang dari orangtuanya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Acara yang dinanti-nanti tiba. Mertua Jesika hanya menatap dengan senyuman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan, mertuanya tak peduli seberapa banyak yang berhasil diraup oleh menantunya itu.
"Ambillah sebanyak-banyaknya," bisik Mama Alex—Ima.
Jesika pun membalas ucapan mertuanya saat tumpak itu disodorkan padanya. "Bagaimana mungkin, Inang? Hanya diperbolehkan mengambil dengan dua ruas jari saja."
Ima melayangkan senyuman tipis. Namun, ia meminta agar Jesika segera mengambil tumpak hasil pemberian tamu undangan yang dikumpulkan di dalam bokor-bokor tersebut.
Jesika menggerakkan lengannya, ia mempersiapkan jari jempol dan telunjuk untuk mengambil beberapa amplop incarannya. Kedua jari itu semakin dekat, dengan pandangan yang melekat.
prok ... prok ...
Riuh tepuk tangan menyita perhatian para tamu yang menyaksikan adat unik tersebut. Ya, Jesika berhasil mengambil lima amplop saja dengan dua ruas jari. Ia pun terkekeh seraya menggelengkan kepala.
"Kok sikit kalilah kau ambil, Jes!" keluh Ima, menatap penuh kecewa.
Sebab, baginya tumpak pemberian tamu undangan itu tak berarti. Hanya sebagai hiburan saja untuk menambah-nambah menutupi biaya pesta.
Bahkan, ia tak berharap mencapai lima persen dari pengeluaran pesta yang diselenggarakan oleh mempelai pria.
"Susah, Inang!" kekeh Jesika, tersenyum ramah.
Acara pun berlanjut menerima tamu undangan kembali. Tarian tortor dengan musik tetap berlanjut. Dipenghujung acara, kedua mempelai kembali diputar-putar dengan acara penutup saat pengantaran pengantin wanita untuk diberikan pada keluarga mempelai pria.
Acara berlangsung sangat meriah. Jesika dan Alex menikmati meski rasa lelah menggeluti tubuhnya. Bahkan, Jesika merasa pusing lantaran harus berdiri seharian penuh.
Acara itu berlangsung hingga malam hari. Tak sedikit tamu undangan yang datang, bahkan sanak keluarga dari kota-kota jauh menyempatkan diri untuk hadir.
****
"Mak, Pak, jadi untuk malam ini aku harus ikut keluarga suamiku?" tandas Jesika, menatap penuh binar kedua orangtuanya.
Irma dan Bernard mengangguk, mereka tak lagi bisa mengajak Jesika untuk tinggal di rumah. Kini, Jesika sudah milik suaminya.
"Pergilah sama suamimu, kabari kami jika sudah berada di sana," pesan Irma, memeluk putri semata wayangnya dengan rasa sendu yang menyelimuti.
Alex sudah menunggu kedatangan Jesika untuk ikut pada rombongan keluarga. Pria itu mengulurkan tangan, tersenyum lebar menatap sang istri.
"Kemarilah!" imbuh Alex, menatap lekat wanita cantik itu.
"Tidur yang nyenyak!" pesan Bernard, mengantarkan Jesika mendekati Alex.
Jesika pun melambaikan tangan pada kedua orangtuanya. Ia meraih uluran tangan Alex, setelah kepergian kedua orangtuanya, Jesika masuk ke dalam mobil pengantin.
"Apa kau siap untuk malam ini?" tanya Alex datar.
Jesika yang memang polos tetapi sedikit nakal sudah bisa menangkap arah pembicaraan itu. "Bolehkah besok saja?" tawar Jesika, menatap lekat suaminya.
Alex menghargai permintaan istrinya, tubuhnya bahkan terasa remuk. Ia juga tak sanggup untuk melakukan rutinitas malam sepasang suami istri yang seharusnya diwajibkan pada malam pertama.
Terlebih, esok masih ada lanjutan acara resepsi untuk menerima tamu-tamu bertema nasional alias tamu yang diterima dari kerabat jauh dan teman-teman Alex dari ibu kota.
"Baiklah, aku akan bersabar untuk malam ini. Tapi aku tidak akan tahan untuk menunggu di malam kedua."
Jesika pun mengangguk mantap, ia tahu hasrat laki-laki tak bisa ditolak. Apalagi, sudah menjadi kewajibannya untuk melayani sang suami.
Tiba di kediaman Alex, prosesi adat belum selesai. Acara dialap jual pun dimulai. Jesika sebagai pengantin wanita dibawa masuk sesuai prosesi adat batak saat memasuki kediaman itu.
Seluruh keluarga Alex memasuki rumah. Dalam acara itu, tetua di rumah itu memberikan sambutan.
"Puji Tuhan, acara berjalan dengan lancar. Besok kita akan menyelenggarakan satu kali lagi resepsi untuk menyambut tamu undangan dari berbagai kota. Tapi malam ini, kita terima dulu anak kita ini!" ujar Tulang Alex—Yongki.
Yongki mewakili para tetua yang ada di rumah itu. Ia mengantarkan Jesika untuk dialap jual, sebagai sambutan menantu yang baru menginjakkan kaki di rumah itu.
Setelah mandok hata dalam acara, Jesika dan Alex juga memberikan sepatah dua kata. Mereka berdua sangat bahagia bisa terwujud dan bersatu dalam keluarga.
Bahkan, Jesika sangat terharu karena keluarga Alex sangat menerima dirinya. Kini, Ia sudah menjadi Nyonya Sidabutar, apapun yang ia lakukan semua berada dibawah pengawasan keluarga itu.
Usai prosesi adat dialap jual, semua keluarga diantarkan oleh jemputan yang memang semuanya disiapkan oleh keluarga Alex. Tepat pukul 12 malam, acara benar-benar selesai ditutup dengan kegiatan makan malam bersama.
"Ayo, ke kamar," ajak Alex, saat lelah tak terelakkan lagi.
Jesika hanya mengangguk, mengekori suaminya dari belakang. Ia menurut saja dengan arahan suaminya. Apalagi, ia belum mengetahui seluk-beluk di rumah itu. Keduanya berpamitan pada orang tua Alex dan kakak-kakaknya.
Saat berada di daam kamar, sepasang suami istri itu mandi bergantian. Alex memakai baju rumahan hanya bermodalkan kaos putih dan boxer, menjiplak jelas kepunyaannya yang memggantung dibawah sana.
Sementara Jesika, ia sangat beruntung, keluarga Alex sudah menyiapkan semua kebutuhannya meski baru tinggal di rumah itu. Ia memakai sebuah tanktop berwarna putih serta celana pendek berbahan katun dengan rambut digerai yang bergelombang.
Jesika cantik bett...
Sontak, Alex terpukau dengan kecantikan istrinya yang sangat diluar ekspektasi. Wajah malam Jesika benar-benar syahdu. Ingin sekali rasanya Alex menyentuh tubuh yang bak diidam-idamkan semua wanita itu.
"Kau cantik sekali, Jes!" tutur Alex, tanpa sadar memuji kecantikan istrinya.
Jesika hanya tersenyum tipis. Alex adalah pria yang kesekian kali yang mengucapkan hal itu. Sudah banyak lelaki lain yang lebih dulu berucap demikian.
"Apa aku boleh—"
Belum juga ia menyelesaikan ucapannya, Jesika sudah menggeleng dan memotong ucapan pria itu.
"Jangan, bang! Aku lelah, ingin istirahat. Tolonglah, besok saja," pinta Jesika dengan wajah yang sangat lesu dan memelas.
"Ck!" decak Alex dengan kesal.
Namun, permintaan istrinya tak bisa ditolak. Ia besok harus bangun pagi-pagi untuk melaksanakan acara resepsi hari kedua.
"Sial!" umpat Alex, menggerutu seorang diri karena tak bisa melampiaskan hasrat dan gairah yang kian memuncak saat melihat tubuh sexy di depan mata.
Jesika berjalan gontai, mematikan lampu utama. Hanya lampu tidur yang menyala dengan pencahayaan temaram. Ia menghempaskan tubuh di ranjang, tepat disamping Alex.
Alex sengaja mengenyampingkan tubuhnya agar bisa menatap wajah cantik istrinya. Dengan susah payah, ia juga menelan shavila yang memenuhi kerongkongan lantaran melihat istrinya menganggur di depan mata.
"Tahan, Bang! Besok kita harus bangun pagi!" seloroh Jesika, mendekatkan diri pada tubuh suaminya.
Deru nafas keduanya sampai terdengar jelas di telinga masing-masing. Membuat Alex semakin bergidik tak kuasa menahan lagi hasrat yang sejak tadi dipendam.