Sinamotku

Sinamotku
kencan buta



Maruli telah berganti baju, ia keluar dari dalam kamar, akhirnya menyambangi kedua orang tua Jesika untuk menanyakan maksud kedatangan sepasang suami istri tersebut.


"Ada apa lagi, Lae? Janganlah bikin ribut, sudah lima tahun belakangan kita selalu ribut!" desah Maruli, menarik dan mengeluarkan nafas kasarnya selama menghadapi sang besan.


Akhir-akhir ini, Maruli sering mengalah karena memang sejak awal kesalahan dilakukan oleh anaknya sendiri.


"Sampai saat ini, saya masih menunggu kabar tentang kejelasan di mana anak saya berada. Kenapa kalian tidak mencarinya?" seloroh Bernard menatap tajam besannya.


"Duduk dulu, yang tenang, Lae!" lirih Maruli, menenangkan, Bernard dan istrinya pun duduk di kursi ruang tamu.


"Jadi beginilah, sudah berkali-kali saya katakan kalau memang sebenarnya pernikahan Alex dan Jesika itu sudah tidak bisa dilanjutkan! Kepergian Jesika sepertinya memanglah keinginan dia, bukan keinginan kami," sergah Maruli.


"Tidak mungkin kalau tidak ada permasalahan yang fatal, anak saya sampai kabur begitu!" racau Bernard, bernada sedikit lebih meninggi.


"Loh ... nyatanya Jesika sendiri yang kabur, kami sudah mencarinya kemanapun tapi tidak kunjung ditemukan. Entahlah dia pergi ke mana, bisa saja bersama pria lain!" sesal Maruli dengan ketus.


"Anak saya tidak seburuk yang kalian pikirkan, anak saya itu benar-benar anak yang baik dan penurut tapi semenjak menikah dengan Alex, dia sudah berubah. Pergi dan tidak kembali lagi, mungkin ada kesalahan fatal yang dibuat oleh Alex!" ketus Bernard, kedua pria itu saling beradu tatapan.


"Tidak mungkin ini kesalahan dari Alex sendiri, pasti diakibatkan oleh kedua belah pihak bukan hanya anak kami saja," kilah Maruli.


Keduanya terus berdebat tanpa henti, mereka tetap memiliki pendapat masing-masing hingga membuat suasana semakin menegang. Oleh karena itu, Bernard meminta agar Maruli turun tangan langsung mencari keberadaan Jesika bila perlu melibatkan pihak Kepolisian.


"Udah 5 tahun saya menunggu kepulangan boru saya ke desa ini tapi itu tidak pernah terjadi," bentak Bernard, lantaran ia tak bisa lagi menahan emosi.


"Mungkin itu memang keinginan Jesika!" jawab Maruli dengan santai.


"Nggak mungkin! Saya tidak percaya, kau harus segera mencarinya ke manapun ia pergi. Bila perlu libatkan pihak kepolisian agar ia segera kembali ke rumah kami!" tegas Bernard.


"Hah ... lucu kali lah, Lae! Mana mungkin kami bisa melibatkan kepolisian sementara ini adalah kasus permasalahan rumah tangga antara kedua belah pihak. Dan harusnya diselesaikan oleh pasangan itu sendiri!" erang Maruli, sebenarnya tak ingin kerepotan mencari keberadaan Jesika, sebab mereka sudah pasrah dengan perginya perempuan itu selama 5 tahun terakhir.


"Tidak bisa! Pokoknya saya tidak mau tahu, anak saya harus kembali hidup-hidup di depan mata saya!" berang Bernard.


Sementara, Irma dan Ima hanya terdiam mendengarkan perdebatan para lelaki tua itu.


Huhhh ...


Maruli menghela dan membuang nafas kasar dengan rasa yang berat. Ia juga ingin meluapkan unek-uneknya mengenai kepergian Jesika.


"Semenjak kepergian anakmu, anak saya juga menjadi uring-uringan, dia selalu dihantui oleh wajah Jesika. Tak hanya itu, bahkan Alex tak bisa mendekati perempuan manapun. Statusnya masih menikah tetapi tidak memiliki istri. Jadi bukan sepenuhnya kesalahan oleh pihak kami saja!" papar Maruli, memberikam tatapan tajam dan sengit pada Bernard.


"Ah ... aku capek membahas ini terus-menerus, lebih baik putuskan saja pernikahan ini dan anggap saja tidak pernah terjadi pernikahan!" sela Maruli, akhirnya merasa pasrah pada situasi saat ini.


"Saya tidak setuju karena anak saya tidak tahu di mana keberadaannya!" sanggah Bernard.


"Sudahlah, lebih baik selesaikan baik-baik pernikahan anak kita karena mereka juga sudah tidak ada niatan untuk melanjutkan pernikahan ini. Biarkanlah Alex mencari wanita lain yang bisa mendampingi hidupnya selamanya!" sahut Ima, dengan nada yang lembut.


"Jangan begitulah, Eda! Di sini yang menjadi korban adalah anak kami bukan anak kalian. Jesika menghilang, tidak pernah diketahui sekarang asal usulnya!" sambar Irma, dengan ketus.


"Udahlah, jangan terlalu dipusingkan kalau Jesika ingin pulang pasti dia akan pulang!" balas Ima.


"Intinya sekarang kami meminta agar pihak keluarga kalian mengembalikan sinamot yang sudah kami serahkan sebagai prosesi adat untuk meminang Jesika karena perempuan itu memilih kabur. Oleh karena itu kami meminta agar sinamot itu diserahkan sehingga kami bisa menggunakannya untuk sinamot Alex bersama perempuan lain!" racau Maruli.


"Kalian sekeluarga benar-benar gila. Bagaimana mungkin uang yang sudah terpakai untuk acara itu malah kalian minta kembali, padahal kalian sendiri menikmati acara yang sudah dimeriahkan selama 3 hari berturut-turut!" sosor Bernard, menatap sinis besannya.


"Tidak ada yang gila, semuanya masih waras artinya kami ingin Alex bisa membangun bahtera rumah tangga dengan wanita lain yang wujudnya nyata!" serang Maruli.


"Bagaimana mungkin kalian bisa menikmati hidup dengan nyaman, apalagi Alex bisa bersama wanita lain," tampik Irma, semakin emosi mendengar perkataan besannya.


Kedua orang tua Jesika tidak setuju apabila pernikahan itu dibatalkan karena akan merugikan secara sepihak dari pihak keluarga mereka. Apalagi kini Jesika sudah memiliki anak gadis cantik yang mungil, status anak itu pun adalah keturunan Alex.


Saat ini, Bernard hanya ingin tahu keberadaan anaknya sehingga ia bisa menyusul dan melihat anaknya secara nyata dan terang-terangan. Meskipun mereka kerap saling menghubungi tapi Bernard belum merasa puas karena ia tidak melihat tampang Jesika secara langsung.


Bernard dan istrinya sangat merindukan putri satu-satunya yang mereka memiliki saat masuk diusia senjanya.


Kini, fisik Bernard tak sekuat dulu, ia semakin menua, tubuhnya mulai renta, apalagi berbagai penyakit dimasa tuanya membuatnya semakin dihantui rasa takut bahwa ia tak akan pernah ketemu dengan Jesika untuk selama-lamanya.


Bernard tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa karena dokter sudah memberikan vonis usianya hanya tinggal memiliki waktu beberapa tahun belakangan.


Lain hal dengan Irma, ia masih memiliki fisik yang kuat karena umurnya jauh lebih muda dibandingkan suaminya. Oleh sebab itu, walaupun usianya sudah cukup tua tapi ia masih bisa mengurus suaminya yang sudah mulai renta.


Rasa rindu Irma dan Bernard kini tak terbendung lagi. Sudah tak bisa dipungkiri kalau mereka ingin segera memeluk anaknya dalam dekapan.


Berkali-kali, Bernard meminta agar Jesika mengungkapkan keberadaannya tapi perempuan itu enggan menyampaikan kepada kedua orang tuanya bahkan tidak mau menemui mereka dengan alasan tak ingin bertemu lagi dengan keluarga Alex yang masih berada satu lingkungan dengan rumah mereka.


***


Jesika baru saja selesai mendampingi bosnya dari acara seminar. Siang itu, Jesika kembali mengingatkan agar Fay menghadiri kencan buta yang sudah disiapkan oleh orang tuanya.