
"Saya memang awet muda kok, Pak." Jesika malah ikut bercanda dan mereka berdua saling tertawa terbahak-bahak.
"Bisa saja, emang anaknya sudah usia berapa?" sahut supir semakin penasaran.
"Anak saya sudah paud, Pak usianya 4 tahun sekarang!" jawab Jesika dengan jelas, perempuan ini memang ramah pada siapa pun.
"Wah ... Mbak nggak kelihatan banget kalau sudah ibu-ibu," puji sang Supir, siapapun yang bertemu dengan Jesika pasti berpikiran sama dengan pria itu.
Jesika hanya tersenyum tipis saat lelaki paruh baya itu menatapnya melalui broadway mirror mobil. Ia sudah biasa mendapatkan kata-kata pujian karena bukan hanya seorang atau dua orang yang memuji kecantikan dan awet muda dirinya tapi entah sudah orang keberapa yang memujinya. Bahkan, Jesika rasanya sudah bosan mendapat pujian seperti itu.
"Jalan yang cepat, ya, Pak soalnya anak saya sudah menunggu dari tadi. Kasihan kalau kelamaan," pesan Jesika pada supir, meski ia masih fokus menatap layar ponsel.
Saat itu, Jesika masih berbalas pesan dengan Rini, ia mengabari bahwa dirinya sudah berhasil lolos dari CEO mereka dengan alasan yang klasik yakni merasa sakit sehingga tanpa pikir panjang pun sang bos langsung menyetujui permintaan Jesika.
^^^Jesika^^^
^^^Jangan khawatir, aku akan jemput anakku karena sudah berhasil lolos dari bos! Hehe^^^
Rini pun merasa lega setelah mendapat kabar dari sahabatnya. Ia juga membalas pesan dari Jesika.
Rini
Oke deh ... kalau gitu aku jadi nggak perlu khawatir soalnya aku nggak bisa keluar sama sekali karena sedang ada meeting. huhu ...
^^^Jesika^^^
^^^Iya, aman pokoknya! anakku pasti sampai di rumah. Selamat bekerja!! ^^^
Di rumah mereka, sebenarnya ada seorang pembantu yang memang menginap di sana untuk menjaga anaknya. Namun pembantu itu tidak diperbolehkan untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah, Jesika ingin terlibat langsung untuk mengurus anaknya.
Selain itu, karena waktu terasa semakin cepat berlalu, Jesika juga ingin melihat momen tumbuh kembang sang anak. Memerhatikan buah hatinya hingga anak tersebut tidak pernah merasa kesepian.
Jesika hanya meminta pada pembantu untuk menjaga anaknya selama di rumah, sampai ia pulang kerja.
"Sudah sampai, Mbak," ucap Sopir itu, berhasil membuyarkan lamunan Jesika.
Tak berselang lama, perempuan itu mengeluarkan lembaran merah untuk sang sopir dan mengatakan kembaliannya untuk sopir tersebut. Jesika keluar dari mobil tetapi dicegah oleh bapak paruh baya itu.
"Tunggu, Mbak kembaliannya!" teriak sopir terburu-buru, mengambil beberapa uang kertas recehan untuk kembalian Jesika.
Namun, Jesika menolak dengan sopan dan mengatakan bahwa itu untuk bapak sopir saja. "Nggak papa, Pak! Ambil saja, terima kasih sudah mengantarkan saya!" jawab Jesika, menunduk sekali untuknmenghormati bapak tua itu.
Sang sopir hanya tersenyum lalu ia mengangguk. Setelah Jesika menutup pintu mobil, pria paruh baya itu malah bergeleng-geleng kepala.
Selain memiliki paras yang cantik ternyata perempuan itu memiliki hati yang mulia, kok ada perempuan seperti itu, sudah cantik baik pula!
Sang supir larut dalam pikiran tengah memuji-muji Jesika. Kemudian, ia menancapkan gas dan pergi dari halaman sekolahan paud.
Jesika berlari-lari kecil menuju paud, ternyata anak dan guru paud sudah menunggu di depan batas ambang pintu. Melihat guru dan anak itu bergandengan tangan, Jesika langsung berlari dan meraih lengan anaknya.
"Maaf, ya, Bu saya agak terlambat soalnya tadi baru selesai acara seminar di luar kantor." Jesika berkali-kali menundukkan kepala sebagai permintaan maaf pada guru paud karena terpaksa waktunya harus tersita hanya untuk menunggu orang tua murid yang datang terlambat.
"Nggak papa kok, Bu kalau begitu saya pamit dulu, soalnya saya juga sudah jam pulang kerja," jawab guru paud dengan ramah.
Keduanya pun sama-sama pergi meninggalkan sekolahan. Namun, tiba-tiba anak Jesika malah protes pada sang mama.
"Mama, kok lama sih datangnya!" racau anak gadis itu mengomeli sang mama.
Anak itu tak suka bila mamanya selalu datang terlambat, sehingga dia merasa memang tak diperhatikan oleh orang tuanya. Bahkan, anaknya juga kerap cemburu pada anak-anak lain yang dijemput langsung oleh kedua orang tuanya, sementara ia hanya dijemput oleh sang mama seorang.
Anak Jesika memang kerap protes dan dia sangat rewel kalau ada yang tidak disukainya. Bahkan, dia juga langsung meluapkan isi hati agar sang mama mendengarkan suaranya.
"Maaf, sayang Mama tadi masih kerja," jawab Jesika dengan lembut sembari mengelus pucuk kepala anaknya.
"Awas, ya! Kalau telat lagi," kecam anak gadis mungil itu.
"Iya, sayang mama janji nggak telat lagi deh!" Akhirnya Jesika menunduk, lalu mencium kening putrinya dengan lembut.
Kali ini, Jesika mencari taksi untuk mengantarkan mereka ke rumah dan bisa kembali ke kantor. Namun hingga menunggu 10 menit, tidak ada satupun taksi yang lewat.
Jesika semakin gusar dan galau. Bahkan, ia akan terlambat menuju kantor apalagi jika kepergok oleh bosnya yang sudah selesai menghadiri kencan buta.
****
Fay baru saja turun dari mobil, dia berjalan gontai menuju restoran, menanyakan pada pelayan untuk reservasi restoran atas nama dirinya. Pagi-pagi, memang Jesika sudah melakukan reservasi untuk tempat pertemuan Fay dan perempuan yang dijodohkan.
Saat itu, Fay langsung diantarkan oleh seorang pelayan menuju tempat yang sudah di reservasi dan ternyata sudah terlihat seorang perempuan yang tengah duduk menunggu kehadirannya.
Perempuan dengan tinggi semampai dan rambut ikal memiliki kulit yang putih mulus serta memiliki body yang sangat elok membuat Fay sedikit bergeming. "Kalau dari jauh sekilas kelihatan cantik."
Namun, Fay belum memastikan dan melihat paras asli dari perempuan itu.
"Itu meja saya?" tanya Fay pada pelayan, kembali meyakinkan karena sudah ada satu orang perempuan yang duduk di sana.
"Iya, Pak itu meja yang sudah di reservasi," jawab pelayan dengan lugas.
"Terima kasih, biar saya ke sana sendiri saja!" Fay pergi berjalan meninggalkan pelayan dan menghampiri perempuan yang tengah melamun seorang diri.
"Ehem ... selamat siang," sapa Fay, seraya menyematkan senyum tipis di kedua sudut bibir, sepertinya ada peluang untuk Fay untuk melanjutkan perjodohan itu.
Sontak, perempuan itu langsung menoleh padanya, menatap dengan lekat. Sementara Fay, sibuk menganalisik wajah perempuan itu, memang sekilas tampak cantik namun terlihat seperti wajah yang judes seperti emak-emak batak pada umumnya.
"Waduh ... kalau kayak gini sih harus aku tolak lagi," batin Fay beralasan.
Perempuan itu langsung berjingkat dan menyambut kedatangan Fay, lalu mengulurkan tangan dengan senyum sumringah.
"Kenalin saya, Mutia yang dijodohkan dengan Bang Fay!" Perempuan itu mengulurkan tangan agar mereka saling berjabat tangan.
"Oh, ya, silakan duduk." Fay meraih uluran tangan tersebut, lalu keduanya duduk saling berhadapan.
Mutia memang terlihat cantik tapi ada satu kegagalan yang tidak disukai oleh Fay yaitu mukanya terlihat sangat arogan dan judes. Namun Fay belum mengetahui sikap Mutia sebenarnya. Ia juga berniat akan mencoba mengenal perempuan yang dijodohkan orangtuanya lebih dalam.
"Maaf, aku tidak tahu mengetahui apapun tentangmu karena ini memang dilakukan secara mendadak oleh Mamaku," celetuk Fay dengan sopan agar tidak menyakiti perempuan itu.
"Aku mengerti kok, Bang karena memang Namboru itu sudah mengatakan padaku kalau abang sangat sibuk bekerja dan tidak sempat berkenalan dengan wanita manapun," sahut Mutia.